Puisi

Pulang Antologi Maxi L Sawung

ia diam, sedih dan senang adalah satu. Ia luput dari maut tapi diusir dari surga”.

Maxi L Sawung

Pulang

Subuh, seekor ayam jantan bersenandung

Ketika lonceng biara berdendang ia melangkah pelan

Membawa dosa yang kantuk dan mulut bau mabuk

di pintu biara ia mengetuk meminta ampun

Dan sedikit anggur. Penjaga pintu memberikan air

Lalu membasuh wajahnya sebelum mengajaknya masuk

Di dalam ruang doa ia mengenal semua wajah

Sebab pernah bersama dia, ayahnya, ibunya, adiknya

Lalu beberapa keluarganya yang telah meninggal

Mereka tersenyum kepadanya seakan telah lama menunggu

Ia belum sepenuhnya sadar ketika imam dari mimbar

Membacakan namanya sebagai orang yang belum terdaftar

Dalam surga.

Ketika ia penuh sadar, tubuhnya sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit.

40 hari nak, kau terbaring di sana. Kau ditemukan sekarat dihantam mobil

ketika pulang kerja. Tuhan masih bersamamu”. Ujar pria tua dari sebelah ranjangnya.

Ia diam sambil menyesal atau mensyukuri. Sebab ia telah luput dari maut

Tetapi diusir dari surga.

2021

Baca Juga : Robert Nozick (1938-2002): Teori Keadilan Libertarian
Baca Juga : Memaksimalkan Fungsi Media Dalam Berkatekese di Masa Pandemi Covid-19

Lazarus

Seperti anjing kami memelihara cinta

Sebelum kemudian dia lapar

Lalu dengan buas memangsa rapuhku

Rindu yang terlepas ikatannya

Entah dengan apa menjinakkannya.

2021

Baca Juga : Dampak Pertambangan Terhadap Lingkungan di Manggarai Timur
Baca Juga : Perjalanan Panjang

Temu Rindu

 Ingin aku tebas dengan dekat

 Ilalang yang tumbuh pada matamu

 Ragu yang menjadikan jawab sia-sia

Sebab seorang petani

Tidak akan sudi membiarkan

Rumput liar tumbuh

Bersama benih gandum

Yang ia rawat dengan keringat

Dan nekat.

2021

Baca Juga : Kawal Desa
Baca Juga : Orientasi Pendidikan di Tengah Modernisasi

Penulis, Maxi L Sawung, sekarang tinggal di Maumere.”


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button