cerpen

Petualangan Cinta di Kampung Ndoso

Ervino Hebry Handoko | Alumnus STF Driyarakara, Jakarta

“Frater selamat menjalankan masa TOP. Ini kesempatan untuk mengaplikasikan semua pengetahuan yang kalian dapatkan  di bangku kuliah. Ingat,  jadilah gembala yang baik bagi mereka. Gembala yang berbauh domba, bukan berbauh parfum nona-nona,” demikian pesan romo rektor memberikan peneguhan kepada kami para para frater.

 “Siafrater,” jawab kami serempak.

 Senang rasanya, setelah sekian lama bergulat dengan tuntutan kuliah, kini   saatnya untuk  menikamti masa-masa indah, liburan bersama umat Allah.

Beberapa dari kami mendapat kesempatan untuk TOP di  sekolah, sedangkan aku dan beberapa  teman yang lain mendapatkan kesempatan untuk menjalankan masa  TOP  di beberapa Paroki. Oleh pimpinan, Aku dipercayakan untuk menjalankan masa TOP di  Paroki St. Mikhael Beanio, keuskupan Ruteng.

Baca Juga : Kontaminasi dan Kritik Demokrasi Indonesia
Baca Juga : Hanya Ibu yang paling tahu Antologi Puisi Yonaz Don Bosco                                            

“Bapak  dan ibu sekalian,  di tengah-tengah kita telah hadir  wajah baru, pasti dari tadi kita semua yang ada di sini bertanya-tanya siapakah sosok laki-laki tampan yang ada di samping saya,” canda  pak Mikhael ketua dewan paroki.

 “Untuk tidak membuat kita semua semakin penasaran saya persilahkan  yang bersangkutan untuk memperkenalkan diri” lanjut pak Mikhael.

“Terima kasih bapak Mikhael untuk waktu dan kesempatannya,” dengan percaya diri, aku  pun bangkit berdiri, berusaha tetap tenang di hadapan ratusan pasang mata.

“Bapa dan mama semua, tabe wie, c’o kreba”, sapaku penuh hangat, sembari berusaha  untuk menciptakan  suasana akrab dengan mereka.

“Perkenalkan,  nama saya  Andri, biasa dipanggil frater. Saya ditugaskan untuk   menjalankan masa TOP di paroki Beanio tercinta ini. Saya  berasal dari Wae Lengga. Saya mohon doa dan dukungan dari bapa dan mama semua selama menjalankan masa TOP di sini,  terima kasih,”  perkenalan singkatku   disambut tepuk tangan oleh umat yang hadir.  Perjumpaan malam itu sungguh berkesan. Ini tanda baik, karana aku selalu percaya akan kebaikan Tuhan sebagaimana yang dialami Yeremia.

 “Kepada siapa pun engkau kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang kuperintahkan kepadamu haruslah engkau sampaikan. Jangan takut,  sebab aku menyertai engkau”.

  Inilah kutipan teks Kitab Yeremia yang terus menguatkanku. Kampung Ndoso, lingkungan Golo Kalo  menjadi titik awal pelayananku di Paroki Beanio

Baca Juga : Perempuan dan Kopi Antologi Puisi Afriana
Baca Juga : Covid-19 dan Urgensitas Pertobatan Kaum Kristiani

“Kaka frater, bapa bilang  nanti sebelum pulang ke pastoran jangan lupa singgah di rumah,” sapa seorang gadis cantik.

“Hallo enu, terima kasih. Tapi neka rabo e, saya mau lansung ke  rumah pak Mikhael, soalnya beliau tadi ajak mampir ke rumahnya”

“Ia kaka Frater, Pak Mikhael itu  sa punya bapa em” jawabnya manja sembari melemparkan senyuman ke arahku.

“Waduh, neka rabo enu

“Nama saya Etin  e kaka frater,”  sahutnya sambil menyodorkan tangan ke arahku.

“Andi,” jawabku singkat.

Tanganku tiba-tiba dingin, irama  jantungku pun berubah seketika. Berdetak begitu cepat.   Perasaanku pun campur aduk, antara malu dan kagum. Malu karena kekonyolan yang terjadi, dan  kagum dengan  paras cantiknya.  Rambutnya yang  dibiarkan terurai lepas,  wajahnya yang putih bersahaja, dipadukan  dengan senyuman yang super manis plus bodinya  yang aduhai  cukup untuk memberikan label baginya  sebagai perempuan tercantik di bumi nuca lale.

Seketika naluri laki-lakiku traveling kemana-mana. Bagiku, Cantiknya tidak ada duanya. Sebelas dua belas dengan Anya Greladine, wanita seksi dambaan ribuan lelaki patah hati di republik enam dua. Jujur, ini  kali pertama aku  begitu terpukai dengan kecantikan seorang wanita.  Ia  sungguh  mampu melululantahkan hatiku yang terkadang selalu acuh tak acuh dengan wanita. Kecantikan  yang ada dalam dirinya  menjadi semacam sintesis dari definisi   kecantikan  sebagaimana  yang sering kami perdebatkan di meja makan seminari.

“Kaka frater, kita bisa jalan sekarang?”

 sahutnya membangunkanku dari lamunan panjang.

“bisa-bisa enu,” jawabku singkat sembari beranjak pergi mengikuti irama langkah kakinya.

 Perjalanan dari dari rumah tempat kami mengadakan katekese ke rumah bapak ketua dewan paroki  cukup jauh. Kami memanfaatkan waktu yang panjang untuk saling bertukar cerita.  Perjumpaan yang singkat itulah yang memungkinkanku mendapatkan beberapa informasi penting tentangnya. Gadis mengil yang berhasil membuatku  salah tingkah ini  ternyata  anak kedua dari empat bersaudara dan saat ini ia sedang studi di UNIKA St.  Paulus Ruteng semester enam.

Baca Juga : Manisfestasi Manusia Sebagai Makhluk Citra Allah
Baca Juga : Taat dan Patut Antologi Puisi Alfa Edison Missa

Waktu berjalan begitu cepat. Kegiatan OMK pun semakin banyak dan padat sehingga intensitas perjumpaanku dengannya pun tak bisa dibendung. Setiap saat aku selalu berjumpa dengannya baik ketika kegiatan OMK atau pun di saat aku berkunjung ke rumah ketua  dewan paroki.  Perhatian demi perhatian pun sering aku  dapatkan darinya, demikian pun aku untuknya.

 Aku berusaha untuk berpikir posistif,  tidak  telalu berlebihan menafsirkan perhatiaanya. Bagiku, mengharapkan cinta dari orang yang mungkin  tidak mencintai kita adalah patah hati yang kita ciptakan sendiri. Aku pun tidak berniat menciptaan benih-benih cinta di antara hubungan yang telah kami rajut. Aku berusaha untuk menahan diri dan tahun diri dengan posisiku.  

Tanpa aku sadari, ruang perjumpaan yang sering kami ciptakan justru melahirkan rindu yang membara ketika salah satu di antara kami pergi untuk beberapa waktu, persis ketika ia kembali ke kampusnya. Ada perasaaan kehilangan tentunya.  Malam sebelum tidur menjadi berat bagiku.  Bayangan wajahnya terus mengahantui pikiranku.  Kadang dalam meditasiku,  bayangan wajahnya membuyarkan  konsetrasiku. Sampai aku berteriak di hadapan  Dia yang tersalib, Tuhan, belum selangkah aku melangkah, engkau telah menindih aku dengan beban yang begitu berat. Mengapa Engkau membiarkan  di masuk dalam pengalaman hidupku.  Dosakah aku  jika terus merindukannya bahkan menginginkannya. Aku juga manusia yang punya  hati dan  hasrat untuk memiliki.

Baca Juga : Berdamai dengan Hati Antologi Puisi Maria Grasela
Baca Juga : Gerakan Literasi Versus Gerakan ‘Mengemis’

“Kak, cepat  dikit em, soalnya saya ada urusan penting di kampus” pintanya manja.

“Ia enu, pasti”! jawabku singkat.

Perjalanan dari Ndoso menuju Ruteng terpantau cukup lancar. Dengan  mengendarai sepeda motor Supra-X 125 kami melintasi  jalur  lintas Ruteng-Reo. Tikungan demi tikungan, tanjakan demi tanjakan kami lewati, semakin cepat laju kendaraan, jarak antara aku dan dia pung semakin rapat, puncaknya ketika kedua tangannya melingkar mesrah di tubuhku. Ah bahagianya. Ingin rasanya,  kutambahkan jarak tempuh.  Sampai Wae Lengga pun aku siap yang penting ada dia yang menemaniku.

“Kak,  tidak apa-apa saya peluk toh?,” tanyanya manja.

“Tidak apa-apa  enu,” jawabku singkat, sembari mengelus manja tanganya yang  melingkar erat di pinggangku.

Arus lalu lintas semakin ramai ketika kami melintasi  kilometer dua, daerah Watu Alo. Beberapa Travel  dari arah Ruteng menuju Reo melaju begitu cepat.  

Aku tetap konsentrasi, dan terus berusaha agar tepat waktu sampai di Ruteng.  Laju kendaraan pun semakin meningkat, persis di tikungan pertama setekah kilo meter kedua, kami berpasaan dengan sebuah  Truk dengan kecepatan yang sangat tinggi dan mengambil hampir semua badan jalan.  Tidak ada pilihan lain untuk selamat selain  terjun bebas ke selokan.  Brukkk, kami pun  terjatuh.

“Frater kenapa, ada apa?,”

Tanya  romo pastor paroki  yang kebetulan sedang menikmati kopi pagi di ruang tengah pastoran

“Tidak apa-apa romo, saya hanya mimpi buruk saja,” jawabku seadanya sambil berusaha  bangun dari lantai.

Kutatap jam  dinding, masih terpantau aman, pukul 05 WITA. Masih ada jeda waktu untuk persiapan mengikuti misa pagi. Kukenakan jubah kebanggaanku, lalu melangkah pergi. Di hadapan altar suci kubersujud sembari melantunkan madah syukur.

“Tuhan terima kasih untuk berkat-Mu.  Engkau masih menginginkanku untuk bekerja di ladang-Mu. Jagalah dan tuntunlah aku selalu,”.

Dalam heningku, batinku pun bergejolak. Wajah manisnya samar-samar merasakui pikiranku, imajinasiku pada yang ilahi buyar seketika.   

Rinduku padanya pun tak terbendung, hanya satu pintahku padanya,

“Enu, bolehkah aku  merindukanmu dalam diam, dengan takaran  yang terukur, tanpa harus melebihi dosis kekasihmu?”

Entalah!!

Bersambung..

N/ B Cerita ini hanya fiksi  dan imajinasi belaka, mohon maaf bila ada kesamaan nama dan tempat.

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button