Krisis Iman dalam Kehidupan Beragama Modern

Spread the love

Foto: dok pribadi

Oleh: Emilianus Indra Parera

Dunia kita sedang bergerak menuju kesatuan yang global. Proses globalisasi ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat serta arus komunikasi dan informasi yang begitu lancar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengisi ruang dan waktu dan tanpa disadari eksistensinya telah merangsang manusia untuk terus membuka diri terhadap dinamika global yang berkembang begitu signifikan.

Dalam konteks globalisasi kita bertemu dengan gejala sekularisasi. Timbulnya sekularisasi salah satunya adalah perkembangan ilmu pengetahuan (IPTEK) yang makin hari makin canggih. Karena itu tidak dimungkiri bahwasanya pasti ada usaha untuk melepaskan diri dari iman dan agama. Berbicara tentang iman dan agama berarti kita berbicara tentang keberadaan manusia.

Manusia adalah makhluk dinamis. Dalam dirinya ada dorongan untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk hidup dalam kehidupannya. Tujuannya agar dia dapat bertahan hidup dan membangun dunia tempat hidupnya. Untuk maksud dan tujuan tersebut manusia menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya demi mencapai apa yang dia inginkan.
Pengembangan diri dan kepribadian manusia ini merupakan ungkapan dari kemampuan yang berkembang sekaligus aktualisasi dari kebebasan yang dimilikinya. Manusia berupaya untuk hidup utuh, bebas dan otonom. Karena kebebasannya manusia mengarahkan hidupnya tanpa bergantung sepenuhnya baik pada orang lain maupun pada agama.

Keterbukaan yang berlebihan dan kehilangan kontrol (lose control) manusia pada dunia berujung pada krisis iman dan bahkan melupakan agama sekalipun, yang pada dasarnya agama merupakan ungkapan pengalaman manusia yang paling mendasar akan adanya sesuatu Wujud tertinggi atau sesuatu yang mutlak yang melampaui manusia. Orang beragama menyebutkan wujud tertinggi itu adalah Allah atau Tuhan. Agama juga merupakan suatu pandangan dan cara hidup. Di sini agama menampilkan dirinya sebagai sarana yang menjalin keteraturan hidup manusia. Dalam agama terdapat berbagai norma-norma.

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) turut berpengaruh pada pemahaman dan pandangan manusia tentang dirinya, dunia, dan Tuhan. Masalah ini menimbulkan sebuah pertanyaan, mengapa hal ini bisa terjadi? Sebelum ilmu pengetahuan berkembang agamalah yang mengajarkan siapa itu manusia, dari mana manusia dan dunia berasal. Singkatnya agama memberi pengetahuan dan pemahaman bahwa manusia dan dunia diciptakan oleh Yang Maha Tinggi (Tuhan/Allah). Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat signifikan menyebabkan terjadinya pergeseran. Segala sesuatu dijelaskan melalu ilmu pengetahuan.

Perubahan tersebut diawali dengan pelbagai temuan oleh para ahli. Salah satu di antaranya Charles Darwin yang dikenal dengan teori evolusi. Teori ini juga bisa dibilang sangat ekstrem karena bertentangan dengan ajaran agama. Terori evolusinya membuktikan bahwa manusia tidak diciptakan oleh Allah tetapi berkembang dalam suatu evolusi berdasarkan prinsip seleksi alam. Teori ini juga menegaskan bahwa eksistensi manusia merupakan hasil evolusi dari kera.

Keberadaan dan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) membawa pengaruh besar pada hidup manusia. Manusia menjadi sadar bahwa kebenaran dirinya dan dunia harus dicari sendiri tanpa harus percaya begitu saja pada pandangan dan ajaran agama. Manusia juga menjadi lebih otonom dalam mengatur hidupnya sendiri. Tanpa disadari perlahan-lahan manusia melepaskan pengaruh dan kendali agama.
Hal ini sudah jelas bahwa manusia dan dunia sudah masuk dalam arus sekularisasi. Sekularisasi adalah suatu proses di mana berbagai bidang kehidupan melepaskan diri dari dominasi dan pengaruh agama dan menjadi lebih otonom. Fenomena ini jelas terlihat adanya pergeseran paradigma pandangan seperti terungkap di atas. Dapat dikatakan agama perlahan-lahan kehilangan relevansi dan eksistensinya bagi kehidupan pada umumnya. Bahkan lebih ekstrem lagi manusia menyangkal adanya Tuhan. Karena itu, tidak berlebihan saya katakan bahwa sekularisme adalah badai dalam kehidupan beragama.

Terkait masalah di atas penulis dengan ekstrem mengatakan bahwa manusia modern tengah mengalami krisis iman dalam kehidupan beragama. Mengapa demikian? Hal ini terlihat dan terukir nyata dari pergeseran pandangan manusia dari paradigma agama menuju ilmu pengetahuan. Ini berarti adanya peralihan dari pandangan teosentrisme (Allah sebagai pusat hidup manusia dan dunia) kepada antroposentrisme (manusia sebagai pusat segala- galanya). Menurut saya, Manusia ingin menjunjung tinggi akal Budi sebagai yang tertinggi dan mengubur martabat iman dalam dirinya. Hal ini sangat memprihatinkan. Jika hal ini terus melanda kehidupan manusia kemungkinan besar manusia akan buta selamanya. Buta akan iman.

Kita sebagai manusia modern pada dasarnya tidak bisa lari realitas dunia ini atau menolak semua perkembangan yang sudah telah dicapai umat manusia tetapi kita sebagai manusia modern juga harus sadar dan sambil berusaha untuk mencari makna dibalik semuanya itu. Artinya kita manusia modern menerima kenyataan dunia ini tanpa mengesampingkan agama apalagi bersikap tidak peduli dengan Allah. Gagasan ini diperkuat oleh Albert Einstein yang mengatakan agama tanpa sains adalah lumpuh dan sebaliknya sains tanpa agama adalah buta.

Penulis mengajak kita manusia modern yang mendalami ilmu pengetahuan harus menjadi manusia sains dan sekaligus manusia religius dengan kata lain manusia perlu menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan agama. Dengan begitu, sains dan agama atau akal Budi dan iman bisa berjalan seiring membawa manusia pada kesempurnaan eksistensinya.

*Mahasiswa STFK Ledalero
Tinggal di Biara Scalabrinian.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *