cerpen

Perjalanan Panjang

Suatu ketika di pagi yang indah, kami sekomunitas berangkat ke suatu kampung yang orang bilang surga tersembunyi, yaitu Pulau Besar.

Surga kecil yang letaknya di tengah-tengah laut. Untuk menempuh tempat ini, kami membutuhkan nyali yang kuat. Setiap pengunjung yang hendak ke pulau tersebut tentunya harus memiliki jiwa sehat dan raga yang tangguh untuk menumpangi kapal.

Hamparan lautan yang luas nan indah, membuat kami terpana memandang pesona karya tangan Tuhan.

Untuk mengarungi lautan yang begitu luas, dan hendak ke surga tersembunyi itu, kami menggunkan perahu kecil yang berkapasitas lima puluh orang. Kami yang hendak berngkat ke sana berjumlah tiga puluh orang. Kami sekomunitas dan ditambah lima belas orang warga Pulau Besar. Sebelum perahu motor yang kami tumpangi melepaskan sandaran dari pelukan sang dermaga, ada pria setengah baya yang sudah menanti kami dengaan begitu setianya di atas perahu. Dia adalah anak kandung dari ibu pertiwi itu. “Ayo silahkan masuk. Kita hendak berangkat!” teriakan sang nahkoda yang akan mengantar kami. Kami  yang tidak terbiasa menumpangi, secara perlahan dan penuh hati-hati masuk ke dalam perahu.

Baca Juga : Kawal Desa

Baca Juga : Orientasi Pendidikan di Tengah Modernisasi

Orang- orang yang mendahului kami telah mengisi tempat-tempat yang menurut kami begitu nyaman. Kami baru pertama kali menumpangi perahu itu merasa bingung dan heran, bagaimana cara menumpangi kapal yang benar.

Seorang penumpang yang bersama kami, dia berteriak dari belakang,  “anak  fr. duduk di sini, tidak apa-apa, aman kok.” Mengendengar suara itu kami bergegas dan mencari tempat duduk yang paling aman dan yaman.

Perahu pun melepaskan sandarannya dari pelukan erat sang dermaga, dan perjalanan kami untuk menjalankan tugas pewartaan dimulai. Secara perlahan-lahan kapal itu meninggalkan dermaga. Kami yang baru pertma kali mengarungi lautan luas merasa ketakutan dan gemetar. Namun dengan bimbingan sang Nahkoda Agung, kami tidak merasa cemas lagi. Yang menambah kami gemetar ialah nakoda kapal menempatkan kami duduk paling belakang.  Sejak saat itu, kami bertiga gemetar dan takut.

Baca Juga : Transformasi PMKRI: Membentuk Kader Intelektual Populis

Baca Juga : Kepada C.A Antologi Puisi Maxi L Sawung

Kalian tentu membayangkan seperti apa raut wajah seseorang yang belum pernah menumpangi kapal. Tidak hanya itu, berbicara tentang berenang di laut pun kami sangat minim. Apalagi, pengalaman tentang menumpangi kapal, dan mengarungi lautan. Sedikit kemungkinan yang bisa. Itu pun kalau ada, karena keberanian.

Keberanian yang menyakini kami,  membuat kami mampu melintasi lautan yang luas, walau pun perasaan takut masih mengahantui diri kami setiap saat. Pikiran yang tidak karauan mulai menghampiri. Mungkin gelombang tinggi menghatam perahu kami dan terbalik lalu tenggelam. Pikiran pun semakin kacau. Sehingga selama dalam perjalanan, kami tidak saling berbicang satu dengan yang lain. Yang memampukan kami hanya berdoa kepada Tuhan agar kami selamat sampai tempat tujuan.

Kami diam seribu bahasa, sambil memegang tas masing-masing menikmati perjalan kami mengarungi lautan begitu luas tanpa kata dan bahasa, hanya rasa cemas yang mampu berbagi cerita.

Baca Juga : Tuhan ada Dimana ?

Baca Juga : Danau Penantian

Semua orang heran melihat kami karena kami duduk dengan santai tidak menampakan rasa takut atau pun raut wajah yang cemas, karena kami menikmati setiap perjalanan. Tak seorang pun dari mereka yang tahu bahwa kami merasa takut, termasuk nakoda kapal. Hanya kami bertiga saja yang tahu. Mereka hanya tahu bahwa kami orang biara.

Kurang lebih satu jam kami meninggalkan pelabuhan di mana awal dari perjalanan, volume gelombang air lebih besar dari sebelumnya lalu menampar pipi perahu yang kami tumpangi.  Dengan rasa cemas, kami sontak berteriak ketakutan. Orang-orang menjadi kaget melihat kami . Banyak orang juga menertawakan kami.

Dari situ, pasti mereka mengenal latar belakang kami. Salah seorang warga di samping saya bertanya, “Nong sudah berapakali tumpang perahu?”

Aku pun bingung dan malu harus jawab apa sambil menunduk. Selang beberapa menit kemudian, saya menjawab, “bapa, saya baru pertama kali menumpangi kapal.”

“Oh, Nong orang pegunungan, ya? Sudah, tidak apa-apa. Tidak perlu panik. Semuanya akan baik-baik saja Nong.” Saya pun berkata padanya, “iya bapa, terima kasih. Kami tidak takut lagi.” Walaupun nyatanya kami  masih takut.  Setelah  perbincangan singkat itu,  nakoda kapal mengumumkan bahwa sepuluh menit lagi kapal akan bersandar di dermaga Pulau Besar. Penumpang diharapkan selalu siap. Mendengar pengumuman nakoda itu, kami merasa bahagia. Dan sejak itu kami mulai bercerita satu sama lain. Setiba di dermaga Pulau Besar, semua penumpang diajak turun termasuk kami.

Baca Juga : Tuan Malam Antalogi Puisi Ilak Sau

Baca Juga : Covid-19 Menyebabkan Banyak Orang Banting Setir Jadi Pedagang Online

Sekitar sepuluh menit, kami beristirahat sejenak di dermaga melepas penat dan rasa lelah karena seharian di atas kapal sambil berbincang santai memandang pesona senja yang begitu indah di Pulau Besar. Sebelum senja kembali ke pangkuannya, dan sang malam datang menjemput, kami melanjutkan perjalanan karena kami dijemput oleh salah seorang warga setempat lalu dia mengantar kami ke pastoran di mana kami akan menginap selama beberapa hari.

Kami berada bersama umat selama empat hari. Selama empat hari tersebut, kami melaksanakan kegitan katekese pada malam hari. Setelah berkatekese, kami bebabagi cerita dan pengalaman terutama pengalaman yang baru pertama kali naik perahu dan mengarungi lautan. Canda dan tawa menghiasi kebersamaan kami.  Selain berkatekse, adapun kegitan lain yang kami buat bersama umat di sana yakni, menggarap kebun,  mengetam, panen kacang tanah, dan jagung karena bagi kami membagi kasih dan mewartakan karya kasih Allah tidah hanya berdoa semata, tetapi dengan bekerja juga bagian dari pewartaan kasih Allah kalau oarang Latin bilang ora et labora.

Letak lahan yang cukup ekstrem di lereng bukit, tidak membuat kami takut, malas atau pun cape dikarenakan pemandangan di sekitar begitu indah. Daun-daun yang menari dan nyayian burung yang menemani kami saat sedang bekerja.  Pemandangannya begitu indah sangat cocok dijadikan sebagai tempat wisata, apalagi alamnya masih asli dan belum pernah dirusakan oleh tangan jehanam manusia.

Baca Juga : Antologi Puisi Banera.id Spesial Hari Puisi Nasional

Baca Juga : Logical Fallacy on Epstimology

Kurang lebih empat hari di sana, kami kembali ke biara. Kenangan akan surga kecil yang tersembunyi yang orang sering sebut pulau besar takan pernah hilang dari hati. Berat rasanya  kami angkat kaki dari tempat itu. Mau tidak mau, suka tidak suka tapi kami harus pulang. Tempat seribu kenangan walau hanya sekejap namun sangat bermakna. Dalam perjalanan pulang, kami menggunakan kapal. Namun, sedikit berbeda dengan pengalaman sebelumnya. Singkat cerita, kami baik-baik saja hingga tiba di dermaga Nangahale (Maumere bagian Timur). Setiba di dermaga, kami duduk santai, bercerita dan sambil menikmati secangkir kopi bersama teman. Kurang lebih dua puluh menit setelah jeda minum kopi, kami melanjutkan perjalanan ke jalan umum yang tidak jauh dari dermaga, untuk menunggu angkot ke kota Maumere. Beberapa menit berselang angkot yang menuju kota Maumere dengan ciri khas musik masing-masing, dengan full bass,  langsung berhenti di depan kami.

“Wue e pae ma? “ (Abang mau ke mana?) sang konjak (kenek) bertanya. Lalu salah satu teman menjawab, kami mau ke Maumere. Akhirnya, kami tumpangi mobil tersebut sampai di kota. Selama dalam perjalan, kami di temani musik Dj yang diputar om sopir, kami pun terlarut dalam musik DJ yang ia putar dan tidak sadar kepala mulai goyang.

Penulis : Fredy Langgut

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button