Opini

PEREMPUAN: Kewajiban Keadaban Bersama

Hari ini, 21 April, ingatan kita terarah ke seorang perempuan. Ia bukan perempuan biasa. Ia adalah tokoh historis di negara kita. Namanya RA Kartini.

Tentu, hal yang paling kuat dalam ingatan kita adalah pernyataannya: “habis gelap terbitlah terang.” Pernyataan ini mengendap dari cara hidupnya, proses yang dilalui “dari gelap ke terang,” dari keadaan tanpa kondisi menuju yang terkondisi.

Kondisi adalah suatu keadaan baru yang mengandung di dalamnya suatu kebenaran. Kondisi adalah kebenaran itu sendiri. Kebenaran historis. Dengan perkataan lain, kondisi adalah hidup yang mengandung kebenaran historis.

Baca Juga : Hilangnya mendung di langit rumah
Baca Juga : Mengencani rindu hingga mampus di atas ranjang

Alain Badiou berbicara tentang “l’être et l’événement,” semacam kondisi yang di dalamnya kebenaran dapat dimengerti melalui kejadian-kejadian tertentu.

Kejadian ini dapat dipahami melalui suatu keterbukaan di dalam dunia. Ada proses ‘menjadi’ yang kontinu dan proses itu melahirkan sesuatu yang baru.

R A Kartini, pada masanya, telah belajar banyak dari kejadian-kejadian hidup. Ia melihat dan bahkan mengalami banyak kejadian. Ia adalah bagian dari kejadian-kejadian historis. Entakah itu adalah penderitaan, pelecehan, penindasan, pengabaian, ditinggalkan, dipasung, pemerkosaan, penghinaan, pembunuhan, terkungkung dalam kultur patriarkat, terpenjara dalam nasib; semuanya adalah kejadian yang mengkondisikan dirinya, kaumnya ke dalam ‘le Deuxième Sex ‘ meminjam kata-kata Simone de Beauvoir. Ini adalah suatu kategori yang subordinatif.

Persoalan yang paling fundamental muncul bukanlah persoalan siapa itu perempuan tetapi apa itu perempuan? Persoalan ini lahir dari kondisi tertentu, dan kondisi itu telah sekian lama menciptakan kejadian-kejadian yang mengenaskan dalam sejarah. Ada perlakuan sadis terhadap kaum perempuan, yang membuat mereka terkungkung dalam jargon tertentu. Seolah mereka bukan bagian dari ‘human beings.’

Baca Juga : Liku – Liku Politik Menuju Revolusi
Baca Juga : Bencana Alam Konsekuensi Sikap Skeptis dan Apatis Manusia

RA Kartini, seperti De Beauvoir, berjuang untuk suatu nasib, dan nasib itu amat eksistensial. Nasib itu ada hubungan dengan perlawanan terhadap totalitas kaum pria.

Perlawanan Kartini ada kaitan dengan penegasan akan kebenaran eksistensial. Setiap perempuan adalah pribadi bermartabat.’ De Beauvoir menulis “I must first of all say: ‘I am a woman.’

Kebenaran kodrati ini bersifat absolut. Perempuan sebagai perempuan adalah manusia bermartabat. Martabatnya adalah kemanusiaannya, tak terbandingkan dengan laki-laki.

Sebagai manusia bermartabat, perempuan adalah ‘lyan’ yang ‘unquestionable.’ Kodratnya adalah keberlainannya, dan keberlainan ini bukanlah suatu medan untuk tindakan mengobjektivasi.

Baca Juga : Sajak Calon Jenazah Antologi Puisi Wandro J. Haman
Baca Juga : Frater. Salahkah Aku mencintaimu ?

Keberlainan itu merepresentasi suatu medan etis. Keberlainannya mewahyukan suatu realitas kebenaran bahwa seluruh dirinya, dunianya dan bahkan semua kehadirannya adalah kebenaran yang eksistensial.

Oleh karena itu, ketika RA Kartini memperjuangkan misi pembebasan perempuan dengan semboyan “habis gelap terbitlah terang”, Kartini bermaksud meruntuhkan tembok-tembok kegelapan tertentu.

Memang, kebenaran ada hubungan dengan keterbukaan. Kebenaran adalah keadaan tanpa selubung dan keadaan itu adalah bagian dari transformasi.

Kodrat kemanusiaan perempuan adalah ‘faktum,’ dan faktum itu memiliki – apa yang Habermas maksudkan – ‘species ethics,’ dasar pertimbangan tanggugnjawab atas ‘human dignity’ bagi semua perkataan dan perbuatan kaum lelaki.

Mari kita bangun mitra dengan perempuan dalam ruang kemanusiaan yang sama, di mana kita bertumbuh bersama sebagai mahkuk yang beradab dan berbudi luhur.

Baca Juga : Jangan Dibaca Antologi Puisi Maxi L Sawung
Baca Juga : Kado Imamat

Kita bangun mitra bukan karena ‘mereka itu perempuan’ dan karena ‘kita adalah pria,’ melainkan karena, baik mereka maupun kita adalah manusia yang beradab. Ketika semua memiliki kewajiban keadaban bersama sebagai manusia bermartabat. Inilah prinsip hidup yang secara etis dan moral disebut “the duty of civility.”

Salah satu ucapannya yang terkenal adalah “banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang akan menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.” Ini awasan Kartini buat kita.

Selanjutnya tentang hal buruk dalam hidup yang menimpa kita, Kartini berkata “Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang.” Demikianlah, kita perlu waspada dengan hidup dan diri kita sendiri.

Selain itu, tentang pikiran yang terbuka Kartini berkata “gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” Ini adalah tipe perempuan yang progresif, memilik prospek dan cerdas. Orientasinya selalu ke depan.

Lalu, bagaimana kita harus meraih kebahagiaan dalam hidup? Kartini menasihati kita begini “terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu.” Ya begitulah hidup.

Akhirnya, untuk sampai kepada kemenangan dalam hidup, Kartini memberi kita tip.

“Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang.” Ya, demikianlah kita harus hidup, jika kita ingin menang dari suatu kegelapan.

Felix Baghi SVD ( Dokpri )

Dosen Filsafat di Ledalero


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button