Puisi

Ketika Hujan Turun Antologi Maxi L Sawung

“Cinta bagi mereka adalah darah dan nyawa

Sedangkan bagi kita adalah jiwa dan keringat”.

Maxi L Sawung

Ketika Hujan Turun

Jika hujan turun seharian
Biarkan kita saling berciuman
Seperti bunyi tik-tik hujan di atas atap
Lalu turun membasahi tubuh menggenang
Kita lupa menambal langit-langit rumah
Sebab terlalu sibuk menyembuhkan luka

Maumere, 2021

Baca Juga : Coretan Dalam Rasa Antologi Puisi Alfa Edison Missa
Baca Juga : Mengulas Penetapan Label KKB “Teroris” di Papua

Udara

Di desa setiap hari kita berlarian
Bebas di alam liar tanpa takut hilang
Memanen udara dari rindang dedaunan
Menjala segar sepanjang lembah basah

Di kota orang-orang betah dalam ruangan
Mencari segar dari mesin pendingin
Mereka lelah menghirup gerah
Terhimpit di lampu merah

Kita: surga sederhana alam
Mereka: dunia semampu rupiah.
Suatu hari nanti kita dilema
Menjaga atau takluk oleh daun merah.

Maumere, 2021

Baca Juga : Pulang Antologi Maxi L Sawung
Baca Juga : Robert Nozick (1938-2002): Teori Keadilan Libertarian

Ranjang

Ada kita di atas ranjang berbagi hangat
Sambil menatap televisi menyala
Ketika kita mulai saling bermanja-manja
Ada berita perang yang belum juga tuntas
Kenapa tidak gencatan senjata saja
Lalu pulang ke dalam malam
Berdamai saling berpelukan
Agar dapat bercinta bersama pasangan
Dengan aman.

Mungkin,
Cinta bagi mereka adalah darah dan nyawa
Sedangkan bagi kita adalah jiwa dan keringat.

Maumere, 2021

“Penulis: Maxi L Sawung, tinggal di Maumere.”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button