Puisi

Perasaan Tumbuh Dengan Cacat Antologi Puisi Alfa Edison Missa

Sungguh merana selepas pandang
Impianku tumbuh pincang di rahim percakapan
saat obrolan semakin mencekam
melaju dengan hening berkeping dan membisu tanpa bius.

Alfa Edison Missa

Perasaan Tumbuh Dengan Cacat

Biarkan perih yang melatih kebiasaan dan luka yang melatih Perasaan
Untuk Tumbuh sebisanya.

Kususun rasa dalam kertas batin
Tersimpan pada laci lubuk hati
Tercatat pada goresan tinta harian
Langkahku sesuai kekuatan hati

Niatku merangkak Kembali berdiri
Jiwa berteriak lelah mengalah
Menolak hati untuk menjaga hati
Kebenaran rasa tak bisa dibantah

Kataku kelu dan tintaku kabur
Kulukis parasmu dengan goresan tinta
di atas kertas dalam lamunan
Saat pagi datang menjemput fajar
Saat siang pergi mengantar senja
Saat malam memeluk raga yang pilu

Sungguh merana selepas pandang
Impianku tumbuh pincang di rahim percakapan
saat obrolan semakin mencekam
melaju dengan hening berkeping dan membisu tanpa bius

Aku membiarkan luka yang melatih kebiasaan
dan perih yang melatih perasaan dengan didikannya
dalam wadah berlukis seni kehidupan
agar rasa bertumbuh dan berkembang sebisanya
dan alamku pun mengakui
Betapa hebatnya sang pelukismu

Akar-akar mata seakan terlepas
Ranting-ranting niat pun patah
Gugurkan dedaunan kelopak mata
Tumbuhkan tunas perasaan sadar
Terlatih hingga menjadi terbiasa
Saling sapa agar tidak saling asing

Jangan memeluk rasa
Nanti menderita raga.

Tetaf, 15 Mei 2021.

Baca Juga : Nostalgia Alarm Tua
Baca Juga : Cinta dan Toleransi Dalam Kaca Mata Mahatma Gandhi Serta Relevansinya Dalam Membangun Kesatuan NKRI

TINTA KAMAR SERAKAH
; Spesial For KKN

Lirih suara bersiul dari kamar
Lantunkan bait-bait gelap di balik jendela
Suara itu sangat lembut selembut bulu rindu
Dada makin berdebar simbol tanda tanya

Malam bergerak bersama bisikan hitam
Gerak jiwa terus menyentuh jiwa lain
Bisikan hati terus memanggil hati lain
Ketakutan merangkak digoda keasyikan

Suara itu terus menari dalam kuping malam
Eksperimen lilin habis dibakar sang gelap
Beberapa episode kamar serakah terekam dalam buku harian
Rangkaian kata resmi sebagai julukan hitam

Gerak bisikan gelap menjalar bersamaan
Malam semakin melata di sudut kamar
Embun pun meresap dipori-pori gelap
Sorotan bola matapun semakin suram

Bola semakin berat untuk dipikul sendiri
Ranting-ranting malam semakin menunduk
tak ada lagi kata
Kekuatan hitam patah disepertiga malam
Kepalan tangan bersimpuh ampun
batin berucap doa lalu tertidur

Kebersamaan dan kekompakan sangat penting untuk hidup dan kehidupan.

Tetaf, 12 Mei 2021.

Baca Juga : Petualangan Cinta di Kampung Ndoso
Baca Juga : Kontaminasi dan Kritik Demokrasi Indonesia

KERIKIL UJUNG RABAT

Isi kepala menelaah bayang mimpi
Jalanan tampak sukar ditapaki
Riuh suara alam menyambut pagi
Kaki mungil meraih kerikil duri

Batu-batu kecil menghalang kemesraan jalan
Terlepas dari pelukan campuran
Sepertinya tubuh butuh dikuatkan
Langit termenung, sang mentari bersiul dibalik awan

Pelindung tubuh kini diiris tipis
Hempas di tubuh jalan berkerikil
Bagian yang lain tersobek masa
Jarum waktu penentu di rahim bumi
Aku, Kamu, Dia dan Mereka – “KITA”
Mengayam rasa menenun Kasih

Melempar segudang kekuatan
Menata langkah luruskan jalan
Burung pun terkesima dan menari
Bernyanyi mengiring jejak kaki

Tumpahan tinta mengalir jernih
Desain kenangan melukis sejarah
Merangkak lalu beranjak pergi
Mengais kehidupan yang terjal.

Kerikil hanyalah hiasan untuk jalanan, cobalah berjalan sambil menikmati kehiduapan.

Tetaf, 12 Mei 2021.

Alfa Edison Misa lahir di Tua, 21 Juli 1998 dan merupakan mahasiswa semester delapan STKIP Soe.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button