cerpen

Hilangnya mendung di langit rumah

Bahagia Itu terpancar

Ketika mendapat restu Kedua orang Tua

Jangan Pernah lupa bersyukur

Sebab Semua Nyata Karena Tuhan

“Dalam Nama Bapa dan Putera Dan Roh Kudus.” Suara itu begitu menggema dan memaksa umat memusatkan perhatiannya pada panti Imam. Hari ini langit begitu cerah suara-sauara indah nan merdu dari burung-burung gereja seperti bunyi musik Klasik. Koor luar biasa dari para muda-mudi Paroki dalam Gereja sangat mencuri perhatian. Ada sesuatu yang sangat menarik baginya sebagai seorang Pastor. Kali itu hari minggu pertama di tugaskan sebagai Pastor pembantu di Paroki Itu.

Baru beberapa menit ia membaca Khotbahnya, Umat merasa ada yang yang menarik. Ada sesuatu yang mirip antara Pastor dan Ibu itu. Semua bersepakat ada yang kemiripan antara Ibu dan Pastor tetapi sang Ibu tidak mempedulikan hal itu. Ia tetap menatap Panti imam dengan sangat serius mendengar khotbah sembari sesekali tersenyum menatap sang Iman.

Selang beberapa menit Misa selesai. Ia di beri kesempatan untuk memperkenalkan diri. Senyumnnya begitu memikat. Wajah bulat berpadu pipi lesung membuat semuanya menjadi benar-benar jatuh hati terutama semua Kaum Hawa.

“ Nama Saya Arman” Ucapnya.

Setelah perkenalan Selesai Semua mencuri perhatian agar dapat berkenalan lebih dekat dengannya. Ada yang meminta untuk berfoto atau sekedar berjabat tangan. Terutama Para Muda-mudi Paroki.

Semua berkumpul di Pastoran Paroki.     Ada cara bersama OMK dan ada beberapa yang lainnya adalah pengurus Dewan Paroki. Mereka ingin sekali mengenalnya lebih dekat dan memintanya agar bisa menjadi Pastor Pembina OMK Paroki. Ia menerima tugas dengan senang hati dan meminta OMK agar mereka juga dapat bekerja sama. Acara begitu meriah, meski hanya membawa pertunjukan kecil-kecilan tetapi sangat menghibur.

Sudah Petang. Semua Pamit pulang hanya beberapa yang tersisah dari anak-anak OMK.

“Pater Saya Ardy, Kebetulan rumah dekat Gereja dan Mama juga bekerja sebagai Karyawan Paroki.”

“Oh iya Ardy Salam Kenal” sambil berjabat tangan.

“Nah dan Itu Ryani” sambil menujuk pada seorang gadis yang masih mengotak-ngatik hp.

“Dia adalah adik Saya. Dia Baru duduk di bangku SMA, dan dia adalah Ketua SEKAMI Paroki.”

“Hallo Kakak Pater “ sapa Ryani dengan senyuman menujukan Gigi ginsulnya.

 “Hallo Cantik. Sapanya balik.”

“Ets di larang gombal ya Kakak Pater.”

“Ah kamu ini macam cantik saja” Sahud kakaknya Ardy.

“Cieee Inisial depannya sama Huruf A ya, Berarti Aku punya dua Kakak Ganteng donk.’

“Biasa aja Kali. Sahut Ardy.’

“Sudah-sudah tidak apa-apa Ar.”

“Oh ia sudah Kakak Pater, Kami Pamit dulu, kalau ada apa-apa atau butuh bantuan silakan kerumah.”

“Ia ia siap.”

“Daaaa Kakak Pater” Sahut Ryani. Sambil mengikuti Kakaknya Ardy.

Sudah malam. Ia berpamitan kepada Pastor Paroki untuk mengistirahatkan badannya di kamar. Beberapa menit kemudian ponselnya berdering Nteng-nteng isyarat ada pesan masuk.

 “Nana……Selamat berhari Minggu ee”.

Senyumannya kembali terpancar ketika membaca pesan itu. Dari Diana Adik satu-satunya. Dia baru menyelesaikan studi Strata satunya di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta.

“Ia ndu Momang ini baru selesai acara penyambutan di Paroki.Ndu bagaimana,. Apa kabar dengan Bapa dan Mama Ndu ? Saya kemarin e tidak pamitan.“

“Nana tujuannya itu tadi. Bapa dan Mama minta Nana Pulang dulu ee, ada yang ingin mereka sampaikan kepada Nana.”

 “Ia sudah Ndu. Nanti Sya izin di Pastor Paroki dulu.”

Setelah bercakap-cakap dengan adiknya ia duduk di kursi dekat meja belajar di dalam kamar. Ia melihat kembali catatan-catatan lamanya dari ia masuk Seminari sampai ia di tahbiskan menjadi seorang Pastor dan hari ini ia di tugaskan di paroki sebagai salah satu Pastor rekan. Hatinya kembali risau. Perihal masalah keluarganya dulu. Ia seorang anak sulung dan satu-satunya laki-laki dalam keluarga. Sebelum masuk kedalam komunitas ia ia harus melewati beberap pertimbangan karena Bapanya yang tidak merestuinya menjadi seorang imam, Karena Bapanya ingin ia melanjutkan warisan keluarga. Hatinya tambah gelisah. Lalu berlahan kepalanya bergerak menatap keatas ke arah Salib. Yang terletak di atas meja belajar sambil menangis.

“Tuhan Saya tahu rencanamu indah dan Saya Percaya Itu. Saya Percaya seperti Bunda Maria yang menerima Kabar sukacita Itu”

Setelah beberapa menit berdoa ia bersepakat untuk beristirahat.

Lonceng pertama Gereja sudah terdengar, Segerah ia bangun dan memadahkan doa singkat tanda syukur.Lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk misa pagi. Misa Belangsung dengan Aman. Pastor Paroki begitu antusias uamt cukup banyak karena di penuhi OMK.

“Ase Pater.” Sapanya dengan lembut.

“Ia Kae Pater”. Jawabnya.

 “Saya bersyukur sekali dengan kehadiran Ase disini. Jujur sebelum-sebelumnya Misa pagi tidak banyak orang yang datang bahkan hanya pegawai pastoran dan para aspirat dari susteran saja.”

“Hahhaha Kae Pater bisa saja. Itu semua Mujizat Tuhan. Kalau begitu Saya akan menerima tawaran untuk mendampingi OMK kedepannya.”

“Ya Mujizat-Nya lewat Ase Pater. itu yang saya inginkan Ase Jawabnya sembari tersenyum”

“Ae Kakak Pater bisa saja. Sahutnya Kakak Pater sebenarnya Adik ingin menyampaikan Sesuatu.” Sambungnya lagi

“Ia silakan Ase”

“Saya meminta izin untuk hari ini beberapa hari kedepan saya ingin ke rumah. Bapa dan Mama ada perlu.”

“Hae mereka rindu Ase Tuang Ka? Tanyanya. Oleh padahal baru beberapa hari belum sampai seminggu disini.”

“Itu Suda Kae”. Ia hanya bisa tersenyum

lalu ia meminta waktu agar ia bisa menceritakan segala yang terjadi kepadanya sebelum ia pindah ke Paroki.

“Ase saya tahu dan Saya pernah mengalami hal sama seperti Ase. Tapi Yakinlah semua akan indah pada waktunya. Anggap saja ini Skenario Tuhan dalam perjalanan Imamatnya Ase. Kalau begitu biar Ase pulang dulu kerumah. Nanti saya akan sampaiakan kepada Umat, Kalau Ada hal penting yang harus di urus dulu.

“Kae Pater Terima Kasih.” Ucapnya.

Pagi itu terlihat sekali sukacita bercampur kebimbangan dalam Pastoran. Tetapi Ia yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Setelah selesai bercakap dengan Pastor Paroki ia langsung berpamitan menuju kamarnya. Kebetulan Barang-barang sudah ia siapkan. Paling utama adalah Jubahnya siapa tahu sampai di rumah akan ada Misa.

Selang beberapa saat ia keluar dari kamarnya dan lansung berpamitan kepada Pastor paroki

“Kae Pater Saya Pamit.”

“Ia sudah Ase hati-hati ee.”

“Ia Kae.” Sambil berpelukan.

Di depan sudah ada Pak Samir yang sudah menyiapkan diri menghantarnya ke Rumah. Pak Samir adalah Sopir Pastoran yang sudah bekerja belasan tahun.

Perjalanan dimulai. Butuh kurang lebih dua jam menuju kampung halamannya

Sudah senja. Lalu Ia tiba di depan rumah. Ia Kebingungan, Karen rumahnya ramai sekali dengan nyanyian musik rohani.

“Mama, Bapa Nana Sudah datang.” Sahut Diana Adiknya

Sentak satu rumah bersukacita karena kedatangannya. Ia di sambut seperti raja. Ia sendiri kebingungan kenapa tiba-tiba seperti ini.

“Anak daku.” Ujar Mamanya sambil menyambutnya dengan sebuah pelukan dan air mata.

Mama ini ada apa ? Tanyanya. Tak ada Jawaban. Tetapi mama memegang tangannya dan mereka masuk kedalam rumah. Ia terkejut ketika rumah begitu indah penuh dekorasi indah dan terpampang Motto Tahbisannya. Dan juga kata-kata selamat datang dari Pembawa Acara Ia akhirnya menangis dan memeluk Mamanya.

“Nana.” ia terkejut ketika sang Bapa datang Lalu memeluknya sambil menangis. Sentak semua dalam rumah bertepuk tangan.

“Bapa, Mama Nana tidak mengerti maksud dari semua ini.”

Sambil mengusap wajahnya Bapanya langsung memulai pembicaraan.

“Nana ini bagian dari rencana Indah Tuhan. Nana benar jika kami mengiklaskan pasti kami akan bahagia. Kami sudah iklaskan Nana jadi seorang Pastor lalu beberapa hari yang lalu kami langsung menelpon Pastor Paroki mencertitakan semuanya. Kami tahu Nana beban sekali karena kami juga jarang menelpon Nana. Bahkan kami tidak mempedulikan Nana. Kami hanya peduli dengan diri kami sendiri dan kebahagian kami. Kami minta Maaf.”

“Bapa, Mama Nana tidak marah atau apapun. Nana yakin dan percaya pasti Tuhan akan membuka hati Bapa dan Mama. Terima Kasih sudah percaya dan sudah mengiklaskan Saya, untuk menjadi pengikut Tuhan. Terima kasih.” Kata-kata di ucapkannya sambil meneteskan air mata dan memeluk kedua orang taunya.

 Saudaranya juga ikut menangis lalu bergabung memeluk. Sukacita memeluk seuruh keluarga di dalam rumah. Bahkan separuh dari orang-orang yang ada di dalam rumah menangis. Akhirnya hilang mendung di langit rumah. Sudah cerah dan bercahaya.

“Kae juga ikut peluk ta. Hahahhah.” Kata Pastor Paroki.

“Hae Kae ada disini ?”  Ia kebingungan

“Tenang ini Diana yang atur. Hehehehe.” Kata adiknya.

“ Aduh dasarnya. “Sambil mencewer telinga adikknya.

 “Ih maaflah. Tapi kami semua sayang Nana. Peluk lagi.” Kata Diana dan Akhirnya Pastor Paroki juga ikut berpelukan bersama mereka.

 “Setelah Ini Kita Misa baru Kita senang-senang.” Kata Pastor Paroki.

 Eh Kae Terima Kasih banyak sambil memeluk Pastor Paroki.

Sama-sama e Ase Tuang. Intinya jangan lupa bersyukur. Atau bagaimana Diana Umet. ? Diana menjadi malu.

“Aistt Pater ini”. Sahut Diana

Semua bersukacita Karena memang Mujizat. Mendung di langit rumah sudah betul-betul hilang. Semua berkat Tuhan.

Afrianna, Mahasiswa Semester VIII UNIKA St Paulus Ruteng Pencinta Sastra dan Penikmat rindu


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button