Merangkai Kbhinekaan dalam Konsep Hospitalitas

Spread the love

Foto: Dok pribadi

Oleh: Stefan Bandar

Perkembangan situasi dunia akhir-akhir ini menghadirkan dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia. Pencapaian rasionalitas dalam ilmu alam serta penemuan dalam bidang sains membawa manusia pada masa instant, sebuah masa di mana manusia tidak lagi memerlukan tenaga fisiknya dalam porsi yang banyak untuk melakukan pekerjaan, masa di mana manusia mampu menghadirkan dunia luar dalam sebuah layar TV, masa di mana manusia dapat mengetahui apa yang akan terjadi hari esok. Pada saat ini, manusia masuk dalam komunitas generasi Z, generasi yang missunderstand tentang batasan yang asli dan palsu, yang maya dan fakta, bahkan batasan tentang yang benar dan salah. Kenyataan yang asli diubah menjadi palsu sedangkan yang palsu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dianggap asli. Pluralitas tidak lagi menjadi ladang kekayaan bangsa tetapi dijadikan ruang yang memungkinkan munculnya konflik dan masalah sosial.
Ketegangan yang cukup intens hari-hari belakangan ini terjadi dalam dua unsur fundamental dalam kehidupan manusia yakni antara agama dan politik. Agama memainkan perannya sebagai instrumen yang membawa manusia pada ketenangan batin melalui pengamalan iman dan kepercayaan, sedangkan politik memainkan perannya sebagai instrumen yang dapat menghadirkan kesejahteraan batin melalui kebijakan yang disahkan dalam hukum publik. Namun pergeseran paradigma tentang fungsi agama dan politik semakin menjadi-jadi setelah urusan privat dan publik manusia diintervensi oleh otoritas kepentingan tertentu. Agama menjadi ‘petak’ bertaburnya urusan politik politisi dalam wajah karya amal, sedangkan ruang politik menjadi ladang pertempuran kepentingan melalui kebijakan yang bercitarasa kemanusiaan namun nyatanya hanyalah untuk memenuhi hasrat politik.

Tantangan yang paling besar dihadapi bangsa Indonesia sebagai bangsa multikultural adalah ketika keberagaman agama dikonfrontasikan dengan legitimasi otoritas pemimpin bangsa dalam menentukan kebijakan publik dan ketika suatu doktrin agama tertentu dipaksa menjadi hukum umum. Keberagaman agama digunakan sebagai instrumen dalam menggalang perhatian publik, di mana tujuan politik dilabur dengan karya amal kemudian dimodifikasi sedemikian rupa sehingga aspirasi politik yang dimaksud dapat tersampaikan kepada masyarakat. Keberagaman agama juga menjadi ukuran penetapan kebijakan publik, di mana peraturan publik bukan lagi berdasarkan rasionalitas komunikatif tetapi berdasarkan realitas mayoritas dan minoritas. Realisasi kepentingan agama mayoritas tentunya memiliki porsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan agama minoritas sebab kedudukuan seorang politisi dalam ruang pemerintahan ditentukan oleh seberapa banyak masyarakat yang mendukungnya.
Di lain pihak, muncul pulah hari-hari belakangan ini barbarnisme yang dilatarbelakangi oleh fundamentalisme dan radikalisme. Kaum fundamentalis dan radikalis menjadi momok yang mengancam kebhinekaan yang dirajut dari pluralitas yang ada dalam diri bangsa Indonesia. Kaum fundamentalis memaksa doktrinnya menjadi kebijakan umum dengan pandangan bahwa kebenaran yang absolut ada dalam ideologi yang mereka anut, sedangkan kaum radikalis menginginkan perubahan atau pembaruan dalam diri bangsa Indonesia. Kaum radikalisme seringkali menempuh jalan yang cukup ekstrim dalam mewujudkan idenya itu yakni melalui jalan kekerasan.

Kedua persoalan ini sekira-kiranya menjadi pertanda bahwa bangsa Indonesia sebenarnya belum seutuhnya merdeka. Bangsa Indonesia masih dibelenggu oleh rantai penjajahan. Namun bedanya adalah penjajahan sebelum proklamasi kemerdekaan datang dari luar bangsa Indonesia sedangkan penjajahan setelah proklamasi kemerdekaan hingga sekarang ini berasal dari dalam diri bangsa Indonesia. Jika ditinjau lebih jauh, salah satu akar masalah yang terjadi adalah kurangnya pemahaman tentang kebhinekaan sebagai kekayaan bangsa. Keberagaman tidak dijadikan sebagai kekayaan bangsa tetapi dilihat sebagai ancaman eksistensi satu terhadap yang lainnya. Pelayanan-pelayanan publik hanya berkisar pada kaum mayoritas sedangkan kepentingan kaum minoritas seringkali diabaikan. Hal ini seringkali menjadi penyebab menguaknya isu SARA yang terjadi belakangan ini yang seringkali berujung pada kekerasan bahkan pembunuhan.
Persoalan ini sekiranya menimbulkan pertanyaan, apakah esensi dan eksistensi keanekaragaman di dalam bangsa Indonesia menjadi sumber kekayaan bangsa atau menjadi alasan lahirnya persoalan bangsa? Apakah bentuk kebijakan yang tepat yang dapat digunakan dalam ruang publik sebagai wadah yang mampu merawat kebhinekaan? Apakah konsep yang tepat yang dapat dipegang seluruh masyarakat untuk menjaga pluralitas bangsa Indonesia? Jawaban yang tepat diberikan untuk menjawabi pertanyaan-pertanyaan ini adalah dalam dan melalui “Hospitalitas”.

