Terima kasih Ibu

Spread the love

Ilustrasi: hipwee

Oleh:Gonsy Tono

Perjalanan hidupku sudah terlalu jauh. Namun di selah kesibukanku, waktu berhasil membawaku kembali pada situasi empat tahun silam. Sebuah momen yang akan selalu terbungkus rapi dalam hati di saat situasi seolah serba kalut. Saat itu tepat di pertengahan bulan Januari tahun 2017. Malam itu hujan baru saja redah dan meninggalkan sedikit kabut yang menyelimuti kampung itu juga dingin yang menusuk tulang. Separuh waktu bulan itu telah aku habiskan dengan beribu kisah menarik saat liburan natal dan tahun baru.

Itu merupakan liburan pertamaku semenjak berangkat untuk memulai kuliah di jurusan akuntansi pada sebuah kampus ternama di kota Metropolitan pada awal Juli 2013. Sebagian orang di kampungku menganggap bahwa siapa saja yang kuliah di sana pasti karena dua kemungkinan yaitu anak orang kaya atau seorang yang sangat cerdas. Namun, aku bukan seorang yang berasal dari keluarga yang kaya. Kemampuan intelektual dan berbagai prestasi selama berada di bangku SMA menjadi kekuatan besar bagiku. Namun, prestasi itu tidak terlepas dari kesetiaan ibu dalam membimbing belajarku semenjak kepergian ayah untuk selamanya dari tengah kami.
Kesempatan untuk kuliah di sana saya peroleh melalui beasiswa yang cukup sulit untuk mendapatkannya apalagi dengan latar belakang yang tidak begitu memungkinkan. Dalam sebuah kesempatan, pamanku pernah bilang bahwa

“Orang seperti kita memiliki kemungkinan yang sangat sedikit mendapatkan beasiswa untuk kuliah di kampus sekelas itu.” Dia tidak memberitahukan alasannya kepadaku. Kata-katanya hanya sampai di situ. Semenjak itu aku berusaha berpikir sendiri namun belum juga terjawab hingga saat ini.

*****
Jarum jam dinding yang digantung dekat jendela menunjukkan pukul enam tiga puluh. Hujan telah redah. Secangkir kopi yang dibuat ibu telah aku seruput tanpa sisah sedikitpun. Semenjak hujan reda, aku melihat ibu meninggalkan rumah tanpa memberitahuku ke mana tujuannya. Sedang aku masih menikmati setiap tegukan kopi di ruangan tamu seorang diri. Suasana rumah tampak lengang. Tidak ada siapa-siapa lagi yang tinggal di rumah selain ibu seorang diri. Aku adalah seorang anak tunggal. Kepergianku ke Jakarta saat itu sebenarnya tidak disetujui oleh ibu. Dia tidak ingin merasa kehilangan yang kedua kalinya setelah kepergian ayah.
Beberapa saat aku duduk sambil termenung ditemani sepi senja itu. Harapan dan kegembiraan juga kecemasan berkecamuk dalam diamku. Di satu sisi aku merasa senang, sebab aku akan kembali ke kota Metropolitan untuk melanjutkan kuliahku di sana. Di sisi lain juga muncul perasaan cemas, sebab ibu tak sekuat dulu lagi. “Jangan-jangan ketika kau sudah tiba di sana ibu akan…ah!” Pikiranku pun berhenti saat ibu tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang.

“Ibu membuat aku kaget saja” sahutku sambil menoleh ke belakang, tempat ibu berdiri. Ya, aku tidak melihat ibu saat masuk ke rumah.

“Apa yang kamu pikirkan, nak? Kamu kelihatan sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius,” tanya ibuku. Sambil tersenyum aku menggelengkan kepala dan berkata;

“tidak, ibu. Tidak ada hal serius yang sedang aku pikirkan.” Terpaksa aku menipu ibuku. Sebagai balasannya, ibu hanya mengangguk namun ekspresinya menandakan ketidakpercayaannya terhadap jawabanku.

Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima puluh lima menit. Lima menit lagi adalah waktunya makan malam. Ibu membantuku mebawa koper dan tas dari kamarku menuju ruangan tamu. Dia tampak berantusias membereskan semuanya itu. Kain yang ia dikenakan pada tubuhnya tampak kusam sedangkan topi dinginnya tak pernah ia tanggalkan untuk menutupi kepalanya dari rasa dingin. Hampir semua orang tua di kampungku akan berpenampilan seperti itu saat menginjak usia senjanya.
Lima menit sudah berlalu. Saatnya jam makan malam. Semua menu malam itu sudah ibu siapkan di atas meja. Tak ada menu yang spesial. Palingan hanya daging ayam yang biasa ibu masak saat aku datang libur dan sebelum aku kembali ke tempat kuliah. Mungkin itu merupakan bagian dari bentuk kasih sayangnya untukku, anak semata wayangnya. Selama makan malam berlangsung, aku menceritakan kepada ibu mengenai kota Metropolitan, tentang kampusku, teman-temanku juga tempat di mana aku bekerja sebelum maupun sesudah jam kuliah.

Ibu mendengarkan ceritaku itu dengan nikmatnya. Dia menyukai tempat kerjaku sebab membungkus roti ialah pekerjaan yang ringan. Dia melarangku untuk bekerja yang terlalu berat sebab semasa kecil bahkan sampai saat ini aku sering sakit jika kecapean. Perhatiannya kepadaku bahkan melebihi kepeduliannya terhadap kesehatannya. Percakapan semakin menarik. Tidak terasa, makan malam sudah selesai.

*****
Malam semakin larut dan beranjak sunyi. Kini aku ditemani ibu terpaku di samping nisan ayahku. Suara jangkrik pun tak kedengaran. Sepasang lilin menyinari kami bertiga; aku, ibu dan roh ayahku yang sedang mendengarkan doa kami. Aku percaya hal itu. Tanpa di sadari, air mataku jatuh bak sungai kecil yang sedang mengalir di tengah kekeringan yang melanda duniaku. Ibu merangkul aku dalam pelukan hangatnya. Situasi menjadi syahdu di bawah kolong langit malam disaksikan bulan dan bintang-bintang yang gemerlapan.
Ibu berusaha menenangkan aku. Dia menengadah ke langit malam sambil berkata,

“Dulu, sewaktu kamu kecil semua keinginanmu selalu kami penuhi. Namun satu hal yang tak dapat kami penuhi ialah saat kamu ingin memetik bulan kala purnama tiba. Kamu menangis sejadi-jadinya. Ayahmulah yang berusaha menenangkan kamu. Dia selalu berjanji untuk membawamu ke bulan besok pagi saat engkau terbangun. Lalu engkau menjadi tenang dan tak menangis lagi. Selanjunya ayahmu masih membujuk engkau dengan cara yang sama.”

Jam menunjukkan pukul setengah Sembilan. Kali ini, ibu memberikan sebuah bungkusan yang berukuran sedang tepat di pintu kamarku ketika aku hendak menuju ke kamar untuk beristirahat. Aku menerimanya. Dia memelukku sambil menangis. Aku pun kebingungan sambil memegang bungkusan itu.
“nak, hanya inilah yang dapat ibu berikan kepadamu sebelum engkau kembali ke sana. Tak ada yang istimewah. Jika suatu saat nanti engkau menjadi orang yang sukses dan ibu masih ada, bawalah juga ibu ke kota Metropolitan yang sering engkau ceritakan saat jam makan.”

Ibu menatapku sangat dalam. Sebingkis senyuman tersungging di tepi bibirnya. Ada sebuah harapan besar yang tergambar jelas di raut wajahnya. Dia melanjutkan pembicaraanya lagi

“Nak, hidupi hidupmu. Syukuri semua yang kamu alami. Bermimpilah setinggi langit hingga memetik bintang juga bulan walau diawali dengan perbuatan kecil. Aku selalu mendoakanmu walau suatu saat ragaku tak tegar lagi. Kembalilah suatu saat nanti membawa bulan dan bintang yang pernah engkau mimpikan sewaktu kecilmu dulu.”

Sesudah itu, kami menuju kamar tidur masing-masing. Ada sesuatu yang berubah dengan perasaanku setelah mendengar kata-kata dari ibu di pintu kamar tadi dan sulit bagiku memahaminya dalam waktu sesingkat ini. Aku merebahkan tubuhku, membiarkan malam membawaku dalam dunia mimpi. Aku pun terlelap.

*****
Metropolitan, 5 September 2020 pukul 12:00. Pertemuan dengan semua karyawanku mengenai perkembangan proyek yang sedang kami kerjakan telah selesai lima belas menit yang lalu. Aku duduk seorang diri di dalam ruangan kerjaku di lantai yang paling atas bangunan ini. Dari balik kaca yang bening itu aku dapat melihat bagaimana luasnya kota ini. Kendaraan begitu padat memenuhi badan jalan. Orang yang berjalan kaki pun tak kalah banyaknya. Mataku berusaha menjelajahi tiap sudut kota itu.

Dalam keheningan itu, aku membuka laci meja tempat aku menyimpan bungkusan yang pernah ibu berikan kepadaku tiga tahun yang lalu. Aroma tangannya masih tercium jelas pada bungkusan itu walau kini dia sudah tiada lagi. Aku membukanya dengan penuh penuh penasaran. Betapa kagetnya ketika akau melihat isinya. Ternyata ibu memberiku uang sebanyak lima juta rupiah. Ada juga surat yang ia selipkan dengan pesan yang sangat singkat.

“Nak, ini adalah uang hasil dari usaha ibu saat menjual padi dari sawah kita. Semua ini ibu dapatkan setelah bekerja bermandikan peluh yang tak tertahankan. Hujan dan panas sudah menjadi hal yang lumrah bagiku sebab aku ingin membahagiakan engkau dengan caraku yang sederhana ini. Pakailah uang ini untuk keperluanmu dalam perjalanan pulangmu nanti. Jangan lupa mengajak ibu suatu saat nanti untuk melihat kota Metropolitanmu itu. He..he..he.. Pulanglah jika engkau telah memetik bintang juga bulan yang pernah engkau inginkan dulu. Aku hanya ingin melihat anakku menjadi sukses suatu saat nanti.”

Tangisku siang itu memecah kesunyian ruangan kerjaku. Air mata mengalir dengan derasnya. Sudah hampir lima tahun semenjak kepulanganku ke tempat ini aku tak dapat berbincang-bincang dengan ibu lagi untuk menceritakan kemegahan kota ini. Aku tak dapat lagi membagi cerita tentang perusahanku ini dan memberitahunya bahwa aku telah mendapatkan bintang dan bulan yang pernah aku impikan dulu.
“Ibu, maafkan aku yang belum sempat membawamu ke tempat ini sekadar mengeringkan peluh yang pernah membasahi sekujur tubuhmu. Semoga engkau tersenyum melihat keberhasilanku saat ini.” Tiba-tiba handphoneku berdering. Ternyata itu alarm yang aku pasang bahwa saatnya aku kembali ke apartemen pribadiku. Terima kasih ibu.

*penulis adalah mahasiswa semester V di STFK Ledalero. Saat ini tinggal di biara Scalabrinian, Maumere.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *