cerpen

Nostalgia Alarm Tua

(Mengenang kehidupan semasa kanak-kanak bersama bapa dan mama)

Penulis : Alfa Edison Missa

Aku mengukir masa dalam bayang isi kepala, kugoreskan di atas kertas berlumuran sedikit lelehan tinta, walau tak sebanding dengan lelehan keringat yang tumpah menyerupai tetesan air asin yang berjatuhan membasahi bumi kala itu, sewaktu sang lelaki tua memikul sepotong kayu sepulangnya dari ladang. Dengan langkah yang gemetar berusaha mengeluarkan sejumlah kekuatan dari dalam tubuh tuanya yang masih segar bugar semasa langit membiru dan awan mengantung di sana, berjalan naik turun lembah mengabaikan lelah, segala yang hidup di atas bumi menagak itu. Betapa hebatnya sang lelaki itu, sunguh kata-kataku kelu dan tintaku kabur, sulit dieja dengan kata yang tertata untuk melukiskan semua gambaran tentang lelaki hebat itu, ibaratnya rumus matematika yang tak mudah dipahami oleh kaum awam.

Saat pagi menjelang sembari malam berpamitan pulang, aku teriakkan suara ini dari kerongkongan pena bekas yang dibeli oleh sang ibunda semasa dedauan masih rimbun berlapis menebal menghijau di padang terus dibasuh embun pagi waktu silam

Baca Juga : Cinta dan Toleransi Dalam Kaca Mata Mahatma Gandhi Serta Relevansinya Dalam Membangun Kesatuan NKRI

Baca Juga : Petualangan Cinta di Kampung Ndoso

Aku simfonikan sebagai pengganti suara khas yang terdengar di tiap bangun pagi awal mentari datang menyapa, tumpahan selaksa bening embun membasuh jiwa, di tiap petang sehabis mentari menghilang, sewaktu senja masih sibuk mewarnai langit dan aku belum tampak di pandangan sang ratuku. Masa terus berganti masa, suara khas itu terbesit di sela-sela hari dalam waktu bergulir.

Pagi itu, mata masih sangat berat jika diukur beratnya, paksa dibuka untuk memastikan alarm tua (suara yang terdengar samar-samar di depan pintu kamar tiap hari tanpa lelah tanpa lemah), suara khas dengan volume otomatis, melingkar tiap hari di sekeliling halaman, semakin cerah semakin keras, cicilan macam-macam kerja dirincikan satu persatu tanpa catatan ibaratkan seorang manager memberi jadwal kegiatan tiap-tiap hari kepada bawahannya. Sedangkan sadarku masih dalam bayang mimpi yang berakar di dalam ingatan di atas pangkuan tempat tidur, memaksa agar benar-benar sadar, bangun pagi tepat waktu, tanpa dibangunkan jarang ditemukan di kalangan anak-anak seusia kita kala itu, sungguh puisi-puisiku berkelana dalam kebisuan.

Baca Juga : Petualangan Cinta di Kampung Ndoso
Baca Juga : Kontaminasi dan Kritik Demokrasi Indonesia

Sementara dari sela-sela diding, sahutan suara burung terdengar sangat merdu menari dan bernyayi, menyambut pagi dengan wajah berseri kesana kemari, menari di atas atap rumah. Suasana sangat riuh dipermainkan sayup-sayup angin menerbangkan sadar menyambut pagi, di atas rerumputan pun tumbuh titik-titik embun yang bening melata di sudut rumah sementara kelakar dalam bayang isi kepala merajut selaksa keindahan kala itu.

Seketika mentari tumpah di atas tikar bumi, suara khas mama ikut tumpah dalam kuping, mengalir dalam jiwa, meresapi tubuh hingga menembus sum-sum tulangku, aku yang masih nihil kala itu, dengan sifat kekanak-kanakanku, aku segaja menutup telinga rapat-rapat hingga tak kedengaran suara itu. Akh, dasar anak durhaka! Akan tetapi entah mengapa semakin lama aku menutup kuping semakin tak tenang dalam batin.

Baca Juga : Hanya Ibu yang paling tahu Antologi Puisi Yonaz Don Bosco
Baca Juga : Perempuan dan Kopi Antologi Puisi Afriana

Aku tak paham kala itu, mengapa mama lakukan itu semua, yang ada dalam pikiran adalah bentuk kejahatan dari mama, bentuk siksaan. Kini aku coba menelaah masa itu, betapa hebatnya dengan lantang suaru itu. Sangat jelas suara itu masih kusimpan di benak hingga keabadian nanti. Kini akupun paham kata-kata waktu itu mama hanya mau aku bangun sehingga dapat menikmati pagi yang begitu tenang, sunguh merenggut jiwa dan batin. Tapi di situlah kemesraan hidup yang sebenarnya.

Diam dalam makna.

Aku terdiam membisu seribu bahasa,

Suara alarm khas mama terus bergumam sadarkan tidur yang masih setengah sadar, selaksa doa yang tak baik terucap berkali-kali dari bibir yang  penuh dosa, berharap alarm itu tidak dibunyikan lagi.

Nihil dan kekanak-kanakanku semakin menjadi-jadi kala itu

Ah, alarm itu berhasil mencungkil balik telinga dan aku harus kumpul segudang niat untuk bangun. Terdiam sejenak sadarku sembari asik menelaah bahasa alam dalam diam

Menelan masa dalam bayang isi kepala

Dipucuk daun masa paling mudah

Aku memetik suara paling merdu

Dengan jemari tua paling halus

Sangkut di tunas hati paling lembut

Melekat, dan memikat di pohon jiwa, menghilang dan teduh dalam raga berhembus di tiap helaan napas

Terus terbayang ingatan dan masih terasa dalam kerongkongan dan seluruh tubuh hingga masa kini

Lilitan benang batin paling kuat, terus mengikat hidup dan kehidupan

Tertebaran senyum khas dari langit wajah yang paling teduh, menempel di dinding hati,di ujung ranting gelap, awal terang hari-hari lalu

Di balik dinding masa paling mudah

Tempat mengadu keluh kesah

Di rahang pagi kala itu, waktu masih membuta dan pikiran masih terisolasi, nihil dalam kehampaan layaknya unggas liar sedang melatih anaknya mencari makan untuk bertahan hidup dan dengan suara khas dari induknya sebagai alat pantauan kepada anaknya dalam mengarungi alam rimba raya untuk hidup dan kehidupan.

Tetaf, (9 Juni 2021)

“Alfa Edison Misa. Lahir di Tua,21 Juli 1998 dan merupakan mahasiswa semester delapan STKIP Soe”


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button