Jatuh Cinta di Jalan Berlubang

Spread the love

Ilustrasi: tabeite.com

Oleh: Waldus Budiman

Aku terpaksa menjawab setelah dia menepuk bahuku. Aku berusaha tenang dan sedikit memperbaiki posisi duduk.

“siapa perempuan di story WhatsAppmu?” berkali-kali Lena meminta penjelasan.

Aku sudah menduga dia akan menanyakan hal ini. Sejak seminggu yang lalu kami tidak akur gara-gara masalah sepele itu. Aku tidak bermaksud menyakiti Lena, gadis yang berumur 19 tahun yang kelihatan cukup dewasa. Dia sangat yang polos dan memiliki rasa ingin tahu diluar nalar. Dia sangat cantik jika dalam keadaan marah. Apa lagi saat tersenyum. Bukan karena dia memiliki pipi lesung ataupun alis mata tipis dan juga tidak suka kosmetik. Lena memang cantik dari kandungan ibunya.

“tolong jelaskan sekarang, siapa perempuan itu?” kali ini dia bertanya sambil menitikkan air mata.

“Lenaku sayang, dia adalah saudariku” jawabku singkat. Aku melihat ada sedikit ketenangan di wajahnya. Aku tidak mungkin mengkhianati kepolosannya. Yang walaupun selama ini kami LDR, tapi bukan berarti aku harus mencintai yang lain.

Di sekolahku yaitu SMA Negeri 1 Sambi Rampas ada yang lebih cantik dari Lena. Sebut saja Maria, Helena, Fami, Erta, Rosa, Indan dan Nanda, mantan-mantanku dulu. Lena seorang siswi kelas dua di salah satu SMA ternama di kota Ruteng. Lena juga seorang gadis yang pintar. Penampilannya sangat sederhana walaupun berasal dari keluarga yang berada.

Singkat cerita kami berkenalan beberapa bulan yang lalu. Kebetulan waktu itu kami satu mobil dari Ruteng menuju kampung Buti. Dia duduk di sampingku. Jantungku berdebar-debar.

Baru kali ini aku duduk sebangku dengan seorang gadis cantik. Lagu Ambon terus bertembang menemani perjalanan kami menuju kampung tercinta. Aku berusaha tenang meskipun sedikit gugup. Aroma parfum Joic membangkitkan hasratku. Dia sangat tenang sedangkan aku, ah.. sudahlah! Aku tersentak dari lamunanku saat tangan Lena memegang lenganku.

“maaf kak” kata Lena. Lagi-lagi jalan berlubang.

“tidak apa-apa dek” balasku.

Itulah percakapan kami sejak berangkat dari terminal. Aku berusaha untuk memulai percakapan. Bagaimanapun juga, aku ini seorang laki-laki yang gentle jadi harus berani di hadapan perempuan. Hal itu aku tunjukkan di hadapan Lena. Dari tanya nama, asal, hingga nama orang tua bahkan nama nenek moyang pun aku tanya.

Mobil terus melaju dan lagu Ambon menemani perjalanan kami. Sesekali om sopir membunyikan klakson saar melihat nona cantik di pinggir jalan. Dasar om sopir, memang sopir jaman now sedikit nakal. Mereka juga manusia normal.

Di samping kami ada seorang kakek yang sedang asik menikmati mbako kasar (rokok yang gulung sendiri), asapnya sangat menggangu pernapasan, khususnya Lena. Beberapa kali dia batuk dan badannya sedikit lemas. Lalu dia meminta untuk menyadarkan bahunya di pundakku. Dengan senang hati aku mengijinkannya. Tanpa dia minta pun aku akan berharap. Siapa yang mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dalam hati aku mengucapkan terima kasih kepada kakek di sampingku atas asap tembakaunya.

Kini perjalanan kami memasuki hutan lebat setelah melewati tanjakan Ranto yang sedikit terjal. Udara dingin menerpa kami. Aku melihat Lena menggigil kedinginan lalu dengan berani aku menawarkan jaketku. Lena tidak tahu jika jaket itu sudah dua minggu tidak cuci tapi masih wangi. Parfum casablanca membuat aromanya masih segar.

Saat-saat seperti ini orang tidak lagi melihat ataupun menilai bersih atau tidaknya, tapi yang paling penting bahwa dia merasa nyaman dan hangat pastinya. Lena membuktikan hal itu, dia sedikit tersenyum ketika tubuhnya dibungkus oleh jaketku.

Dalam hati aku mengucapkan terima kasih kepada alam semesta, kepada Tuhan dan khsususnya kepada pemerintah yang tidak pernah atau memang belum saatnya memperbaiki jalan menuju kampung kami yang masih berbatu. Karena di jalan berlubang itu aku jatuh cinta kepada Lena Gadis impian masa depanku. Dia bintang dari bulanku dan mentari dari matahariku.

*tulisan ini pernah dipublikasikan oleh tabeite.com

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *