Tatap Muka

Spread the love

Ilustrasi: gokepri.com

Oleh: Waldus Budiman

“mereka sudah pulang?”.
“apakah mereka meninggalkan amplop?”
Nadus terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang tak lazin kepada Mius.

“mereka akan datang lagi minggu depan dan ingin bertemu dengan orang kampung”, jawab Mius. Laki-laki berkumis tipis itu sesekali menghembuskan asap cerutu dari mulutnya.

Mius adalah orang terpandang di kampungnya. Dia juga dipercayakan sebagai tu’a golo. Alumnus fakultas ekonomi di salah satu perguruan tinggi ternama NTT itu pernah menjadi salah satu team sukses dari salah satu kandidat lima tahun lalu. Namun mereka gagal menduduki kursi empuk di kabupaten itu. Kali ini Mius mengundurkan diri dari team sukses dan memilih untuk jadi orang biasa. Jam terbangnya dalam berpolitik tidak perlu diragukan lagi. Dua tahun menjabat kepala desa dan pernah juga disidangkan di pengadilan akibat penggelapan uang desa selama masa jabatannya. Kira-kira demikian gambaran sepintas tentang Mius.

Mereka sudah berteman lama sejak duduk dibangku kuliah. Namun Nadus tidak sempat menyelesaikan pendidikan tingginya akibat menghamili anak gadis orang dan pernah menginap dalam sel penjara selama 10 bulan. Keduanya memiliki status terpandang di kampungnya.

“berapa orang yang akan datang minggu depan?”, tanya Nadus

“kira-kira apa yang mereka bawah?, lanjut Nadus.

Dia berusaha mengetahui semua percakapan Mius dengan Team sukses dari salah satu kandidat. Pertemuan ini penuh dengan canda dan tawa. Beberapa orang di antara yang datang adalah teman dekatnya Mius. Dengan demikian dialog yang dibangun penuh persaudaran.

“ada sepuluh orang dan satu anggota DPRD”, jawab Mius sekenanya.

“mereka akan menyiapkan uang rokok untuk warga dan baju yang akan dibagikan kepada mereka nanti”, lanjut Mius

“bagaimana dengan santapan siangnya. Apakah kita mengeluarkan dana sendiri atau ada suntikan dari mereka?”.
Nadus orang yang selalu detail terhadap segala sesuatu dan Mius mengakui soal itu.

Kebiasan-kebiasan yang terjadi disetip kampung ketika ada calon ataupun team sukses yang datang, maka hajatan untuk masa yang hadir ditanggung oleh team sukses dan calon yang bersangkutan. Maka tidak mengherankan jika Nadus mempertanyakan kepastian soal hajatan tersebut.

“apakah pertemuanya dilakukan di rumah adat atau bagaimana?”.

“kita akan membicarakan dengan tu’a gendang”, jawab Nadus

Waktu-waktu yang ditunggu pun tiba. Di depan halaman rumah Gendang ada 5 buah mobil Inova dan tidak terhitung jumlah motor. Masa memadati rumah gendang yang berukuran 10 X 12. Ada orang muda, orang tua, dan tidak terhitung jumlah anak-anak. Di bagian dapur asap mengepul. Aroma masakan ibu-ibu menyerang perut masa yang hadir. Mereka mendengar secara saksama janji-janji politik yang keluar dari mulut team sukses dan salah satu anggota dewan itu. Mius dan Nadus mengenakan jas songke kabanggan orang manggarai dan dipadukan dengan kain songke di bawanya. Hanya baju yang berbeda. Nadus mengenakan baju batik sedangkan Mius mengenakan baju batik produksi dari pulau jawa. Wajah mereka dihiasi senyum yang sungringah. Masing-masing disaku mereka terdapat satu amploap tebal.
Waktu menunjukkan jam makan siang. Nadus yang dipercayakan oleh tokoh-tokoh adat berdiri dan berbicara kepada masa yang hadir.

“selamat siang”, sapa Nadus kepada masa yang hadir.

“se..la..mat siannnggggg”, teriak masa yang hadir. Suara anak-anak juga terselip dibalik ucapan itu.

“masih semangat?”, lanjut Nadus
“ma..si..h..”.

Suara-suara itu kelihatannya loyo, lemah dan kurang energi. Maklum saja, acara santap bersama belum mulai.
Setelah menyapa masa yang hadir, Nadus tak lupa mengucapkan salam hormat kepada team sukses dan tokoh-tokoh yang hadir, Nadus menginformasikan kepada hadirin sekalian bahwa santapan siang akan segera di mulai. Suasana semakin ramai. Rupanya ini dimaksudkan dengan acara puncak dari pertemuan itu. Di dapur para ibu-ibu sibuk menyiapkan santapan siang. Dan di atas meja jejer berbagai jenis masakan. Ada cumi-cumi, gulai kambing, sayur lode, sant kambing dan juga soup ayam kampung. Di bagian kanan, terdapat berbagai jenis minuman. Ada air putih, arak, wine, fanta dan juga es buah. Semuanya serba mewah. Setelah team sukses dan tokoh ada-adat mengambil makan, Nadus mempersilakan para hadirin menuju meja makan. Tentunya norma berlaku di sana. Semuanya berbaris dengan rapih. Mulai dari orang tua, orang muda dan yang terkahir anak-anak. Satu jam berlalu, semua hidangan ludes. Tidak ada satupun rema-rema nasih dan sisah sayur. Rupanya masa yang hadir makan dengan lahap. Santapan yang mewah itu seakan-akan menghipnotiskan masa yang hadir. Di bagian pojok kiri rumah adat, para team sukses berserta tokoh-tokoh adat mulai nenggo. Sesekali Nadus meneriakan nama paket calon dari team sukses yang hadir.

“apakah sudah puas”, tanya Nadus

“tamba……nhhhh”, teriak masa yang hadir dengan suara yang tidak teratur.
Rupanya mereka sudah mulai mabuk.
Nadus membisikan sesuatu ke telinga seroang team sukses.

Dua puluh menit kemudian, dau orang pemuda membawa 5 jerigen arak Aimere. Masa semakin semangat. Senyum sumgringah di wajah team sukses melihat antusias masa yang hadir. Ada aroma kemenangan dari calon yang mereka dukung di kampung ini. Mereka tak tangung-tanggung mengeluarkan uang demi mendapat sorak-sorai.
Satu bulan berlalu, final yang ditunggupun tiba. Calon yang pernah melakukan pesta pora di kampungnya Nadus dan Mius kalah telak. Paket tersebut hanya mendapatkan satu suara namun itu blanco dan suara tersebut tidak sah. Dengan demikian paket tersebut tidak memperoleh apa-apa.

*tulisan ini pernah dipublikasikan oleh media fajarntt.com

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *