Opini

Memaksimalkan Fungsi Media Dalam Berkatekese di Masa Pandemi Covid-19

Banera.idCOVID-19 (coronavirus disease 2019) adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis coronavirus baru yaitu Sars-CoV-2, yang dilaporkan pertama kali di Wuhan Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019.

COVID-19 ini dapat menimbulkan gejala gangguan pernafasan akut seperti demam, batuk dan sesak nafas bagi manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan bahwa Virus Corona (COVID-19) sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020. Hal ini karena Virus Corona telah menyebar secara luas di dunia. Istilah pandemi terkesan menakutkan tetapi sebenarnya, tidak ada kaitannya dengan keganasan penyakit, akan tetapi lebih pada penyebarannya yang meluas. Pandemi Covid-19 telah menjadi bencana global yang mana langkah preventif untuk mengantisipasi penyebarannya dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak dibawah payung peraturan protokol kesehatan.

International Monetary Fund (IMF) menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini tengah mengalami krisis akibat pandemi virus corona. Hal tersebut dikarenakan pendorong utama pergerakan perekonomian yaitu konsumsi rumah tangga belakangan terus melambat.

Di Indonesia sendiri telah ada bantuan atau donasi yang banyak digalakkan mulai dari kalangan pemerintahan, selebriti, pengusaha, hingga masyarakat umum. Virus corona tidak hanya berdampak pada kesehatan tetapi juga berbagai aspek kehidupan lainnya, seperti pendidikan, ekonomi, pariwisata, keagamaan, dan lain sebagainya.

Baca Juga : Dampak Pertambangan Terhadap Lingkungan di Manggarai Timur

Baca Juga : Perjalanan Panjang

Selain tantangan dalam upaya memutus penyebaran virus corona, hambatan lain yang juga dihadapi masyarakat adalah adanya infodemik seputar Covid-19. Infodemik ini mengarah pada informasi yang berlebihan akan sebuah masalah, sehingga kemunculannya dapat mengganggu usaha pencarian solusi terhadap masalah tersebut. Akibat infodemik ini bisa cukup fatal, seperti menimbulkan kepanikan, ketakutan, kecurigaan akut, gangguan psikosomatik, paranoid, memantik kebencian, bahkan sampai menyebabkan korban nyawa. Dilansir dari Healthline infodemik merupakan wabah informasi yang salah yang membuatnya lebih sulit untuk merawat pasien.

Joseph M. Pierre, profesor ilmu kesehatan klinis profesor psikiatri di University of California, Los Angeles, mengatakan kerusakan yang salah informasi dapat bergantung pada seberapa banyak kepercayaan orang pada informasi yang salah mengarah pada perilaku yang meningkatkan risiko infeksi, memperburuk perjalanan penyakit, atau menimbulkan risiko lain dalam hak mereka sendiri.

Untuk menangkal dan mengurangi dampak pandemi Covid-19 dan infodemik, maka diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dan membangkitkan kreativitas nalar untuk berpikir kritis guna mengatasi masifnya sebaran berita palsu atau  infodemik di tengah masyarakat.

 Di sisi lain, peran edukatif dari institusi pemerintahan dan swasta sangat dibutuhkan di dalam menyuarakan hal-hal preventif persebaran pandemi Covid-19 dan infodemik di tengah masyarakat.

Gereja Katolik sebagai institusi keagamaan, melalui Dekrit Penitensiaria Apostolik tentang Pemberian Indulgensi Khusus bagi Umat Beriman dalam Pandemi Saat ini (20 Maret 2020), berpartisipasi aktif sebagai bentuk keberpihakan gereja terhadap sesama yang terdampak Covid-19.

Gereja mengikuti teladan Sang Guru Ilahi, selalu punya kepedulian kepada orang yang sakit hatinya. Seperti yang ditunjukkan oleh Santo Yohanes Paulus II, nilai penderitaan manusia ada dua: “penderitaan supernatural karena berakar dalam misteri ilahi penebusan dunia, dan yang juga sangat manusiawi, karena di dalamnya orang menemukan dirinya, kemanusiaannya, martabatnya, dan perutusannya” (Surat Apostolik Salvifici Doloris, 31).

Karunia indulgensi (pengampunan) khusus ini diberikan kepada umat beriman (Katolik) yang terjangkit wabah Covid-19, yang umumnya disebut Coronavirus, dan juga kepada para dokter, tenaga medis, anggota keluarga dan semua orang yang dalam berbagai kapasitasnya, termasuk melalui doa, merawat mereka. “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12).

Kata-kata yang ditulis oleh Santo Paulus kepada Gereja di Roma bergema sepanjang sejarah Gereja dan membimbing pertimbangan umat beriman dalam berhadapan dengan semua penderitaan, penyakit dan bencana. Kita harus menyadari bahwa pewartaan Sabda Allah adalah bagian penting dari tugas pokok Gereja. Pewartaan Sabda Allah adalah juga tugas pokok dari semua umat beriman sebagai murid-murid Kristus. Hal itu diperintahkan oleh Kristus kepada murid-muridNya: “Pergilah jadikanlah  semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28,19).

Sebagaimana judul dari tulisan ini, maka hal substansial dan fundamental yang menjadi esensi penulisan esai ini adalah Peran Katekis Bagi Masyarakat di Masa Pandemi.

Baca Juga : Kawal Desa

Baca Juga : Orientasi Pendidikan di Tengah Modernisasi

Katekis adalah semua umat beriman kristiani, baik klerus maupun awam yang dipanggil dan diutus oleh Allah menjadi seorang pewarta Sabda Allah. Dengan kata lain profesi kehidupan seorang katekis adalah mengajar, mewartakan Sabda Allah. Panggilan menjadi Katekis adalah panggilan luhur yakni mengambil bagian dalam tugas pengajaran Yesus Kristus di dunia sebagai guru atau Nabi. Di sisi lain, Katekis sebagai anggota Gereja, juga menjalankan tugas dan misi Gereja. Tugas Gereja yang dimaksud adalah melanjutkan karya Kristus sendiri yang datang ke dunia untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran, untuk menyelamatkan dan bukan untuk menghakimi, untuk melayani dan bukan dilayani (GS art 3).

Sedangkan Misi Gereja yakni melanjutkan pewartaan Kerajaan Allah. Menjadi pelayan Kerajaan Allah berarti berusaha dengan segala macam cara untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah, seperti; persaudaraan, kerjasama, cinta kasih, keadilan, hormat kepada hidup dan sebagainya. Hal ini berkaitan dengan martabat manusia, hidup memasyarakat dan segala usaha dan karya manusia.

Dunia sedang dilanda pandemi Covid-19 dan infodemik, peran dan partisipasi aktif seorang katekis sangat diharapkan. Kehadiran katekis diharapkan mampu menjadi sahabat untuk memberikan kekuatan, motivasi, bimbingan, penghiburan dan peneguhan rohani bagi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 dan infodemik.

Keberpihakan seoarang katekis terhadap masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 dan infodemik merupakan wujud nyata atau tanda kehadiran Kerajaan Allah. Pada akhirnya, mereka merasa diterima, terhibur, dikuatkan dan termotivasi, sehingga mampu membangkitkan semangat baru dalam kehidupan mereka.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button