Hospitalitas secara singkat dapat dimengerti sebagai bentuk penerimaan terhadap seseorang dengan segala keunikan yang ada di dalam dirinya. Setiap manusia memiliki perbedaan-perbedaan antara satu dengan lainnya, baik itu perbedaan bentuk fisik, perbedaan kepercayaan, perbedaan ideologi maupun perbedaan lainnya. Keunikan dalam diri seseorang dilihat sebagai sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya, menyatu dan melekat dengan kemanusiaannya. Hospitalitas merupakan sebuah konsep yang melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang normal dalam diri seseorang. Dalam hospitalitas, perbedaan itu bukan menjadi suatu hal yang dapat mengancam eksistensi seseorang tetapi dilihat sebagai sumber kekuatan bangsa. Dengan demikian, hospitalitas dapat dijadikan sebagai wadah yang merawat kebhinekaan serta mendekatkan kemerdekaan yang dicita-citakan kepada bangsa Indonesia.

Hospitalitas dalam agama

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki keberagaman agama. Agama-agama itu antara lain Islam, Hindu, Budah, Khatolik, Protestan, serta beberapa bentuk kepercayaan lainnya. Semua agama memiliki unsur-unsur yang berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap agama memiliki cara tersendiri dalam pengungkapan iman, kitab dan rumah ibadah yang berbeda serta beberapa perbedaan lainnya. Meskipun memiliki perbedaan, namun secara umum diyakini bahwa semua agama memiliki tujuan yang sama yaitu membawa manusia menuju kebahagiaan kekal bersama Allah di dalam kerajaanNya.

Di dalam diri bangsa Indonesia, perbedaan-perbedaan unsur dalam agama seringkali menjadi titik tolak munculnya fundamentalisme agama yang marak terjadi hari-hari belakangan ini. Ironisnya, kaum fundamentalis itu kebanyakan datang dari pemuka agama tertentu, orang-orang yang memiliki pengetahuan yang banyak tentang agama, atau orang-orang yang sangat dihormati dalam kehidupan sosial. Mereka ingin menghilangkan unsur-unsur yang berbeda dalam seluruh agama dan mengantikannya dengan kepercayaan yang mereka miliki. Mereka ingin menjadikan seluruh masyarakat berada di bawah payung ideologi yang mereka anut. Konsekuensi dari hal ini adalah masyarakat harus menanggalkan identitasnya. Kenyataan ini menunjukan bahwa realisasi konsep hospitalitas dalam agama sangat dibutuhkan. Bentuk hospitalitas dalam agama terwujud dalam bentuk penghargaan atau sikap toleransi terhadap umat yang beragama lain. Bentuk lain yang patut diperhitungkan adalah dialog-dialog lintas agama yang diusahakan oleh beberepa kelompok tertentu. Hospitalitas dalam agama dapat dilihat sebagai salah satu jalan yang berujung pada perawatan kebhinekaan dalam diri bangsa Indonesia.

Hospitalitas dalam ruang politik

Realitas di Indonesia menunjukan politik yang sering menciptakan kekerasan baik dalam bentuk personal maupun masal. Manusia seringkali mengobjekan sesamanya demi kepentingan tertentu. Kekerasan seringkali digunakan untuk melanggengkan pencapaian sebuah maksud atau tujuan politik meskipun tujuan itu mengeliminasi kelompok-kelompok tertentu dari pelayanan publik. Hasrat politik seringkali disisipkan dalam urusan agama melalui tindakan amal. Bantuan sosial seringkali menjadi ladang untuk mendulang dukungan masyarakat umum. Dalam hal ini, masyarakat minoritas dan masyarakat mayoritas menjadi nilai tersendiri sebab suara yang banyak datang dari pemilih yang banyak dan pemilih yang banyak tentunya datang dari masyarakat mayoritas yang memiliki kesamaan back ground.

Kenyataan ini menunjukan bahwa konsep hospitalitas sangat dibutuhkan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kekerasan politik yang dilegalkan para politisi dengan menggunakan tameng otoritas kepemimpinan telah membawa kesenjangan dalam kehidupan masyarakat, serentak mencederai perpolitikan di negeri ini. Pembangunan bukan lagi berlandaskan rasional komunikatif tetapi berlandaskan rasional instrumental di mana kepentingan masyarakat hanya menjadi tameng dalam mencapai hasrat politik. Kebijakan bukan lagi berdasarkan kesepakatan bersama seluruh warga negara tetapi berdasarkan keputusan dan kepentingan pribadi tertentu.
Hospitalitas menjadi salah satu konsep yang mampu mengembalikan politik pada esensi dasarnya yakni pembicaraan bersama untuk kepentingan bersama. Hospitalisasi dapat menjadi konsep yang harus dipegang oleh pengampu kebijakan dalam menentukan kebijakan umum. Dengan demikian, hospitalitas dalam ranah politik dapat meminimalisasikan masalah kesenjangan antara masyarakat khususnya pelayanan publik atas kaum mayoritas dan minoritas. Dengan demikian, hospitalitas dalam ruang politik dapat menjadi salah satu jalan yang ampuh untuk menjaga kebhineaan dalam diri bangsa Indonesia.

*Mahasiswa semester 7 STFK Ledalero

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *