cerpen

Danau Penantian

“Sama seperti kemarin,
aku masih disisni.
Bersama lirih dan jiwa yang merintih,
menggenggam kegelapan,
menunggu keajaiban,
menunggu kelulusan dari ujian penantian.”

Wandro Julio Haman

Pelita alam sudah meredup, bumi pasrah didekap gulita malam. Hawa senja mengelus mesra, menyapa penghuni semesta. Dewi malam mulai beraksi menebarkan senyum dan keanggunannya. Sementara itu, sepasang anak manusia masih melangkah gontai di jalan berbatu di bawah lindungan pohon mahoni. Tangan mereka seakan terikat. Bercengkeraman dengan begitu kencangnya. Enggan untuk dilepaskan. Sesekali terdengar suara rintihan karena kaki terantuk batu. Maklum, gelap kian merajai malam. Sinar rembulan terhalang dedaunan untuk menyoroti langkah mereka.

 “Kapan kamu melamarku?” tanya Sonya sedikit menoleh.

Sonya, demikianlah nama kuntum berambut panjang itu. Ia menjadi rebutan laki-laki sekampung. Dia adalah bunga yang memesona. Hampir semua warga kampung menyetujui hal itu. Di balik paras eloknya, dia juga gadis yang murah hati dan murah senyum. Banyak pria dari pelbagai lapisan masyarakat tergila-gila padanya. Baik mereka yang berpendidikan tinggi maupun pegawai kantoran. Tapi Merlan hanya menaruh rasa pada seoranng pria. Pria biasa yang hidupnya sederhana. Itulah yang membuat penggilanya memikul sakit hati.

Baca Juga : Tuan Malam Antalogi Puisi Ilak Sau

Baca Juga : Covid-19 Menyebabkan Banyak Orang Banting Setir Jadi Pedagang Online

Pria di sampingnya sontak menoleh. Dia berusaha untuk tetap santai.

“Sabar sayang. Nanti aku pasti melamarmu,” jawab Edgar, si pria berperawakan tinggi, berkumis tipis, dan berambut ikal dengan senyum meyakinkan. Edgar adalah pemuda tampan yang tinggal seoarang diri. Tak sedikit gadis di desa yang ingin dipersuntingnya. Sonya adalah salah satunya. Sehari-hari dia mengurus tambak ikan peninggalan almarhum orang tuanya. Dari situ pula ia mencukupi kehidupannya.

“Kapan?” Sonya bertanya kembali.

“Nanti, setelah Tuhan mengizinkan,” timpal Edgar sambil perlahan mengelus rambut Sonya sembari tersenyum ke arah kuntum di sampingnya. Sonya tak bertanya lagi. Membisu.

Langkah keduanya berhenti di sebuah rumah papan dekat persimpangan jalan. Edgar mengetuk pintu. Tak lama kemudian seorang ibu paruh baya muncul dari balik pintu.

“Bu, saya antar Sonya pulang,” kata Edgar.

“Nak Edgar tidak mau mampir dulu?”

“Lain kali saja bu, terima kasih,” jawab Edgar sambil tersenyum.

“Biklah. Lain kali harus mampir ke rumah ibu. Walaupun hanya menikmati kopi pahit buatan ibu,” lanjut wanita yang merupakan ibu Sonya tersebut.

Baca Juga : Antologi Puisi Banera.id Spesial Hari Puisi Nasional

Baca Juga : Logical Fallacy on Epstimology

“Baik, bu. Saya pamit,” timpal Edgar sambil menghilang di balik keremangan malam. Ibu Sonya mengantar Edgar dengan senyum ramahnya. Giginya yang merah karena sirih pinang keluar dari persembunyiannya. Selama perjalanan, pikiran Edgar membadai mengingat pertanyaan Sonya tadi. “Kapan kamu melamarku?” Pertanyaan tersebut membuatnya tak bisa nyenyak malam itu.

Hari-hari dilalui Edgar dengan pertanyaan besar dalam benak. Pertanyan tersebut mengganggu aktivitasnya. Seringkali ia kehilangan konsentrasi dalam pekerjaannya. Tapi tidak demikian dengan Sonya. Ia santai sembari menunggu kepastian dari sang belahan jiwa. Keesokan harinya, mereka kembali menuai temu. Kali ini di bibir danau dekat balai desa. Edgar bertumpu di sebatang pohon kelapa. Sementara Sonya di sampingnya, melingkarkan lengannya di pinggang Edgar, sambil menjatuhkan kepalanya ke bahu berotot di sampingya itu. Sesekali terdengar bunyi “gluk.” Suara batu yang dilempar Edgar ke danau. Gelombang kecilpun tercipta, mengantar seekor semut ke tepi danau. Sesekali, riak air membelah kesunyian danau. Edgar dan Sonya membisu seribu satu kata. Tak satupun bersuara. Sonya melempar senyum kepada Edgar, lalu membalasnya. Ketika Edgar hendak megecup kening Sonya, tiba-tiba, “bukh!” Suara kelapa jatuh tepat dibelakang Edgar. Hampir mengenai kepalanya. Spontan Sonya menjatuhkan diri ke pelukan Edgar.

Dia kaget dan ketakutan setengah mati. Apalagi ketika mengingat cerita orang-orang kampung tentang hal mistis yang terjadi di sekitaran danau. Peluknya pun semakin erat. Sontak membuat Edgar kaget. Rongga dadanya terasa hampa. Walaupun akhirnya dia tersenyum sembari melingkarkan lengannya ke pundak Sonya. Gagal memberi kecup, tapi menuai peluk. Dia mengepalkan tangannya keatas dan berkata “Yess!” Dia tak kuasa menahan ingin berselebrasi ala Heung Min Son. Bintang asal Korea Selatan yang menjadi kebanggaan Totenham Hotspur itu. Edgar menang banyak. Pikirannya melayang. Dia berdoa semoga semua kelapa yang tersisa diatas pohon terjatuh. Pasti Sonya tak akan melepas pelukannya. Dasar Edgar.

Baca Juga : Ketakutan di Tengah Badai Virus Corona

Baca Juga : Membangun Integritas dan Dedikasi Organisasi Mahasiswa

Saat adzan maghrib berkumandang, keduanya beranjak pulang. Temaram cahaya langit sore menyelimuti hati keduanya. Sepanjang perjalanan, keduanya tersenyum lebar. Sesekali beradu pandang sambil menyulam senyum

Malam itu ada sedikit perbedaan di rumah Sonya. Edgar menghiasi suasana santap malam mereka. Tapi dia bukanlah sosok baru dalam keluarga tersebut. Dia sering menyambangi Sonya ke rumahnya. Dia sangat akrab dengan keluarga sang bunga hati. Namun sama seperti Sonya, orang tuanya juga menunggu kepastian dari Edgar.

Tak kunjung mendapat kepastian dari tambatan hati, Sonya pun memutuskan untuk hijrah ke ibu kota, berniat mencari pekerjaan. Setelah mengantongi restu dari kedua orang tua, dia pun meninggalkan tanah kelahirannya. Ia pergi tanpa sepengetahuan sang kekasih hati.

Sepeninggalan Sonya, Edgar kebingungan. Ia tak lagi bersemangat setiap harinya. Badan kekarnya pun mulai kelihatan kurus karena kurang tidur. Makan pun seakan menjadi musuh baginya. Maklum, ia menanggung rindunya sendiri. Rindu yang teramat hebatnya. Bukan tanpa alasan. Tapi karena kepergian sang bunga hati yang tak mengabarinya. Dia bertanya kepada orang tua Sonya tentang keberadaan gadis mereka. Tapi mereka lebih memilih menutup mulut. Sesuai pesan putri mereka.

Baca Juga : Manggarai Timur Rumah Kita Bersama

Baca Juga : Hutan Manja Antologi Puisi Ardhi Ridwansyah

Tujuh bulan sudah Sonya dan Edgar tak bersua. Sonya kini telah bekerja pada seorang bos muda. Seiring berjalannya waktu, dia mendapatkan perhatian lebih dari sang bos karena kebaikan dan keterampilannya. Dia diperlakukan bak ratu oleh semua karyawan di tempatnya bekerja. Itulah yang membuat ia melupakan Edgar dengan mudahnya. Sementara Edgar, masih menyimpan rindu yang mendalam untuknya. Di kota, Sonya menikah dengan bosnya. Kehidupannya pun berubah drastis. Segala sesuatunya serba berkecukupan. Bahkan terbilang mewah. Tidak demikian dengan Edgar yang selalu setia menunggunya pulang. Walaupun banyak gadis yang mencoba mendekati, tapi ia tetap percaya bahwa sang bunga hati pasti pulang. Setiap hari dia menunggu Sonya di tepi danau tempat mereka dulu membikin janji. Seperti biasanya, sembari ia melemparkan batu ke dalam air. Tapi sekarang tatapannya kosong tanpa kekasih hati yang menemani.

***

“Sama seperti kemarin.

Aku masih disisni.

Bersama lirih dan jiwa yang merintih.

Menggenggam kegelapan,

Menunggu keajaiban.

Menunggu kelulusan dari ujian penantian.”

***

Kebahagian Sonya tak berlangsung lama. Baru sebulan pasca menikah, suaminya mengalami kebangkrutan. Ia dan suaminya terpaksa harus hidup melarat. Nasib naas menimpa suaminya. Dalam perjalanan ke luar kota, bus yang ditumpangi suaminya terbalik di sebuah tikungan tajam. Diduga karena bus melaju dalam kecepatan tinggi. Tiga orang meninggal, dan salah satunya adalah suaminya. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Itulah pribahasa yang tepat untuk Sonya. Hidupnya kian melarat. Sebatang kara di tengah ganasnya ibu kota. Tak ada lagi yang diandalkan setelah kepergian sang suami. Namun dia mencoba bertahan. Dia berusaha menjadi karang. Hari demi hari, bulan demi bulan hingga tahun pun berganti. Dia tetap tegar.

Baca Juga : Jangan Terhanyut Dalam Euforia Kemenangan

Baca Juga : PEREMPUAN: Kewajiban Keadaban Bersama

Tujuh tahun berlalu. Edgar dan Sonya tak saling kabar. Seakan kedunya lenyap ditelan bumi. Selama tujuh tahun, Sonya berjuang menyambung nyawa. Sementara Edgar, tujuh tahun dihabiskan untuk menunggu kabar sang kekasih. Selama tujuh tahun itu juga ia terus menyambangi tempat dulu mereka mengikat janji. Tak seharipun terlewatkan. Ia percaya bahwa bunga hatinya pasti datang menemuinya di tempat yang sama. Penduduk desa mengatainya gila. Tak sedikit anak-anak yang mengejeknya. Bayangkan betapa besar kesetiaan Edgar terhadap kekasihnya. Dia tetap menanti sang tambatan hati yang telah menduakan cintanya.

Penantian Edgar tak sia-sia. Suatu hari, ia melihat seorang gadis berdiri di pinggir danau. Gadis berparas elok itu duduk dibawah pohon kelapa. Tepat saat ia mengucap janji dengan bunga hatinya yang tak kunjung pulang. Tanpa ragu ia mendekati wanita itu dan dia memanggilnya.

“Sonya?”

Wanita itu menoleh. Rambut panjang terurai itu tersibak angin. Rupa ayunya semakin terlihat jelas, meskipun senja kian temaram. Senyum tipis melengkung di balik rona bibirya membuat dada Edgar berontak dengan kencangnya. Namun apalah daya, ternyata dia bukanlah wanita yang ia ditunggu. Wajahnya menunduk lesu. Ia membalikkan punggungnya dan menghilang begitu saja.

Matahari sudah berpamitan pada bumi. Bulan sudah tampak bertengger di kaki langit. Seperti biasa Edgar kembali ke tepi danau demi menunggu tambatan hatinya pulang. Petang berganti malam. Yang terdengar hanyalah suara jangkrik dan jeritan binatang malam lainnya. Ia bergegas meninggalkan danau. Ketika hendak berbalik badan, Ia dikejutkan oleh suara yang lembut memanggil namanya. Ia menoleh. Ia terperangah ketika mendapati kekasih hati yang kian lama menghilang berada di hadapannya. Ia tak percaya begitu saja. Karena Sonya sedikit berubah. Namun, ketika Sonya menjatuhkan diri ke pelukannya, ia percaya. Ia merasakan sama seperti ketika Sonya pertama kali memeluk dirinya. Sekalipun Sonya pernah menjanda, Edgar tetap menerimanya penuh suka cita.

Sekarang, penantian Edgar selama tujuh tahun tidak sia-sia. Bunga hatinya yang selama ini menghilang kembali menemuinya. Sayangnya, dia tak lagi mekar seceria dulu. Sedikit lunglai karena tak ada yang merawatnya. Edgar merengkuh Sonya dalam peluknya. Dengan tekad hati, dia melamar bunga hatinya. Dalam hati dia berjanji untuk memekarkan si bunga hati dengan segala kencantikannya.

***

“AKU…

Pernah tertikam cinta.

Sering dihempaskan badai rindu.

Tapi aku tetap berdiri.

Atas nama cinta, Aku memilih setia.”

Wandro Julio Haman

Tentang penulis:
Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris pada Uiversitas Wijaya Putra Surabaya dan juga redaktur pelaksana di banera.id. Selain cerpen, penulis juga aktif menulis puisi dan artikel yang sudah diterbitkan di beberapa media online.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button