Dinamika Bahasa Indonesia di Tengah Covid-19

Spread the love

Foto: dok pribadi

Oleh: Emanuel Ervano Bei Meo

Pandemi Corona virus disease (Covid-19) yang tengah melanda dunia saat ini merupakan sebuah fenomena yang tidak hanya melahirkan pelbagai wacana berkaitan dengan pandemi tetapi juga mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan manusia. Selain dalam dunia medis, pandemi ini juga berdampak dalam bidang linguistik. Banyak term baru yang muncul dan kata-kata yang kemudian menjadi akbar saat pandemi ini berlangsung. Kata-kata seperti social distancing, lockdown, physical distancing, local transmission, rapid test, suspect, imported case, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), pandemi, endemi, endemis, endemik, jaga jarak, orang tanpa gejala (OTG), kejadian luar biasa (KLB), alat pelindung diri (APD), karantina, isolasi, dan epidemi adalah sejumlah term seputar Covid-19 yang lazim dipakai dalam kehidupan masyarakat luas. Dengan kata lain, term-term baru yang terbentuk tersebut merupakan input bahasa bagi masyarakat dan pemakaian diksi atau kata baru dilatarbelakangi oleh pandemi Covid-19 yang menjadi kesepakatan konvensional bersama.
Ditinjau dari perspektif linguistik, kehadiran term-term baru tersebut menunjuk pada salah satu sifat bahasa, yakni sifat kedinamisan bahasa. Yohanes Orong dalam bukunya yang berjudul Bahasa Indonesia Identitas Kita (Yohanes Orong, 9/2017) menyebutkan bahwa bahasa selalu berubah dan berkembang. Perubahan dan perkembangan bahasa tersebut dapat terjadi baik pada tataran fonologis, morfologis, sintaksis dan semantik dalam linguistik. Kata-kata baru tersebut muncul sebagai sebuah ekspresi masyarakat atas sebuah kejadian. Dengan kata lain, akbarnya suatu kata bergantung pada konteks kehidupan yang sedang berlangsung dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V), fonologi dipahami sebagai bidang linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Morfologi sebagai cabang linguistik yang mempelajari tentang bentuk kata. Sintaksis berhubungan dengan pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar. Sedangkan semantik adalah ilmu tentang makna kata dan kalimat; seluk beluk dan pergeseran arti kata.
Keempat tataran bahasa tersebut sangat penting untuk diperhatikan mengingat eksistensi manusia sebagai makhluk yang berakal budi juga sebagai makhluk sosial yang mampu berinteraksi satu sama lain. Dengan kemampuan rasio manusia, manusia menciptakan bahasa agar dapat bersosialisasi dan berkomunikasi antara satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan hal yang mutlak diperlukan manusia dalam kehidupan.
Dalam linguistik, kemampuan manusia yang melibatkan rasio dan mental dalam memproduksi dan memahami bahasa dengan membangun interpretasi tentang suatu bunyi disebut dengan psikolinguistik. Foos sebagaimana dikutip Herman J. Waluyo mendefinisikan psikolinguistik sebagai ilmu yang menelaah tentang apa yang diperoleh seseorang, jika mereka melaksanakan proses perolehan bahasa (language acquisition); cara seseorang memperoleh bahasa (producing language and speech); cara seseorang menggunakan bahasa dalam proses mengingat dari memahami bahasa itu (comprehension and memory,(Herman J. Waluyo, 1/2006). Dalam konteks kedinamisan bahasa, muncul dan berkembangnya pelbagai term berkaitan dengan COVID-19 ini merupakan hasil penalaran rasio dalam membahasakan sebuah peristiwa. Dengan munculnya term-term baru tersebut, masyarakat dapat dengan mudah memahami dan mengetahui setiap peristiwa yang dibahasakan dengan term-term tersebut. Inilah salah satu fungsi sifat kedinamisan bahasa. Sifat kedinamisan bahasa membantu masyarakat dalam membahasakan suatu hal dalam bersosialisasi dan berinteraksi dalam kehidupan bersama. Karena itu, keabsahan term-term baru yang digunakan harus berdasar pada keempat tataran linguistik, fonologis (fungsi bahasa), morfologis (bentuk), sintaksis (tata kalimat) dan semantik (makna kalimat). Berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat, kehadiran term-term tersebut membantu masyarakat dalam menyikapi sebuah peristiwa. Hal ini secara tidak langsung mengafirmasi kehadiran term-term baru tersebut berhubungan dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sosial masyarakat. Bahasa berfungsi sebagai sarana untuk menyalurkan informasi-informasi penting yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat atau dalam bahasa linguistik disebut dengan sosiolinguistik. Chaer dan Agustina dalam bukunya yang berjudul Sosiolinguistik Perkenalan Awal mendefinisikan sosiolinguistik sebagai kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi variasi bahasa, dan penggunaan bahasa karena ketiga unsur ini berinteraksi dan saling mengubah sama lain dalam satu masyarakat tutur, identitas sosial dari penutur, lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi serta tingkatan variasi dan ragam linguistik. Variasi bahasa yang dimaksud merujuk pada kemunculan term-term baru dan pemilihan kata yang mengikuti tataran linguistik dalam menyampaikan suatu informasi berkaitan dengan situasi dalam kehidupan masyarakat.

Variasi bahasa juga mengisyaratkan sifat kedinamisan bahasa. Agar maksud dari sebuah informasi dapat tersampaikan dengan baik, penggunaan bahasa harus disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat sehingga masyarakat dapat dengan mudah mencerna dan memahami informasi yang disajikan atau disampaikan. Karena itu, keabsahan term yang digunakan harus mengikuti kaidah berbahasa yang baik dan benar. Ivan Lanin, seorang direktur narabahasa dan penulis buku Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris dalam sebuah diskusi online mengatakan jika dilihat dari aturan Pedoman Umum Bahasa Indonesia (PUEBI), term-term yang kerap dipakai baik oleh institusi maupun kalangan masyarakat dalam situasi pandemi saat ini tidak sepenuhnya mengikuti kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam padanan kata, pelafalan kata maupun serapan kata,(https://youtbs.id/aparaturmuda. Diakses pada 25/05/20).

Contohnya penggunaan bahasa asing lockdown yang kerap digunakan masyarakat. Dalam UU Nomor 6 tahun 2018 dinyatakan istilah karantina wilayah yang definisinya sama persis dengan lockdown. Demikian juga social distancing juga telah dijelaskan dalam UU Nomor 6 tahun 2018 tentang pembatasan sosial. Hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah sebelum seseorang mengumumkan sebuah istilah baru, hal yang paling pertama dilakukan ialah melihat kembali regulasi yang pernah diterbitkan. Contoh lain ialah akronim kuncitara (kunci sementara). Akronim tersebut tidak memiliki padanan resmi dari pemerintah. Karena itu, berdasarkan kaidah berbahasa yang baku dan benar, istilah kuncitara yang kerap digunakan masyarakat dinilai kurang tepat (tidak absah).Dilihat dari kedua contoh tersebut, dapat dikatakan bahwa penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat dinilai sering salah kaprah dalam menyalurkan ragam informasi seputar covid-19. Term-term seputar covid-19 yang kerap digunakan masyarakat dapat kita pahami sebagai bagian dari produktivitas bahasa yang bersifat dinamis yang terus berkembang dan mengalami perubahan dalam kehidupan manusia. Namun, produktivitas bahasa tersebut perlu dikontrol agar tindak salah kaprah dalam penggunaan bahasa tidak melebar dan dapat diatasi.
Berkaitan dengan hal ini, salah satu tindakan yang dapat dilakukan agar tindak salah kaprah dalam penggunaan bahasa Indonesia dapat diredam adalah dengan melakukan mobilisasi sosial berkaitan dengan penggunaan term-term seputar covid-19. Seperti yang dikatakan Kaelan sebagaimana dikutip Yohanes orong, bahasa pada manusia melibatkan proses berpikir dan dengan kesadaran penuh melahirkan sistem tanda yang kemudian diekspresikan melalui bunyi serta ekspresi tertentu. Kemampuan berbahasa pada manusia tidak dibawa secara naluriah sejak lahir, melainkan diperoleh melalui proses belajar dan melalui interaksi sosial. Dengan kemampuan akal budi (rasio) dan kemampuan bersosialisasi yang ada dalam diri manusia, manusia mampu untuk memobilisasi diri dalam membenahi masalah penggunaan bahasa yang kerap terjadi. Jika informasi-informasi seputar covid-19 dapat disampaikan dengan menggunakan bahasa yang baik dan mengikuti sifat kedinamisan bahasa dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksis dan semantik, maka tindak lanjut yang dilakukan dalam menyikapi informasi tersebut juga dapat terlaksana dengan baik.

*Mahasiswa Semester 3 STFK Ledalero, Tinggal di Seminari tinggi St.Carlos (Scalabrinian) Maumere.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *