Renungan

Refleksi Akhir Tahun

Penulis Fr. Hiro Edison, SMM.

Saudara-saudariku yang terkasih

            Kita berada di penghujung tahun 2020. Tidak lama lagi kita akan merayakan tutup-buka tahun. Tahun 2020 akan kita tutup dan tahun 2021 akan kita buka dan sambut dengan hati yang meriah. Ada begitu banyak kisah dan pengalaman yang kita alami sepanjang tahun 2020. Kesuksesan-kegagalan, sukacita-dukacita, kegembiraan-kesedihan, perdamian-pertengkaran, kemajuan-kemunduran dalam hidup, harapan-putus asa, dan seterusnya. Semua itu telah memberikan warna yang indah bagi diri kita masing-masing dan yang telah membantu setiap kita untuk bertumbuh dalam kedewasaan dan kebijaksanaan.

Baca juga: Membaca Tubuhmu Antologi Puisi Maxi L Sawung

Saudara-saudari yang dicintai Tuhan

            Kita harus mengakui dengan jujur, tahun 2020 telah menjadi tahun yang terberat dalam sejarah kehidupan ini. Inilah tahun yang disebut dengan nama tahun penderitaan. Ada begitu banyak cita-cita, rencana, program dan proyek kerja, serta agenda-agenda yang sudah disiapkan di awal tahun 2020 akhirnya terkubur mati oleh karena virus covid-19. Semuanya hanya menjadi cita-cita dan teman mimpi bagi pikiran dan khyalan di waktu senggang.

            Covid-19 telah membawa begitu banyak beban bagi hidup. Pekerjaan menghilang, sekolah terputus, penghasilan kerja menjadi tidak pasti, perjumpaan dengan keluarga dan sahabat kenalan dibatasi. Virus yang sama itu juga telah merenggut begitu banyak jiwa manusia. Kita mungkin masih merasa terpukul oleh kesedihan dan dukacita  karena kepergian orang-orang yang kita cintai ke Rumah Bapa: orang tua, saudara-saudari, sanak keluarga, atau sahabat kenalan.

            Pada tahun 2020 ini, bumi tempat kita hidup seolah-olah mati. Keramaian, kesibukan, pesta, perkumpulan, kunjungan keluarga, bahkan kegiatan-kegiatan doa bersama terpaksa berhenti. Semuanya menjadi sunyi dan sepi. Setiap orang saling mencurigai satu sama lain, “jangan-jangan, ia yang ada di depan dan belangkan, serta samping kiri-kananku membawa virus covid-19”. Akibatnya, jabat tangan, pelukan, rangkulan, keramahan, dan tanda keakraban satu sama lain hampir tidak dilakukan dalam tahun penuh derita ini.

            Rasa bosan, jenuh, malas, capek, cemas, takut, dan seterusnya menghampiri setiap diri kita. Bekerja dari rumah, sekolah di dalam rumah, karantina di dalam rumah, takut dan cemas untuk bertemu dengan sesama memenuhi seluruh peziarahan hidup kita di tahun ini. Semuanya bercampur menjadi satu dan menambah beban hidup. Hal itu semakin diperparah oleh karena kita terbelah gara-gara isu politik dan perbedaan pilihan calon bupati dalam pilkada yang tidak lama telah kita lewati. Pertengakran, permusuhan, saling benci satu sama lain menjadi deretan kisah hidup yang mewarnai penderitaan kita pada tahun 2020 yang tidak lama lagi akan kita akhiri.

Baca juga: Sajak Akhir Tahun Antologi Puisi Afrianna

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button