Wajah Pendidikan Indonesia Di Tengah Pandemi Covid-19

Spread the love

(Sebuah Telaah tentang Proses Pembelajaran Di Tengah Pandemi Covid-19)

Oleh: Maria Stellany Strada Tasman
(Siswi SMA Swasta Pancasila Borong)

Dalam periode kedua pemerintahan Jokowi-Maruf Amin atau yang kita kenal dengan sebutan kabinet kerja telah mengusung tema “SDM Unggul Indonesia Maju”. Tema ini merupakan sebuah visi pemerintah dibawah kepemimpinan Jokowi-Maruf Amin, yang diusung untuk meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dengan mampu menghasilkan berbagai inovasi, yang berdaya saing dalam berbagai level.

Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, visi pemerintah ini perlahan-lahan direalisasikan dan terbukti melalui kebijakan “Merdeka Belajar” yang dicanangkan oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Kebijakan Nadiem Makarim ini merupakan sebuah langkah dalam upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

Namun beberapa bulan terakhir ini, tepatnya pada bulan januari yang lalu, dunia dilanda oleh pandemi Covid-19. Wabah ini, memporak-porandakan seluruh aspek kehidupan manusia dan salah satunya ialah bidang pendidikan. Situasi ini, hemat saya tidak memungkinkan seorang peserta didik atau seorang guru untuk melakukan proses belajar mengajar di sekolah. Apalagi data menunjukkan bahwa penyebaran virus ini semakin bertambah tiap hari sebagaimana dikutip dari media online merdeka.com pada hari Rabu, 19 Agustus 2020 mengungkapkan bahwa kasus positif covid-19 pada bulan agustus ini sudah mencapai 144.945. Dengan meningkatnya data kasus covid-19 maka kondisi ini dapat dipastikan berdampak juga pada sektor pendidikan.

Kondisi ini, bagi saya dan tentu bagi kita semua sangat memprihatinkan terutama bagi seluruh para peserta didik dan para guru. Saya sebagai salah satu peserta didik pada jenjang SMA sangat merasakan keterhambatan dalam proses pendidikan akibat wabah Covid-19 ini. Proses pembelajaran yang saya laksanakan bukan lagi di sekolah melainkan dari rumah secara online atau yang dikenal dengan home schoolling akibat dari penutupan sekolah. Hal ini dapat membuat kematangan saya sebagai peserta didik menjadi semakin rendah serta hak prerogatif pelajar saya dalam mendapatkan pendidikan yang layak pun menjadi terhenti.

Kenyataan di atas, hemat saya dapat mencedrai eksistensi pendidikan dan hakikat pendidikan negeri tercinta kita dimana sesungguhnya pendidikan merupakan usaha manusia melalui proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara jasmani maupun rohani atau sebagaimana diungkapkan oleh M. J Langeveld dengan mengutip Zaim Elmubarok bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Jadi, berdasarkan gambaran dari pendahuluan di atas maka saya berkeinginan untuk mengkaji lebih jauh melalui tulisan sederhana saya ini tentang seperti apa dunia pendidikan Indonesia di tengah pandemi Covid-19 dan apa upaya yang harus kita lakukan untuk merawat eksistensi pendidikan di negeri tercinta kita ini. Dan tulisan ini saya beri judul: “Wajah Pendidikan Indonesia Di Tengah Pandemi Covid-19 (Sebuah Telaah tentang Proses Pembelajaran Di Tengah Pandemi Covid-19)”.

Tulisan sederhana ini bukanlah sebuah kajian ilmiah tetapi sebuah kajian berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang peserta didik yang berasal dari pelosok Timur Indonesia yakni NTT, yang ikut terdampak akibat wabah Covid-19 tetapi saya bersama teman-teman tetap mengikuti proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 dengan taat mengikuti protokol kesehatan.

Potret Pendidikan Indonesia Di tengah Wabah Covid-19

Corono Virues Diseases atau yang disingkat dengan Covid-19, pertama kali ditemukan di Wuhan-Cina pada bulan Januari lalu. Hingga kini penyakit ini diketahui telah menyebar ke seluruh dunia dalam waktu yang relatif singkat. Data menunjukkan bahwa jumlah kasus Covid-19 per rabu, 19 Agustus 2020 mengungkapkan bahwa kasus positif Covid-19 pada bulan agustus ini sudah mencapai 144.945. Hal ini, bagi saya menunjukkan bahwa angka peningkatan jumlah Covid-19 semakin meningkat setiap harinya. (Kompas.com: Update Virus Corona Dunia Agustus 2020).

Berdasarkan data di atas, maka kita dituntut untuk selalu waspada dengan menjaga kesehatan dan kebersihan dalam diri kita masing-masing dan tetap waspada terhadap segala gejala yang terjadi pada tubuh kita, orang-orang yang berada di sekitar kita sehingga kita tidak terjangkit Covid-19 atau kita berupaya bersama untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus ini.
Selain itu, dengan mewabahnya kasus Covid-19, pemerintah Indonesia melalui Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengeluarkan beberapa aturan sebagai langkah preventif untuk memutuskan mata rantai penularan virus ini. Diantaranya ialah melakukan social distancing dan physical distancing. Aturan ini diperuntukan kepada semua elemen masyarakat.

Mengacu pada aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menindaklanjutinya dengan mengambil kebijakan untuk belajar dari rumah (home schooling) berbasis online. Kebijakan belajar dari rumah atau yang disebut home schooling berbasis online diberlakukan bagi peserta didik yang berada di zona merah. Sedangkan kebijakan belajar secara tatap muka diberlakukan bagi peserta didik yang berada di zona hijau atau daerah yang belum terjangkit Covid-19. Kedua kebijakan ini dibuat dan berlaku selama masa pandemi Covid 19.

Home Schooling

Bagi saya, home schooling merupakan kegiatan belajar mengajar berlangsung atau dijalankan dari rumah peserta didik selama masa pandemi Covid-19. Home schooling merupakan sebuah kebijakan pemerintah yang dilihat sebagai salah satu alternatif selama masa pandemi covid-19 sehingga kegiatan belajar mengajar tetap dijalankan atau disisi lain kebijakan ini merupakan sebuah upaya untuk mengefektifkan proses pembelajaran peserta didik selama masa pandemi Covid-19.

Dalam praktiknya, home schooling tentu saja jauh berbeda dengan kegiatan pembalajaran sebelum pandemi Covid-19 dimana kegiatan pembelajaran tatap muka secara langsung antara guru dan peserta didik terlaksana di sekolah. Home schooling lebih bergantung pada fasilitas teknologi sebagai media pendukung dalam pelaksanaannya.

Selain itu, home schooling menuntut guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi pelajaran sehingga pelajaran dapat diserap dan dipahami oleh peseta didik dengan baik. Penerapan proses pembelajaran home schooling selama masa pandemi Covid-19 pun menuntut kemampuan peseta didik dalam mengoperasikan alat-alat teknologi yang digunakan untuk mendukung kegiatan home schooling. Dengan kata lain, peserta didik harus memiliki skill yang mumpuni dalam mengunakan dan mengoperasikan alat teknologi untuk menunjang pembelajaran home schooling.

Namun dalam pelaksanaan pembelajaran home schooling, sejauh pengamatan saya, ada kendala lain dalam menerapkannya seperti terkendalanya ekonomi keluarga dari peserta didik dan jangkauan jaringan internet yang belum sepenuhnya masuk ke pelosok-pelosok daerah di Indonesia sebagaimana dikutip dalam Kompas.id (Senin, 13 Juli 2020) bahwa sebanyak 48.331 satuan pendidikan tidak memiliki akses listrik dan internet.

Data di atas hemat saya menunjukan bahwa home schooling belum sepenuhnya menjawab masalah pendidikan di Indonesia selama masa pandemi Covid-19. Namun kondisi ini tidak menutup kemungkinan bagi sekolah-sekolah tersebut untuk menggunakan alternatif lain supaya melaksanakan pembelajaran selama masa pandemi Covid-19. Di sinilah peran stakeholder pendidikan dibutuhkan agar kegiatan sekolah tetap berjalan. Hanya saja sangat diharapkan untuk tetap mengikuti protokol kesehatan sehingga tidak ada endemik baru lagi yang timbul sebagai dampak dari alternatif itu.

Sekolah Tatap Muka Selama Pandemi Covid-19

Sekolah tatap muka selama masa pandemi Covid-19, bagi saya, hingga kini masih menjadi perbincangan yang hangat di kalangan masyarakat. Lantaran belakangan ini mencuat isu tentang munculnya kasus Covid-19 klaster sekolah. Dikutip dari Jogjapolitan.com (Senin, 13/08/2020) bahwa sebanyak 14 siswa dan 8 guru di Kalimantan Barat dinyatakan positif Covid-19. Selain itu, kasus serupa juga terjadi di Padang. Seluruh siswa satu sekolah di Kota Pariaman, Sumatera Barat menjalankan tes swab setelah diketahui satu guru dan operator sekolah dinyatakan positif Covid-19, (Kompas.com, Senin, 20/07/2020).

Dari beberapa kasus di atas, untuk mensiasati situasi darurat pandemi Covid-19, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengeluarkan kebijakan untuk proses pembelajaran secara tatap muka bagi sekolah-sekolah yang berada pada daerah yang masuk kategori zona hijau. Namun, untuk mendukung kegiatan pembelajaran tatap muka, ada beberapa aturan yang mesti dijalankan dan dipatuh oleh seluruh warga sekolah.

Pertama, jumlah peserta didik dalam satu kelas dibatasi dan durasi waktu pelajaran juga dipersingkat. Untuk tingkat SD-SMP maksimal 18 peserta didik per kelas. Sedangkan untuk PAUD dan SLB maksimal 5 peserta didik per kelas. Selain itu, posisi duduk juga diatur dengan jarak minimal 1,5 meter dengan peserta didik lainnya. (Kompas.com, Senin 15 Juni 2020)

Kedua, pelaksanaan pembelajaran tatap muka hanya berlaku untuk daerah zona hijau. Sedangkan untuk daerah yang zona kuning, orange dan merah tidak diizinkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Artinya, sekolah yang bukan masuk kategori zona hijau dianjurkan untuk menggunakan metode lain agar kegiatan pembelajaran tetap berjalan di tengah pandemi Covid-19.

Ketiga, mengikuti protokol kesehatan. Diantaranya ialah menggunakan masker, mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan kegiatan pembelajaran, jaga jarak, menyemprot cairan disinfektan secara rutin dan memeriksa suhu tubuh sebelum masuk lingkungan sekolah. Adapun aturan khusus untuk sekolah yang menjalankan pembelajaran secara tatap muka yaitu peserta didik yang memiliki gejala klinis seperti batuk, flu dan demam tidak dizinkan masuk sekolah atau belajar di rumah hingga kondisinya pulih.

Keempat, menggunakan sistem pergiliran rombongan belajar (shift) untuk meminimalisasi jumlah siswa yang datang ke sekolah. Hal ini juga mendukung kebijakan terkait jumlah siswa per kelas pada sekolah tatap muka. Dengan membatasi jumlah peserta didik per kelas, para guru mudah mengontrol dan mengatur situasi di kelas.

Selain dari beberapa point di atas, hal yang tidak kalah penting lagi adalah membuat persetujuan dan atau kesepakatan tertulis antara orangtua siswa dan pihak sekolah. Hal ini dibuat untuk mengantisipasi berbagai kejanggalan dalam melaksanaan pembelajaran secara tatap muka. (CNN Indonesia, Senin, 10/08/2020).

Terlepas dari semua kebijakan yang dibuat demi kelancaran pembelajaran tatap muka, sejauh ini dalam penerapannya belum efektif. Pasalnya, setelah mengikuti kegiatan belajar di sekolah para peserta didik berkeliaran dimana-mana. Ini yang menjadi pekerjaan bersama dan mesti serius ditangani baik oleh pendidik maupun orangtua peserta didik. Lebih jauh, ketika semua kebijakan di atas dijalankan dengan baik, maka kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia kedepannya tetap terjamin kendati tengah berada di masa darurat Covid-19.

Dari dua metode pelajaran yang diterapkan selama masa pandemi Covid-19, baik itu home schooling yang berbasis online maupun pembelajaran tatap muka, bagi saya, keduanya masih memiliki kekurangan dan kelebihan. Kendati demikian, dalam situasi darurat ini kita dituntut untuk tetap merawat eksistensi pendidikan di negeri tercinta kita ini demi melahirkan generasi unggul untuk bangsa Indonesia. Pandemi covid-19 ini merupakan musuh kita bersama. Maka kita harus bersatu dengan senasib dan sepenanggung untuk memerangi wabah ini.

Menumbuhkan Sikap Empati dan Solidaritas sebagai Strategi dalam Upaya Merawat Eksistensi Pendidikan Di Tengah Pandemi Covid-19

Entah disadari atau tidak tetapi realitas dunia akhir-akhir ini, menjadi suatu hal yang tak dapat dipungkiri lagi dan kita mesti menerima kenyataan ini bahwa Covid-19 merupakan virus yang dapat menyerang siapa saja bahkan akhir-akhir ini juga jumlah korban semakin banyak, baik yang positif karena terinfeksi maupun yang meninggal dunia.

Penyebaran Covid-19 yang masif ini, tidak hanya mengancam kesehatan manusia tetapi juga berimbas pada seluruh aspek kehidupan manusia misalnya dibidang transportasi dimana penerapan social distancing untuk membatasi aktivitas di luar rumah membuat arus penumpang berkurang. Pada bidang pariwisata juga kena imbas. Jumlah wisatawan menurun drastis. Dan tempat-tempat wisata ditutup untuk umum. Di bidang keagamaan, kegiatan keagamaan di rumah ibadah ditiadakan. Umat diminta untuk berdoa di rumah.

Bidang pendidikan juga tidak luput dari ancaman Covid-19. Aktivitas pembelajaran di sekolah-sekolah di seluruh negeri ini dihentikan sesuai kebijakan yang tertuang dalam Surat Edaran Kemendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19). Kebijakan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa para peserta didik, guru dan seluruh warga sekolah tetap sehat baik secara lahir maupun batin. Semua proses pembelajaran dilakukan melalui daring atau sebagaimana tersirat dalam Surat Edaran Kemendikbud bahwa proses pembelajaran dilakukan dari rumah secara online.

Situasi di atas menggambarkan bahwa dunia pendidikan di negeri ini terlihat mengalami kelumpuhan atau dunia pendidikan menjadi terhambat ketika adanya pandemi Covid-19. Contohnya adalah ketika dibatalkannya Ujian Nasional pada semua tingkat satuan pendidikan. Selain itu, pembelajaran pun berlangsung secara daring, pelaksanaan kegiatan pendidikan seperti pendaftaran peserta didik baru dan rapat guru terlaksana melalui daring yang semula dilakukan secara langsung atau tatap muka.

Realitas di atas pun menjadi sesuatu yang tidak seperti biasanya bahkan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2020 yang lalu, Mendikbud, Nadiem Makarim dalam sambutannya mengungkapkan bahwa saat ini kita sedang berada dalam sebuah situasi krisis akibat Covid-19. Krisis di mana Covid-19 menghambat seluruh kegiatan pendidikan terutama proses pembelajaran di sekolah baik di seluruh negeri kita maupun seluruh dunia. Pernyataan Nadiem Makarim ini sebenarnya menyiratkan bahwa dengan adanya pandemi Covid-19 ini, eksistensi pendidikan di negeri kita menurun. Hal ini tentu terjadi karena semua proses pembelajaran dan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dilakukan harus serba online yang sampai saat ini masih terkendala.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, eksistensi pendidikan dinilai menurun, sebagaimana diungkapkan oleh Mohamad Ully Purwasatria, melalui tulisannya “Merawat Eksistensi Pendidikan Di Tengah Pandemi Covid-19” dalam media online AyoBandung.Com (2 Mei 2020) bahwa melandanya pandemi Covid-19 di Indonesia, dunia pendidikan terkena dampaknya dan salah satu dampak yang dialami ialah menurunnya eksistensi pendidikan. Pernyataan Mohamad Ully Purwasatri tersebut, diungkapkan karena ia melihat bahwa kegiatan pendidikan di masa pandemi Covid-19 terlaksana tidak seperti biasanya, mulai dari pembatalan Ujian Nasional pada semua tingkat satuan pendidikan, pembelajaran melalui daring, pelaksanaan kegiatan pendidikan seperti pendaftaran peserta didik baru, rapat guru pun melalui daring yang semula dilakukan secara langsung atau tatap muka.

Sistem pendidikan di tengah pandemi Covid-19 seperti diungkapkan di atas, sebenarnya merupakan sebuah kebijakan alternatif yang dilakukan pemerintah. Kebijakan ini dilakukan dengan intensi supaya proses pembelajaran tetap berlangsung sehingga merawat eksistensi pendidikan. Namun sistem pendidikan yang berbasis online ini tidak mudah. Hal ini, menuntut disiplin pribadi untuk belajar secara mandiri, fasilitas dan sumber daya yang mesti disediakan seperti menyediakan perangkat belajar yaitu ponsel dan laptop maupun pulsa untuk internet. Kemudian, sistem pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 yang berbasis online ini pun menimbulkan banyak keluhan dari orangtua peserta didik dan juga tenaga pendidik, baik dalam menyediakan perangkat belajar seperti ponsel dan laptop maupun pulsa untuk koneksi internet.

Berdahapan dengan situasi di atas atau disebut sebagai situasi krisis sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nediem Makarim dalam sambutannya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2020 yang lalu. Namun dalam situasi ini, kita perlu bekerja sama dalam upaya merawat eksistensi pedidikan di negeri kita.

Dalam upaya bekerja sama untuk merawat eksistensi pendidikan di negeri kita maka yang dibutuhkan ialah menumbuhkan sikap empati dan sikap solidaritas sehingga kita dapat melaksanakan seluruh aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan terutama melakukan proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 secara efektif dan efisien dengan tujuan menjaga marwah dan eksistensi pendidikan di tanah air tercinta kita ini. Lalu pertanyaannya ialah sikap empati dan sikap solidaritas seperti apa yang perlu kita tumbuhkan?

Pertama, menumbuhkan sikap empati. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nadiem Makarim dalam sambutannya pada peringatan Hari Pendidikan Nasioanal, yang terjadi pada 2 Mei 2020 lalu, sebagaimana dikutip oleh Rahmad Fauzan dalam Bisnis.com (2/5/2020) mengatakan bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini, kita mesti menaruh sikap empati misalnya para orang tua peserta harus menyadari betapa sulitnya tugas guru untuk mengajar murid-murid di sekolah. Maka para orang tua peserta didik harus memiliki sikap empati kepada para guru terkait dengan tugas-tugasnya.

Pernyataan Nadiem di atas, sebenarnya secara jelas mau menyampaikan bahwa dalam proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 ini, orangtua peserta didik harus menyadari dan turut merasakan peran guru dalam membimbing peserta didik. Artinya, bukan para guru saja yang bisa memberikan bimbingan kepada peserta didik tetapi orang tua peserta didik pun ikut berperan dengan mengambil alih profesi guru untuk membimbing anak-anak seperti menjelaskan kembali materi yang disampaikan oleh guru, yang mungkin belum tersampaikan dengan baik.
Dengan demikian, maka akan tercipta suatu sistem pendidikan yang efektif dan bermanfaat karena orang tua peserta didik dan para guru turut bekerja sama untuk membimbing peserta didik dalam situasi pandemi Covid-19 atau sebagaiamana diungkapkan oleh Nadiem sebagai situasi krisis.

Kedua, menumbuhkan sikap solidaritas. Heri Cs dalam tulisan yang berjudul “Meningkatkan Kekuatan Solidaritas Melawan Covid-19” yang dipublikasikan oleh media online Idola.com (24/03/2020) mengungkapkan bahwa sikap solidaritas adalah sikap yang mengekspresikan perasaan senasib, sepenanggungan yang memintal benang persatuan dan kesatuan untuk perang pelawan Covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa sikap solidaritas merupakan harta yang bisa menjadi senjata dalam berperang melawan Covid-19.

Dalam sektor pendidikan terutama dalam pelaksanaan proses pembelajaran secara online, sikap solidaritas sebagaimana diungkapkan oleh Heri Cs di atas mesti tertanam dalam diri pemerintah, para guru, orang tua peserta didik dan peserta didik. Semua pihak ini harus menyadari bahwa wabah Covid-19 ini merupakan bencana bersama. Maka semua pihak yang disebutkan di atas harus memintal benang persatuan dan kesatuan sehingga pelaksanaan pembelajaran secara online dapat terlaksana secara efektif.

Dalam Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid- 19, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini mengambil kebijakan dimana semua sistem pembelajaran tatap muka diganti dengan sistem belajar dari rumah secara online. Kebijakan ini sebenarnya bukan berhenti pada anggapan bahwa ada perubahan sistem pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran online tetapi kebijakan ini merupakan suatu bentuk solidaritas sosial dimana seseorang berusaha untuk menyelamatkan yang lain di tengah situasi krisis.

Sedangkan para guru, orang tua dan peserta didik mesti bersatu dengan berkerja sama untuk menumbuhkan sistem pendidikan yang efektif dan bermanfaat seperti orang tua memberikan dukungan berupa memotivasi anak-anak agar giat dan tekun dalam belajar serta orang tua ikut berperan mengambil alih profesi guru untuk memberi bimbingan dengan menjelaskan kembali materi yang disampaikan oleh guru, yang mungkin belum tersampaikan dengan baik atau materi yang disampaikan oleh guru belum dipahami secara baik oleh peserta didik. Hal di ini menunjukkan adanya kerja sama yang baik, yang diyakini akan menumbuhkan suatu sistem pendidikan yang efektif dan berdaya guna di tengah situasi krisis ini. Atau sebagaimana diungkapkan oleh Nadiem bahwa tanpa kolaborasi antara guru, orang tua dan peserta didik maka pendidikan terutama proses pembelajaran yang efektif tidak mungkin terjadi.

Dengan demikian, dapat saya simpulkan bahwa Covid-19 memunculkan suatu krisis besar yang mengkwatirkan berbagai pihak termasuk pihak-pihak yang terkecimpung dalam dunia pendidikan seperti pemerintah, para guru, orang tua dan para peserta didik. Namun dalam situasi ini hendaknya kita menumbuhkan sikap empati dan sikap solidaritas yang tinggi dengan perasaan senasib dan sepenanggungan untuk bekerja sama sehingga kita mampu menciptakan inovasi dan keterampilan yang baru demi menjaga marwah dan eksistensi pedidikan di negeri tercinta ini menjadi bermutu dan berkualitas.

Selama masa pandemi Covid-19 menyebar ke seluruh dunia, seluruh aktivitas manusia dari berbagai aspek kehidupan ikut terhambat. Kondisi ini sangat saya rasakan khususnya di negeri kita tercinta ini. Seluruh aktivitas masyarakat Indonesia terlihat lumpuh dalam berbagai aspek kehidupan. Saya sebagai seorang pelajar SMA sangat merasakan dampak dari wabah Covid-19 ini. Artinya, pada bidang pendidikan pun ikut lumpuh terutama terhambatnya askes dalam proses pembelajaran di sekolah.

Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, saya sebagai peserta didik merasakan keterhambatan dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Hal ini membuat kematangan saya sebagai peserta didik menjadi semakin rendah serta hak prerogatif pelajar dalam mendapatkan pendidikan yang layak pun menjadi terhenti. Bukan hanya saya sebagai peserta didik sendiri merasakan kendala ini tetapi sebuah pihak yang berkecampung dalam bidang pendidikan pun ikut merasakan keterhambatan akibat wabah Covid-19 ini.

Melihat realitas di atas maka pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengambil kebijakan sebagaimana tercantum dalam Surat Edaran Kemendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19) dimana seluruh proses pembelajaran dilakukan melalui daring akibat penutupan sekolah khususnya bagi sekolah yang letaknya berada di daerah zona merah.

Hal di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran dilaksanakan bukan lagi di sekolah melainkan dari rumah secara online, yang dikenal dengan sebutan home schoolling. Kebijakan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa para peserta didik, para guru dan seluruh warga sekolah tetap sehat baik secara lahir maupun batin. Selain itu juga kebijakan ini dilihat sebagai upaya untuk tetap menjaga keefektifan dalam proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19. Sedangkan bagi peserta didik yang berada di daerah zona hijau diizinkan untuk tetap ikut proses pembelajaran secara tatap muka di sekolah tetapi tetap mengikuti protokol kesehatan.

Berdasarkan realitas di atas, saya secara pribadi sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Nadiem Makarim bahwa kita sedang berada dalam situasi krisis. Situasi krisis ini tentunya berdampak pada dunia pendidikan. Dimana proses pembelajaran menjadi terhambat dan akhibatnya dapat menurunkan eksistensi pendidikan di negeri kita tercinta.

Oleh karena itu, saya mengajak seluruh pihak yang berkecampung dalam dunia pendidikan untuk merajut semangat persatuan dan kebersamaan sebagai bangsa Indonesia dengan menumbuhkan sikap empati dan sikap solidaritas. Sikap ini menjadi kekuatan bagi kita untuk mewujudkan visi pemeritah yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Indonesia yakni “Merdeka Belajar”.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *