Menjadi Pemilih Cerdas dalam Pesta Demokrasi di Tengah Covid-19

Spread the love

Foto: dok pribadi

Oleh: Stefan Bandar

Sejak akhir tahun 2019 hingga sekarang ini, dunia diguncangkan dengan muncul dan menyebarnya sebuah virus yang sangat mematikan yakni virus corona atau lebih dikenal Covid-19. Virus ini diyakini pertama kali muncul di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, Tiongkok dan kini menyebar ke seluruh penjuruh dunia. Penyebaran virus ini dari satu negara ke negara yang lainnya tidak membutuhkan waktu lama. Globalisasi yang terjadi membuka ruang berlangsungnya hubungan antara satu negara dengan negara lainnya, baik dalam bentuk perdagangan, pertukaran pelajar dalam bidang pendidikan, urusan kenegaraan, dan lain sebagainya. Hal ini memungkinkan terjadinya kontak fisik antara satu orang dengan yang lainnya. Kontak fisik yang terjadi secara personal ini menyebabkan penyebaran virus secara cepat dan berujung pada situasi sekarang ini yakni puluhan ribu manusia menderita bahkan kehilangan nyawa karena virus ini.

Pada saat bersamaan, di beberapa daerah di Indonesia akan diselenggarakan pesta demokrasi yakni pemilihan kepala daerah atau wali kota. Pemilihan ini tentunya disebabkan oleh habisnya masa jabatan kepala daerah atau wali kota sebelumnya berdasarkan peraturan pemerintah yang berlaku di Indonesia. Dalam menyambut pesta demokrasi ini, masyarakat menyibukan diri demi mendukung calonnya masing-masing agar bisa menduduki jabatan kursi pemerintah sebagai kepala daerah atau wali kota. Bentuk dukungan itu dapat dilihat dalam jumlah masa yang hadir mendengarkan kampanye, jumlah masyarakat yang turut ambil bagian dalam konvoi bersama calon dan tim sukses dari calon yang didukung, dan berbagai bentuk ujaran dukungan yang termuat dalam media-media sosial.

Secara sepintas kenyataan partisipasi masyarakat ini menunjukkan realita kesadaran masyarakat dalam menentukan arah gerak pemerintahan bangsa ini. Partisipasi masyarakat menuju pesta demokrasi menjadi cerminan terjaminnya kebebasan masyarakat dalam rana politik di tengah ruang publik. Partisipasi masyarakat dalam perpolitikan sangat dibutuhkan sebagai salah satu kekuatan politik bangsa. Keterlibatan demos dalam ruang politik sesuai kapasitas yang dimiliki merupakan bentuk pengamalan kewajiban sebagai warga negara yang benar.

Salah satu kewajiban seorang warga negara adalah ikut berpartisipasi dalam penentuan kebijakan publik melalui pemilu. Bangsa Indonesia yang merupakan salah satu bangsa yang menjunjung tinggi kebebasan rupanya telah membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat di mana masyarakat diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya tanpa diintervensi oleh pihak lain.
Penyelenggaraan pesta demokrasi di tengah pandemik Covid-19 sekarang ini sepintas dapat dilihat sebagai suatu hal yang ironis ketika kebutuhan masyarakat yang begitu tinggi dihadapkan dengan kebijakan social distancing yang diterapkan sekarang ini. Sepintas dapat dilihat bahwa kedua hal ini saling bertolak belakang.

Di satu sisi manusia adalah makhluk sosial yang selalu terbuka sekaligus membutuhkan realitas di luar dirinya, namun di sisi lain kebijakan yang diterapkan merupakan sebuah naluri manusiawi untuk menyelamatkan diri dari penderitaan atau kematian, tetapi naluri ini berujung pada pembatasan ruang gerak masyarakat dalam kehidupan bersama. Manusia dituntut untuk memenuhi kebutuhannya seperti makanan, minuman dan pakayan, namun di sisi lain manusia dituntut mengikuti kebijakan social distancing seperti menjauhi kerumunan masa.

Kedua hal ini, pesta demokrasi dan Covid-19 yang terjadi bersamaan, memunculkan beberapa pertanyaan untuk ditelaah lebih jauh. Pertanyaan-pertanyaan itu antara lain, apakah partisipasi masyarakat dalam rana politik seperti yang digambarkan di atas (jumlah masa yang hadir mendengarkan kampanye, jumlah masyarakat yang turut ambil bagian dalam konvoi bersama calon dan tim sukses dari calon yang didukung, dan berbagai bentuk ujaran dukungan yang termuat dalam media-media sosial) telah menunjukan kepenuhan kewajiban sebagai seorang warega negara? Apakah perhelatan pesta demokrasi di tengah pandemik Covid-19 yang sedang berlangsung sekarang ini membuat masyarakat benar-benar menentukan dukungan dan pilihannya berdasarkan kesadaran sebagai warga negara yang demokratis ataukah partisipasi masyarakat dilatarbelakangi oleh embel-embel lain yang telah diterima dari pasangan calon yang bertarung merebut kursi kepemimpinan?
Dalam sebuah negara demokrasi, setiap orang memiliki kebebasan baik dalam ruang privat maupun dalam ruang publik.

Kebebasan tersebut tidak diberikan oleh atau datang dari otoritas tertentu tetapi merupakan hal yang melekat dalam diri manusia sejak manusia itu bereksistensi. Kebebasan-kebebasan itu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi manusia. Kebebasan itu juga tidak dapat diintervensi oleh oknum-oknum tertentu atau otoritas-otoritas tertentu. Partisipasi dalam pesta demokrasi merupakan salah satu kewajiban masyarakat yang harus dipenuhi.
Partisipasi masyarakat merupakan bentuk realisasi dari kepenuhan tanggungjawab masyarakat sebagai warga negara.
Berkaitan dengan partisipasi masyarakat, tugas sesungguhnya dari seorang warga negara bukan hanya memilih tetapi mampu mengenal lebih jauh calon yang akan dipilihnya.

Partisipasi politik seorang warga negara buka hanya berkaitan dengan mengikuti kampanye, mendukung paslon melalui ujaran-ujaran dalam media-media social, atau juga mengikuti konvoi bersama paslon. Lebih dri itu, seorang warga negara harus mampu ‘menelanjangi’ seluru visi dan misi yang dicanangkan oleh paslon yang memperebut kursi kepemimpinan sehingga makna yang tersirat di balik visi dan misi itu dapat dipahami.

Seorang warga negara harus mampu menjadi pemilih yang cerdas, yakni pemilih yang mampu menyeleksikan seluruh peserta berdasarkan kriteria pemimpin yang membawa perdamaian dan kesejahteraan. Pemilih yang cerdas berarti pemilih yang memilih bukan karena kesamaan latar belakang, kesamaan sistem kepercayaan, kesamaan ideologi, atau kesamaan lainnya, tetapi pemilih yang cerdas adalah pemilih yang mampu memilih seorang pemimpin yang mengedepankan nilai-nilai pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Kebutuhan manusia yang terus bertambah dan kebijakan social distancing yang berlaku dalam masyarakat menjadi salah satu akar munculnya berbagai bantuan yang disalurkan dalam kehidupan masyarakat. Pasalnya, beberapa lapangan pekerjaan sementara ditutup dan semua pekerja dipulangkan ke tempat asalnya masing-masing. Kaum pekerja yang mayoritas berasal dari pedesaan tidak lagi memiliki lahan kerja demi menghidupkan keluarga.

Hal ini menjadi penyebab munculnya bantuan-bantuan kemanusiaan yang diterima masyarakat sekarang ini. Karya-karya amal diberikan demi menanggulangi masalah yang sedang terjadi. Bantuan-bantuan yang datang dari partai-partai politik atau dari politisi-politisi tertentu hadir dalam berbagai rupa. Ada yang datang dalam bentuk uang tunai, beras, telur, ataupun bentuk-bentuk lainnya. Hal ini menunjukkan kepedulian yang masih dirawat dalam diri manusia. Bantuan yang disalurkan menjadi penegasan atas rasa kemanusia yang masih dijunjung tinggi dalam kehidupan berbangsa.

Di tengah pandemik Covid-19 yang sedang terjadi sekarang ini, warga negara memiliki kewajiban untuk ‘memfilter’ bantuan yang ada. Dengan kata lain, masyarakat harus mampu membuka mata agar dapat melihat makna di balik bantuan-bantuan sosial yang ada. Masyarakat diharapkan agar tidak menjadikan bantuan sosial di tengah pandemik Covid-19 sebagai ukuran seorang pemimpin yang tepat. Warga negara dituntut bukan saja untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi tetapi harus menjadi pemilih yang cerdas. Warga negara dituntut untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi sekaligus dituntut untuk mampu memilih pemimpin yang membawa perubahan menuju kesejahteraan yang lebih mapan. Tuntutan ini menjadi mudah dilaksanakan ketika kesadaran masyarakat tentang tanggungjawab memajukan bangsa berada pada porsi yang tinggi.

Tanggungjawab yang dimaksud adalah mampu menjadi pemilih yang cerdas dan mampu menolak bentuk-bentuk suap atau praktek politik fajar. Masyarakat juga dituntut untuk menyelam maksud karya-karya amal yang dipraktekan di tengah pandemik Covid-19 sekarang ini atau sekurang-kurangnya mampu mendengar hati nurani dan menjadi pemilih yang memilih berdasarkan hati nurani.

Ketika masyarakat menjadi pemilih yang cerdas maka tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud. Ketika masyarakat menjadi pemilih yang cerdas maka nilai-nilai pancasila dapat dipraktikan dalam kehidupan bersama. Ketika masyarakat menjadi pemilih yang cerdas maka pemimpin yang dipilih pasti memiliki kualitas rasionalitas dan moralitas yang cerdas dan dengan cerdas pula membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih mapan. Hal ini berujung pada pencapaian tujuan luhur bagsa Indonesia yaitu kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

*Mahasiswa Semester VII di STFK Ledalero, Maumere.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *