Arti Sebuah Takdir

Spread the love

Ilustrasi: apakabar online

Oleh: Stefan Bandar

“Nak, ibu ingin bercerita. Cerita ini tentang takdir seperti yang engkau tanyakan kepada ibu kemarin. Ibu lupa menjawab pertanyanmu, namun ibu ingin menceritakan arti takdir sesungguhnya kepadamu. Ibu ingin menceritakan sebuah kisah yang pernah ibu dengar dari nenekmu sebelum ia meninggalkan kita. Apakah kamu ingin mendengarkannya?” kata ibu sembari membelai rambutku.

“Iya, aku ingin mendengar cerita tentang takdir itu, ibu,” kataku sambil menyandarkan kepalaku pada pangkuan ibu.

“Dengarlah nak”

*****

Di sebuah kampung, hiduplah seorang perempuan tua bersama anak semata wayangnya. Anaknya bernama Salim. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil beratap ilalang. Sebagian dindingnya sudah lapuk dimakan usia. Balok-balok penyangga pun telah lapuk dan mungkin tidak lama lagi balok itu patah dan gubuk itu akan roboh. Ibu Salim ingin menggantikan semuanya dengan rumah yang berbatu dan beratap aluminium seperti rumah tetangganya, tetapi ia tidak mungkin dapat melakukannya sebab ia tidak memiliki uang untuk mendapatkan semuanya itu. Jangankan untuk membeli itu semuanya, untuk membeli beras saja terkadang uang mereka tidak cukup.

Meskipun selalu merasa kekurangan, Salim dan ibunya selalu hidup bahagia. Mereka tidak pernah mengeluh apalagi menangis. Ketika mereka tidak memiliki beras, mereka hanya mengisi perut dengan beberapa ubi kayu yang mereka tanam di belakang rumah. Dan sisanya mereka membawanya ke pasar untuk dijual dan uang hasil penjualan itu dapat digunakan untuk membeli beberapa kebutuhan mereka dan sisahnya ditabung untuk keperluan sekolah Salim.

Waktu terus berjalan. Tanpa terasa Salim tumbuh dan saatnya ia harus mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Tentu hal ini sangat menyenangkan hati ibunya. Ibu salim ingin anaknya mengenyam pendidikan dan menggapai cita-citanya yakni menjadi orang yang berguna bagi dirinya sendiri, bagi Tuhan dan bagi orang lain. Ia ingin Salim menjadi orang yang sukses serta berbakti kepada Tuhan dan kepada orang tuanya suatu saat nanti.

Untuk bisa mengenyam pendidikan di sekolah dasar, tentunya bukan menjadi suatu hal yang mudah bagi ibu Salim. Demi membiayai sekolah Salim dan memenuhi keperluan-keperluan sekolah anaknya itu, ia harus bekerja lebih keras lagi. Ia harus bisa mendapatkan uang setiap bulannya tanpa peduli dengan lelah dan letih yang selalu dirasakannya. Pergi pagi dan pulang petang adalah hal yang selalu dilakukanya setiap hari.

Di sekolah, Salim tumbuh dan berkembang menjadi anak yang rajin dan cerdas. Ia selalu mendapat nilai yang lebih tinggi dari teman-temannya. Semua guru di sekolah itu merasa senang dan bangga dengan kecerdasaan yang dimilikinya. Begitupun dengan teman-temannya. Mereka sangat senang dengan kecerdasan dan juga sifatnya yang selalu membantu mereka ketika mereka merasa kesulitan khususnya dalam memahami pelajaran. Sebagai imbalannya, mereka sering memberi Salim uang saku dengan jumlah yang cukup banyak.

Kecerdasan dan sifat baik yang dimiliki Salim membuat ia menjadi orang yang selalu diandalkan di sekolahnya. Setiap perlombaan yang diadakkan, ia selalu mendapatkan urutan teratas dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya. Bahkan ketika perlombaan di tingkat kotapun Salim selalu mendapatkan urutan pertama. Hal ini membuat ibunya bangga dan senang sebab beberapa prestasi telah diukir oleh anak satu-satunya itu.

Waktu yang terus berputar tanpa hentinya menjadikan Salim tumbuh semakin dewasa sementara itu ibunya juga semakin tua. Suatu ketika ibu Salim jatuh sakit. Letih yang menghampiri dirinya rupanya telah mengundang sakit yang harus diterimanya. Ia didiagnosa kanker otak dan dokter menyarankannya untuk segera melakukan operasi sebelum penyakit itu menjadi lebih berbahaya. Ibu Salim lantas menolak saran yang diberikan dokter kepadanya. Tentunya proses operasi itu membutuhkan biaya yang cukup besar dan hal itulah yang menjadi alasan ia menolak untuk dioperasi.

Penyakit yang diderita ibu Salim tidak diberitahukan kepada Salim sebab ia tidak menginginkan anaknya terganggu dengan penyakit yang dideritanya itu. Ia ingin anaknya yang kini duduk di bangku kuliah memiliki waktu yang banyak untuk belajar. Di waktu yang tersisah dari hidupnya, ia ingin melihat anaknya bahagia hingga menggapai cita-citanya.
Kehidupan Salim pun kini berubah. Sebagai pria remaja, ia menjalin hubungan asmara dengan seorang gadis yang berasal dari keluarga kaya.

Eflini, demikianlah nama gadis itu. Seringkali Eflini mengajak Salim untuk bertemu dengan orang tuanya. Beberapa kebutuhan Salim dipenuhi Eflini dan seringkali Salim membantu Eflini ketika Eflini mengalami kesulitan khususnya dalam tugas kuliah. Setiap hari hubungan mereka semakin akrab. Tentunya hal ini membuat Salim semakin mengenal keluarga Eflini.

Dalam hubungan yang mereka bangun, Salim tidak pernah menceritakan kehidupan orang tuanya kepada Eflini meskipun seringkali Eflini menanyakan tentang orang tuanya. Ia menyembunyikan identitas orang tuanya dari gadis yang sangat dicintainya itu. Rupanya kenyataan yang serba kekurangan dalam keluarganya membuat Salim enggan untuk menceritakannya kepada pacarnya itu. Eflini juga tidak menanyakan atau memaksa Salim untuk menceritakan semuanya karena gadis itu sungguh mengahargai keputusan Salim untuk tidak menceritakan latar belakang keluarganya.

Sementara itu, ibu salim yang masih tinggal di gubuk tua di kampung tempat Salim dibesarkan selalu saja menunggu kepulangan Salim. Ia mengetahui bahwa anaknya telah menjadi orang sukses di seberang sana meskipun tidak pernah sekalipun Salim datang kepadanya setelah duduk di bangku kuliah. Ia percaya bahwa suatu hari nanti anaknya kembali kepada pangkuannya dan membawanya sederet prestasi yang diraihnya di bangku kuliah. Ia merindukan dan menunggu anaknya itu meskipun ia juga tidak pernah menerima kabar darinya.

Waktu terus berputar dan kini penyakit yang diderita ibu salim makin mencemaskan. Kondisi fisiknya mulai menurun. Kini ia mengharapkan tetangganya untuk memenuhi beberapa kebutuhannya. Ia tidak dapat lagi bekerja seperti halnya dulu saat Salim masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap hari, ia selalu menjalani hidup dalam kesendirian hingga pada akhirnya ia menyadari bahwa Salim sudah tidak lagi mengingat dirinya. Salim sudah lupa dirinya sebagai wanita yang telah melahirkanya ke dunia. Dan kalaupun Salim akan kembali, mungkin ia tidak akan menemukannya lagi.

Kenyataan ini tentu saja membuat ia sungguh merasa kecewa. Setiap hari ia berdoa dan menangis memohon agar bisa melihat Salim sekali lagi. Ia selalu menangis dan kini air matanya lelah untuk menghujani bumi. Dengan tenaga yang tersisah ia menuliskan surat terakhir kepada anaknya.
Rupanya penyakit yang diderita ibu Salim berhasil merenggut nyawanya lebih cepat dari perkiraan dokter. Wanita malang itupun pergi kembali kepada Bapa dengan hati yang penuh luka.

Dia meninggalkan dunia dengan secarit duka di dalam batinnya. Dia pulang dengan kerinduan yang masih tersisa dan dengan cinta yang masih tulus kepada anak semata wayangnya. Ia pergi tanpa memandang anaknya yang sangat dirindukannya.
Kabar tentang kematian ibunya membuat Salim menyadari bahwa ia telah menjadi anak durhaka. Ia nyenyak dalam prestasi yang telah diraihnya hingga melupakan ibunya yang telah membesarkannya. Ia telah melupakan ibunya, wanita yang melahirkannya ke dunia ini.

Dengan diliputi perasaan kecewa yang mendalam, Salim kini memutuskan kembali ke kampung halamannya dan melihat ibunya yang kini telah ditutup tanah.
Di atas pusara ibunya Salim menangis dengan sangat. Ia mengutarakan semua penyesalannya di atas gumpalan tanah yang telah menutup ibunya untuk selama-lamanyanya. Isak tangisnya menggema, melambung jauh ke langit biru bersama doa-doa yang terus dirapalkannya.

Namun rupanya semuanya sudah terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Salim telah melukai hati ibunya dan kini ia tidak dapat lagi mendengar kata maaf dari ibunya untuk setiap sesal yang cobah dilantunkannya.
Kepergian ibunya membuat Salim sungguh merasa sedih dan juga kecewa atas dirinya. Seribu penyesalan kini melingkupi Salim. Hingga suatu hari setelah kepergian ibunya, ia mendapat surat yang ditulis ibunya.

“Salim, anakku.
Maafkan ibumu yang tidak pernah menceritakan tentang ini semuanya kepadamu. Ayahmu adalah seorang pengusaha tapi ibu tak tahu lagi di mana sekarang dia berada dan bagaimana kabarnya. Setelah ayahmu mengetahui bahwa ibu mengandung engkau, maka ia meminta ibu bahkan memaksa ibu untuk menguggurkan bayi dalam kandungan ibu yaitu kamu. Tetapi ibu tidak mungkin melakukan itu. Ibu memilih untuk membesarkan kamu. Ayahmu tidak menerima pilihan ibu sehingga ia pergi meninggalkan ibu dan engkau yang saat itu masih berusia tiga bulan dalam kandungan. Ia tidak ingin bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan kepada ibu. Setelah kakek dan nenekmu mengetahui bahwa ibu mengandung seorang anak, mereka memaksa ibu menggugurkan kamu. Tetap saja ibu tidak mau melakukannya. Namun akibatnya diterima ibu. Mereka tidak mengakui ibu sebagai bagian dari keluarga mereka lagi. Mereka mengusir ibu dari rumah.
Setelah diusir, ibu pergi dari kampung kita di timur sana dan bekerja di sini, di tempat ibu mendirikan gubuk tua ini. Ibu tidak ingin menjadi aib bagi keluarga kita di sana, keluarga yang cukup terpandang di tanah kita.
Salim, anakku. Mungkin kita tidak bertemu lagi. Tetapi sebelum itu terjadi, ibu ingin mengatakan bahwa ayahmu adalah Agustyo Salim dan itulah alasan mengapa ibu memberimu nama Salim, agar engkau tetap memiliki hubungan dengan ayahmu meskipun ia telah menyia-nyiakan kamu. Mungkin suatu saat nanti engkau bertemu dengannya dan ibu mengharapkan hal itu. Jika engkau telah menemukannya, maafkan dia dan terimalah dia sebagai ayahmu.
Di sini, ibu sangat merindukanmu,anakku.!!!! Salam rindu, ibumu”.

Salim tersentak setelah membaca surat yang ditulis ibunya. Sekarang, ia mengetahui apa yang dicarinya selama ini dalam kehidupannya. Namun satu hal yang mengundang tanya salim untuk setiap bubuhan tinta pena di atas kertas using itu. Apakah benar ayahku adalah pria itu? Apakah aku harus menerimanya sebagai ayahku? Mengapa dia tega meninggalkan aku dan ibu saat aku masih dalam kandungan ibu? Salim mulai bergumul dengan seribu pertanyaan yang muncul dalam benaknya.

Rupanya nama lelaki yang di dalam surat itu sebagai bapaknya tidak asing bagi dirinya. Dia adalah lelaki yang selalu dijumpainya selama ini. Dia adalah ayah Eflini, gadis yang telah memberi warnah dalam kehidupannya. Apakah ini menjadi akhir cinta antara aku dan Eflini? Batin Salim.

*****

Aku terbangun setelah mendengar suara isak tangis yang mengisi ruang lelapku beberapa saat yang lalu. Isak tangis itu sepertinya tidak jauh dari kamarku, tempat aku terbaring. Kulangkahkan kakiku perlahan dan membuka pintu kamarku. Aku tersentak ketika melihat sosok yang tergelentang di ruang tengah. Di kiri dan kanan, beberapa orang menangis dengan sangat. Mereka tidak asing lagi bagiku.

“Ada apa, om?” tanyaku seketika.
“Nak Andri, tetap tabah yan nak, mungkin ini adalah takdir bagi kamu dan juga ibumu,” kata pak Agus sembari memelukku.
“Itu siapa om?” tanyaku lagi dengan sedikit penasaran. Tiba-tiba aku teringat dan berusaha menemukannya di antara tubuh yang berduka.

Seketika itu juga air mataku perlahan mulai menetes.
Pak Agus mengajakku duduk di samping tubuh yang kini ditutupi kain putih. Ia mulai berkata, “Tadi ketika om datang untuk melihat ibumu, om mendapatkan kamu sedang tertidur di pangkuannya. Sedangkan ibu kamu meringis kesakitan. Kemudian om memanggil beberapa warga laninnya untuk membantu om membawa ibu kamu ke rumah sakit. Om membaringkan kamu di tempat tidurmu. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, ibumu menghembuskan nafasnya.

Sebelum ia pergi untuk selamanya, ia meminta om untuk menjaga kamu dan ia ingin kamu menjadi orang yang baik,” katanya sembari mungusap air matanya yang perlahan berjatuhan. Seketika itu juga tangisanku pecah!
“Ibu, apakah ini arti takdir yang ingin engkau katakan”

*Mahasiswa STFK Ledalero.

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *