cerpen

Indriyanti

Penulis : Fiktorius fransiskus sengga | Biara Rogationist Maumere

Pada malam yang penat sepasang angin berhembus, selalu ada cerita tentang aku yang kesepian, bintang yang menungunya dan waktu yang sebar sebentar, pergi begitu saja meninggalkan aku.  Seketika aku tepiskan rasa lelahku pada secangkir kopi yang bertumpu pada dinding-dinding yang memberi banyak arti, sambil termenung pada suatu cita rasa diri yang tak pernah berhenti bergelora sampai kapan pun. Keheningan pun terjadi, aku membisu meski sesungguhnya gemuruh mobil melintasi jalan, hingga terdengar dan menusuk sampai ke hatiku yang seakan mulai rapuh.

Kesendirian adalah momentum yang paling sempurna untuk berbisik dengan diri sendiri tentang apa saja, tanpa palsu, tanpa malu, dan takut. Lain halnya dengan para penguasa yang berinteraksi dengan rutinitas sehari-hari yang sering kali terlalu menuntut dan mutlak yang hanya memikirkan tentang diri sendiri, dan lagi pula aku telanjur yakin untuk hidup sendiri. Diam-diam mengamati, merekam tiap getir, keluh kesah, atau harapan yang kadang lemah dalam setiap bisikan. Itulah kegemaranku. Aku tetap berada di situ dalam keheningan, seperti para tahanan di bui yang membisu seakan diri ini tidak ada lagi harapan. “Ah, apakah aku sendiri?” Aku bertanya dalam hatiku. Seketika  genteng alang-alang  dan dinding menatapku dengan tatapan syahdu. Sementara itu angin mengisik aroma kopi yang mengembang di dalam  pondok  untuk menarik orang merasakan suasana dalam kebimbangan.

Baca Juga : Musafir Panggilan Antologi Puisi Haris Meme
Baca Juga : Merawat Jalan Sunyi

         Dalam nazar bingung serta rasa jenuhku, tak sengaja aku palingkan wajah ke arah belakang, dan sorotan mataku tertuju pada sepasang bola mata yang bening. Rambut diikat kepang satu. “Cantik sekali dia,” gumamku dalam hati. Aku berhalusinasi dalam nazar bingungku, sebab baru ini aku menemukan bola mata yang membiaskan sinarnya dengan alunan rambut, sehingga menembus sumsum tulangku. Indah penuh pesona buat hatiku bergetar tak dapat menahan rasa ini. Aku bergulat dalam kesendirianku. Apakah aku terbawa imajinasi pada bintang malam ini yang membiaskan sinarnya? Timbul keinginan dalam hatiku untuk merampas sepasang bola mata itu untuk kujadikan alas mimpiku malam ini. Dan aku masih berada di kursi yang berkeinginan untuk tetap melekat sambil berimajinasi tentang takdir selanjutnya bersama alunan music. Seketika  sepasang bola mata  menari-nari di kepalaku.

            Rintik hujan mulai turun seakan menguncang bumi ini dan perlahan menutupi cahaya bintang yang aku temukan malam ini. Barisan meja hijau  dihiasi beraneka cita rasa, serentak menetertawakan aku, mereka lucu melihat aku salah tingkah melihat sepasang bola mata yang takut dirampas gemuruh hujan yang semakin menerobosi dinding hijau. Hujan terlampau cakap seakan mengantarkan kedua bola mata untuk keluar. Aku cemburu rupanya hujan telah menghipnotis dan ingin mengambil bintang dari gubuk hijau.

Baca Juga : Teror dan Teror(isme)
Baca Juga : Divina Commedia: Grazie Dantev (700 tahun Dante Aleghieri)

            “Ah” rupanya si hujan membuat aku cemburu. Aku berpasrah di hadapannya dengan semilir angin basah yang lembab dan dingin. Rinai hujan membuat hatiku mulai meronta-ronta. Cerita tentang bintang yang kutemukan malam ini belum hilang dari ingatanku. Kata orang ingatan adalah belati, dan mungkin matanya adalah sebilah belati yang mengiris-iris hatiku lalu meningalkannya dalam luka berdarah bintang. Aku semakin mendekati di hadapanya. Tubuhku semakin mengigil hebat. Racikan hawa nafsu, jengkel, cemburu, terus membungkusku rapat.  Sementara sepasang bola mata semakin tersenyum melihat aku berpasrah pada lipatan tangan seperti terkena hipnotis dari senyuman indah.

            “Hai,” aku mencoba menyapanya. Ia membalikkan badannya dan menatapku dengan tatapan teduh, namun mendalam seakan  merelungi tubuhku. Aku tahu apa yang ia rasa dan ia tahu apa yang aku rasa. Kami saling menatap penuh gelora dan asmara.

“Namamu siapa”

“Indriyanti kakak.” Nama yang indah seperti orangnya gumauku dalam hati.

 “Emangnya kenapa kakak?”

“Bisa pinjam payung kah? Soalnya cafe ini mau tutup. Tidak mungkin kakak tinggal terus di sini dan hujan sangat lebat. Soalnya kakak tinggal tidak jauh dari sini.”

“Oh bisa kakak,” dan ia memberikan payung miliknya.

 “Terimah kasih ya dek,” hati bergelora kencang ketika aku menatap wajahnya. Ada sesuatu yang seakan menusuk ulu hatiku, hasilnya bukan main membuat mataku seketika berair. Setelah itu ia menghilang ke belakang ditelan gelap. Sebab pondok yang penuh kenangan itu mulai ditutupi rintikan hujan dan aku mulai hilang dengan membawa sejuta kenangan yang indah.

Baca Juga : Hermeneutika Diri : Sebuah Jalan Yang Panjang
Baca Juga : Senja di Pantai Hatimu Antologi Puisi Wandro Julio Haman

          Setelah aku bergulat dengan mimpi, keesokan harinya aku datang untuk mengembalikan payung miliknya. Lagi-lagi aku luluh dihadapannya, seperti bola mata yang kemarin malam menari-nari dalam ingatanku.

“ Hai kak,” dia mencoba menyapaku dengan memukul pundakku.

“Ia dek, kenapa?”

“Ah kakak ngelamun ya,” tanya Indriyanti dengan suara yang keluar dari bibir yang tanpa goresan berwarna merah.

“Oh tidak adek,”

“Mana payungnya?” aku menyodorkan tangan dan tidak sengaja aku menggenggam tangannya. Setelah aku bergulat dengan hatiku, ia mengajakku untuk menikmati kopi sambil bernostalgia tentang masa kecil. Padahal aku cuma berjumpa dan menatap matanya yang penuh syahdu, menikmati senyumnya yang membuat aku luluh, mencium baunya yang selalu wangi, jika aku mencium bibirnya yang manis tanpa goresan merah, itu bisa dilakukan, tapi nanti.

Baca Juga : Hujan di Malam Hari
Baca Juga : CINTA VIRGINIA

Setelah kami bernostalgia menceritakan pengalaman masa kecil, serentak kami terdiam sambil aku menatap kedua bola mata yang indah itu.

“Indriyanti bolehkah aku mengatakan sesuatu?

“Katakanlah kak.”

“Tadi kita berdua bercerita panjang lebar, bahkan satu album pun penuh. Tapi dek ini bukan sesuatu lelucon atau hanya sekedar rayuan dan bukan hal yang biasa.”

“Baiklah kakak katakanlah,”

Sambil aku memegang kedua tangannya, “sejak pertama kita bertemu malam itu aku datang sebagai tamu yang datang seorang diri untuk menutupi luka ini. Aku dilema harus memulai dari mana, entah kenapa saat aku melihat Indriyanti dari arah belakang, hati yang tadi luka seakan telah disembuhkan oleh kedua bola mata yang syahdu, dan dengan senyuman yang indah seakan melelehkan raga ini.”

Baca Juga : Bersyukur Antologi Puisi Frumend Oktavian. M
Baca Juga : Eksistensi Generasi Milenial

“Kakak katakanlah, sebenarnya ada apa?”

“Indriyanti aku mencintaimu. Aku tak tahu harus berbuat apa selain mengatakannya.” Bibirku sedikit bergetar, susah payah untuk menahanya.

“Sungguh?”

“Kau pasti tak percaya.” Perkataan ini seketika menjadi menakutkan, jiwanya sekan menjadi balon udara, tanpa kantong pasir dan udara yang bisa melambungkannya.                

         “Indriyanti maukah kau menerimaku?” dengan nada sedikit malu dan ragu.

“Mau kak,” kata yang keluar dari bibir alami tanpa goresan berwarna merah seakan menusuk sumsum tulangku. Perihal bintang membawa cerita tentang aku dan kau yang masih melintasi bulan dan awan untuk bisa tercapai menjadi kita. Sebab dirimu adalah bintang untuk kehidupanku tempat Tuhan titipkan untuk bersemayam dan menerangi di dalam diriku.

Baca Juga : Beberapa Hari Menjelang Akhir Antologi Puisi Yanri Ona
Baca Juga : Membangun Pemahaman Komprehensif Tentang Perbedaan Status Kewarganegaraan Dan Status Kependudukan

“Tapi kakak, apakah aku bisa pacaran dengan kak? Aku sempat melihat semua galeri kakak di facebook, dengan posisi kakak seperti itu apakah bisa kita bisa menjalin hubungan cinta? Apa kata kedua orangtua saya nanti saat mereka tau kita dua pacaran? Aku tidak mau membuat kakak menyesal nanti.”

 “Mencintaimu, bukanlah dari teori atau hanya meinginkan rasa nafsu, tetapi dari sebuah perjumpaan dengan pertemuan singkat yang menggetarkan perasan, dan mencintai juga kita percaya dan yakin bahwa bersamanya kita dapat melewati semuanya untuk menuju satu kebahagiaan, bahagia bersama cinta,” pungkasku.

Ketika aku selesai menempuh pendidikan, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku dicap menjadi anak durhaka karena aku terlalu nakal. Di mata mereka aku hanya sepuntung rokok yang habis dibakar dan dibuang begitu saja. Maka dengan sedikit berat hati aku putuskan untuk keluar dari rumah. Awalnya aku bingung entah kemana aku harus mengayunkan langkahku di tengah kabut malam yang dingin dan mulai menyelusuri jejak yang fana ini. Aku menangis bukan kehilangan orang tua, harta warisan atau orang yang aku cintai, tetapi karena rasa bersalah dalam diriku. Setelah aku bergulat dengan kesendirianku akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kota, dan bergabung dengan salah satu kelompok. Di mata masyarakat kami ini hanyalah anak gelandangan yaitu kelompok marjinal. Kami hanya ingin kebebasan dan keadilan.  Kami menghabiskan waktu hanya untuk mengamen, dengan tidur beralaskan karton di sisi lorong pasar tingkat. Kami seperti kerikil yang terbuang dari kumpulan, dan berjuang sendiri untuk mendapatkan sebutir nasi dan rokok yang menghantarkan suasana dalam kenikamatan.       

         Kami sering berpindah tempat, sambil membawa alat musik untuk menghibur para penghuni bumi yang berjiwa mulia. Seketika melihat anak pertiwi menyodorkan tangan, dengan pakaian yang onar dan kotor yang bertuliskan kami bukan kriminal. Tapi sekarang kakak sudah tinggalkan semuanya dan tidak bergabung lagi dengan kelompok itu, hanya penyesalan yang masi membekas di lubuk hati ini, dan kakak tidak lagi memikirkan kelompok itu lagi. Tidak masalah bagi kakak, ketika keluarga mengetahuhi hal ini. Kakak pasti membawa kau Indrayanti.   jaga dirimu baik-baik, sebab dirimu adalah bintang yang menerangi kehidupanku, tempat Tuhan titipkan untuk bersemayam, dan kelak kita pasti melewati semuanya ini.

(Awal Desember 2020)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button