cerpen

Jangan Terhanyut Dalam Euforia Kemenangan

Oleh: Ferdi Jehalut

(Idealisme yang kita tanamkan selama masa kuliah diuji dalam praksis hidup di tengah masyarakat)

Dalam mitologi Yunani, dituturkan sebuah kisah Dedalus dan putranya, Ikarus. Dedalus adalah seorang empu-penemu dan seniman besar. Selama bertahun-tahun ia pernah mengabdi kepada Minos, raja Pulau Kreta. Hanya kemudian karena dianggap bersalah ia dijebloskan ke dalam labirin yang ironisnya adalah ciptaan Dedalus sendiri. Suatu ketika, bersama Ikarus, ia merencanakan untuk lari dari Pulau Kreta.

Caranya adalah dengan buat sayap dari bulu-bulu angsa, garuda, burung hering, dan ujung sayap bangau. Bulu-bulu itu dilekatkan dengan lilin pada lengan dan pundak Ikarus dan pada tubuhnya sendiri. Jadilah kemudian mereka manusia bersayap.

Baca Juga : PEREMPUAN: Kewajiban Keadaban Bersama
Baca Juga : Mengencani rindu hingga mampus di atas ranjang

Dengan menggerak-gerakan lengan ke atas dan ke bawah, Dedalus dan Ikarus terangkat ke udara dan mereka berhasil terbang meloloskan diri dari Pulau Kreta. Sebelumnya, Dedalus wanti-wanti berpesan kepada Ikarus, “Anakku, kita tak boleh terbang terlalu rendah, sebab gelombang dapat membasahi bulu-bulu pada sayap kita. Sebaliknya, kita juga tak boleh terbang terlalu tinggi, sebab matahari akan melelehkan lilin yang menyatukan bulu-sayap. Kita wajib terbang perlahan dan tenang, sebagaimana halnya burung bangau.”

Dedalus terbang dengan mantap dan aman. Sebaliknya dengan Ikarus yang terlalu percaya diri. Ia berjungkir balik naik turun di udara, malah sesaat ia ingin menantang matahari. Dedalus berteriak memperingatkan Ikarus kembali, tetapi sepertinya sudah terlambat. Ikarus seperti tersedot oleh suatu kekuatan magnetis, meleset terus ke atas – maju tak gentar – untuk kemudian tiba-tiba saja jatuh menderas dengan kecepatan amat tinggi ke bawah. Suhu tinggi telah melelehkan lilin. Sayap dan bulu lepas berhamburan. Ikarus pun binasa terbanting.

Jangan Lupa Diri

Mitologi di atas bukan hanya hikayat yang memikat dan menghibur. Kerap kali ia juga merupakan tutur bijak yang perlu digosok dan disimak setelah terpendam dan terlupakan selama berabad-abad.


Dari cerita Dedalus dan Ikarus, kita menarik pelajaran bahwa segala sesuatu itu ada batas-batasnya. Dalam euforia kemenangan, kita sering lupa diri dan tiba-tiba merasa apa pun dapat dikerjakan. Padahal, kekuatan super seperti Zeus dan Lucifer pun mudah jatuh tanpa tanggung-tanggung.

Hari ini, ratusan cendekiawan muda secara resmi dikukuhkan menjadi sarjanawan/i di STFK Ledalero. Dengan pengukuhan secara resmi menjadi sarjanawan/i, status kecendekiaan mereka diperjelas dan dipertajam. Seperti pepatah klasik mengatakan “nomen est omen” (nama adalah tanda) dan “der namen ist aufgabe” (nama adalah tugas), nama dan status baru yang diemban oleh saudara-sudari kita hari ini bukanlah sekedar nama. Nama ini menjadi tanda bagi mereka yang di dalamnya termuat tugas dan tanggung jawab yang harus mereka emban seumur hidup mereka.

Baca Juga : Hilangnya mendung di langit rumah
Baca Juga : Frater. Salahkah Aku mencintaimu ?

Tanggung jawab dan tugas yang mereka emban tidak lari jauh dari status mereka sebagai cendekiawan berbakat dan berintegritas.
Hari ini merupakan hari kemenangan bagi saudara-saudari kita yang diwisudahkan menjadi sarjanawan/i. Peristiwa kemenangan ini patut kita rayakan. Mereka telah menimba segudang ilmu di bangku kuliah.

Sejuta idealisme juga mereka telah tanamkan selama mereka masih berada di bangku kuliah. Namun, kita mengharapkan agar mereka tidak seperti Ikarus yang terlampau terhanyut dalam euforia kemenangannya sampai lupa bahwa ada batas-batas tertentu yang mesti diindahkan agar kemenangannya menjadi sempurna. Kita juga mengharapkan agar para sarjanawan/sarjanawati ini tidak seperti Ikarus yang selalu merasa bisa melakukan segala-galanya setelah mereka meraih gelar sarjana. Hal ini perlu ditekankan karena seringkali para sarjanawan/i “fresh graduated” selalu merasa superior dan mengetahui segala sesuatu setelah mereka terjun ke masyarakat.

Baca Juga : Sajak Calon Jenazah Antologi Puisi Wandro J. Haman
Baca Juga : Jangan Dibaca Antologi Puisi Maxi L Sawung

Masyarakat seolah-oleh dijadikan sebagai locus untuk mentransfer ilmu yang mereka dapat. Akibatnya mereka berhenti belajar. Mereka merasa bahwa ilmu yang didapat di bangku kuliah telah menyediakan segalanya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup di tengah masyarakat. Padahal, tidak semua persoalan masyarakat bisa diselesaikan dengan pendekatan keilmuan yang kita geluti di bangku kuliah. Hidup di tengah masyarakat dengan segala kompleksitas persoalannya ternyata tidak hanya butuh pendekatan keilmuan, tetapi juga butuh kebijaksanaan.

“Memang ilmu kita dapati di bangku kuliah, di ruang-ruang kelas, di perpustakaan-perpustakaan, tetapi kebijaksanaan kita belajar di tengah masyarakat.”

Menjadi Garam dan Terang Dunia

Dalam lingkup agama Kristen dikenal kiasan tentang garam dan terang dunia untuk menggambarkan tugas dan kesaksian hidup yang diemban para pengikut Kristus di tengah dunia. Kita mengaharapkan agar para sarjanawan dan sarjanawati yang hari ini diwisudakan sungguh menjadi garam dan terang dunia.

Kehadiran mereka di tengah masyarakat diharapkan dapat menjadi obor pembawa cahaya yang mengusir kegelapan di tengah masyarakat. Kegelapan itu bisa ditafsir dalam banyak hal sesuai dengan kompleksitas persoalan masyarakat. Itu berarti mereka diharapkan hadir sebagai “problem solver” dan bukannya “problem maker”. Agar harapan ini bisa terwujud, kesaksian hidup sebagai seorang cendekiawan sangatlah berarti.

Baca Juga : Kado Imamat
Baca Juga : Indriyanti

Kesaksian hidup yang mereka tunjukkan kirannya bisa meyakinkan masyarakat kita bahwa sekolah memang benar-benar menjadi tempat untuk mendidik orang menjadi pribadi yang berintegritas dan bermartabat. Pada titik inilah kualitas kita diuji. Kualitas kita ditunjukkan bukan hanya dalam deretan nilai yang kita terima setiap kali kita selesai mengikuti ujian atau dalam IPK tinggi yang tetera dalam transkip nilai.

Jangan terlalu berbangga dengan nilai, karena itu hanyalah tanda bahwa kita pernah ikut ujian, tetapi tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa kita cukup berpengetahuan dan berintegritas. Izajah yang kita dapatkan hanyalah tanda bahwa kita pernah sekolah, tetapi bukan tanda bahwa kita berpikir. Oleh karena itu, buktikan dan tunjukkan kualitas kita yang sebenarnya sebagai seorang cendekiawan melalui kesaksian hidup kita dalam menghadapi kompleksitas persoalan di tengah masyarakat. Masyarakat sesungguhnya adalah medan belajar yang paling baik.

Idealisme yang kita tanamkan selama masa kuliah diuji dalam praksis hidup di tengah masyarakat.

Akhirnya saya mengucapkan selamat dan provisiat untuk wisudawan dan wisudawati STFK Ledalero yang hari ini dikukuhkan sebagai sarjanawan dan sarjanawati. Salam dari kami yang mengikuti wisuda dari rumah. “Cintailah Terang Kebijaksanaan”. Viva STFK Ledalero.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button