Opini

Manisfestasi Manusia Sebagai Makhluk Citra Allah

( Sebuah refeleksi atas pertanyaan who am I )

Banera.id – Jauh dalam diri setiap manusia, ada kerinduan mendalam untuk menjalani kehidupan yang hebat dan agung. Ada kerinduan untuk memberikan sumbangan-sumbangan nyata, memberikan perubahan-perubahan konkrit dan menjalani kehidupan  yang penuh makna dalam eksistensinya.  Namun manusia, kerap kali meragukan dirinya dan kemampuanya. Manusia menganggap dirinya  seolah-olah tidak berguna, tidak memiliki apa-apa, tidak bisa berbuat apa-apa, dan bahkan mengangap eksistensinya hanyalah sebuah materi kosmos belaka.

 Apakah manusia hanyalah sebuah materi semata di dalam kosmos? Ini adalah sebuah pertanyaan fundamental yang esensial dan penting untuk direfleksikan oleh setiap individu manusia. Pandangan manusia yang mengangap dirinya hanyalah sebuah materi semata adalah salah satu bentuk interprestasi yang salah dan merupakan bentuk falacia (sesat pikir) manusia itu sendiri. Selain itu pandangan ini juga bermula dari pardigma atau peta yang tidak utuh atau tidak komplit mengenai kodratn manusia,  dan sesuatu yang meremehkan kebermaknaan manusia serta mengekang bakat maupun potensi manusia itu sendiri, sehinga manusia jatuh pada kecendrungan untuk berpikir victimism ( victimisme, merasa menjadi korban).

Baca Juga : Taat dan Patut Antologi Puisi Alfa Edison Missa
Baca Juga : Berdamai dengan Hati Antologi Puisi Maria Grasela

Dalam terang kacamata iman, hidup manusia dipahami sebagai anugerah istimewa yang berasal dari Allah pencipta (kej.2:7). Sebagaimana yang dikatakan dalam karya spohocles, antigone “banyak hal yang luhur di dunia ini, tetapi tidak ada yang lebih luhur dan agung daripada manusia”. Oleh karena itu, sadar atau tidak sadar manusai memiliki kemampuan atau potensi yang telah tertanam dalam dirinya sejak lahir. Kemampuan atau potensi ini sebagai manifestasi manusia sebagai mahluk citra Allah. Berbagai kemampuan dan bakat dalam diri kita adalah hak-hak yang kita miliki sejak lahir dan anugerah yang dianugerahkan kepada manusia.

 Manusia memiliki kemampuan yang besar bahkan tidak dapat diukur dengan alat ukur apapun. Memang pada dasarnya, manusia adalah mahluk ciptaan diatas bumi sebagaimana semua benda duniawi lainya. Namun bila dilihiat secara lebih mendalam, manusia lebih dari sekedar  benda. Manuisa dapat bertindak, manusia memiliki kesadaran diri dan manusia mampu menentukan pilihanya sendiri serta mempunyai otoritas allamiah untuk menguasai mahluk ciptaan Tuhan lain.

Baca Juga : Gerakan Literasi Versus Gerakan ‘Mengemis’
Baca Juga : Ketika Hujan Turun Antologi Maxi L Sawung

 Ciptaan Tuhan lainnya, khususnya mahluk hidup (hewan dan tumbuhan) bisa bertahan hidup hanya karena kepedulian manusia. Sebab, mereka tidak mampu bertindak, tidak mempunyai kesadaran diri dan tidak mampu menentukan pilihanya sendiri. Menyadari hal ini, manusia sunguh lebih dari sekedar benda yang diciptakan dengan mulia oleh Allah yang transenden dan Allah imane.

   Ada begitu banyak anugerah, yang belum kamu buka sejak kelahiranmu. Ada begitu banyak hadiah berharga yang diberi oleh Allah. Yang maha kasih tidak jemunya mengulang “ apapun milik-Ku adalah juga milikmu”. Ada begitiu banyak anugerah, kekasihku  yang belum kamu buka sejak kelahiranmu ( Hafis). Dalam artian bahwa kemampuan untuk menemukan jati diri kita terdapat pada aktus yang telah dianugerahkan pada kita sejak lahir. Meskipun dalam keadaan terpendam dan belum berkembang benih kehebatan itu sudah tertanam dalam diri kita. Berbagai bakat, kemampuan dan kecerdasan  yang sebagian besar belum berkembang dan masih tertutup kecuali kalau manusia mau membukanya.

Baca Juga : Coretan Dalam Rasa Antologi Puisi Alfa Edison Missa
Baca Juga : Mengulas Penetapan Label KKB “Teroris” di Papua

“pengetahuan diri paling baik dipelajari, bukan dengan merenung atau meditasi, melainkan dengan tindakan. Berusaha keraslah untuk melakukan tugas anda dan anda akan segera tahu orang macam apa anda” (Johann Goethe).

Dalam artian bahwa bakat dan kemampuan manusia dapat dibuka dengan upaya manusia itu sendiri yaitu melalui usaha-usaha manusia yang konkrit. Upaya menemukan jati diri manusia bersifat esensial dan tidak mudah. Oleh karena itu, menemukan jati diri terkadang menuntut manusia untuk berenang melawan arus  pencobaan dan tetap berdiri kokoh di tengah derasnya provokasi budaya yang bersifat negatif, dengan tujuan untuk menciptakan suatu perbedaan yang nyata dan memberikan sumbangan yang nyata dalam hidupnya.

Manusia sebagai mahluk mulia dilahirkan dengan kepintaran atau kecerdasan yang luar biasa. Kepintaran atau kecerdasan manusia meliputi empat dimensi. Keempat  kecerdasan atau kepintaran manusia, seperti: kecerdasan emosional (emotional question), kecerdasan mental (intelligence question), kecerdasan spiritual (spiritual question) dan kecerdasan fisik (physical quotion).  Keempat dimensi itu dimiliki oleh setiap insan sebagai bentuk hak yang dimiiki sejak lahir. Ini adalah pemberian yang paling mulia dari sang pencipta kepada setiap individu manusia. Perwujutan dari keempat dimensi ini menyadarkan manusia akan kemampuan dalam eksistensinya.

Baca Juga : Pulang Antologi Maxi L Sawung
Baca Juga : Robert Nozick (1938-2002): Teori Keadilan Libertarian

Empat dimensi kecerdasan manusia harus dikembangkan oleh setiap individu manusia sebagai bentuk tangung jawab atas hidup. Selain bentuk tangung jawab, empat dimensi kepintaran itu juga harus dikembangkan secara seimbang. Ketidak seimbangan  dimensi-dimensi itu, akan menyebabkan kepincangan. Kepincangan ini akan mengarah manusia pada pandangan yang falsifikasi. Contoh konkritnya adalah Adolf  Hilter (pemimpin nazi Jerman). Hilter memiliki kecerdasan emosional (emotional quotion) yang luar biasa. Dia bisa menarik perhatian semua masyarakat Jerman dengan pidato yang berapi-api yang mampu mengilhami masa pendengarmya dengan ketakutan dan pengabdian yang fanatik, tetapi dia didorong oleh egonya. Kehancuranya disebabkan oleh egonya sendiri atau kekosongan nurani (spiritual quotion).

 Upayah manusia  menemukan potensi dalam dirinya tidaklah mudah dan terkadang mengalami kegagalan. Kegagalan dalam menggapai potensi dalam diri manusia adalah suatu hal yang biasa dalam hidup. Tatapi yang tidak biasa menjadi kebiasaan manusia adalah mengangap kegagalan itu sebagai beban sehinga menyebabkan manusia dalam situasi inaction (mati gerak).

Baca Juga : Robert Nozick (1938-2002): Teori Keadilan Libertarian
Baca Juga : Dampak Pertambangan Terhadap Lingkungan di Manggarai Timur

Namun Pada dasarnya, kegagalan sama sekali tidak membuat manusia dalam situsi inaction, tetapi hal itu menuntut manusia untuk bersikap skeptis, membongkar dan menyusuan kembali kepincangan-kepincangan dalam usaha mengenal siapa dirinya. Atau dengan kata lain kegagalan memberikan kontribusi atau dorongan untuk berusaha lebih keras dalam mengapai potensi itu.

 Generasi sekarang adalah saksi dari perubahan-perubahan baru yang berkembang begitu pesat di zaman moderen ini. Generasi sekarang  hidup dalam perkembangan baru. Akan tetapi, generasi sekarang bukan hanya sekedar hidup tetapi juga dituntut untuk sukses dalam perkembangan baru itu. Perkembangan baru berarti tantangan yang baru bagi manusia. Tantangan baru menuntut manusia berpikir secara baru, memulai cara hidup baru dan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang baru, berdasarkan kapasitas yang dimilikinya.

Selain itu generasi sekarang juga dituntut untuk mengembangkan bakat dan kemampuanya agar dapat hidup dan bersaing dalam perubahan yang baru itu. Dalam falsafah Yunani mengatakan demikian, “kenalilah dirimu, kendalikan dirimu, berikan dirimu”. Dalam artian bahwa manusia harus menyadari eksistensinya, berjuang dan memberikan sumbangan nyata dalam hidupnya.

“Leonardus Gandi. Tinggal di Biara st. Carolus Scalabrinian Ruteng”


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button