Opini

Robert Nozick (1938-2002): Teori Keadilan Libertarian

Otto Gusti Madung | Rektor dan Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT

Libertarianisme

Seperti Rawls, Nozick juga bekerja sebagai profesor di Universitas Harvard. Sumbangannya untuk filisafat politik ditulisnya dalam karya berjudul Anarchy, State, and Utopia. Karya ini menggambarkan sebuah paradigma politik yang dikenal dengan libertarianisme. Paradigma ini merupakan sebuah model radikal dari liberalisme. Seorang libertarian adalah saudara kandung sang anarkis, dan Nozick adalah penganut anarko-kapitalisme. 

Jika seorang anakist menolak eksistensi negara, maka kaum libertarian menghendak sebuah negara minimalis. Libertarianisme berkembang di Amerika Serikat lewat karya-karya Friedrich von Hayek yang menulis kata pengantar untuk karya Nozick di atas.

Libertarianisme berhubungan erat dengan aliran lain di Amerika Serikat yang dikenal dengan neo-liberalisme Mazhab Chicago. Kedua aliran ini sama-sama menghendaki privatisasi dan deregulasi, mengkampanyekan sikap oposisi terhadap welfarestate dan politik keadilan distributif. Libertarianisme berjalan beriringan dengan fenomen individualisme di Amerika Serikat seperti nampak dalam gerakan protes terhadap politik perpajakan. Di Inggris libertarianisme berkembang pesat pada masa pemerintahan Margareth Thatcher, dan di Amerika Serikat pada masa Rondald Reagan.

Sejak tahun 1971 faham ini mendirikan partai politik sendiri yakni Libertarian Party. Platform partai libertarian ialah memperjuangkan penurunan pajak, menolak subsidi asuransi kesehatan dan sosial oleh negara.

Baca Juga : Memaksimalkan Fungsi Media Dalam Berkatekese di Masa Pandemi Covid-19

Baca Juga : Dampak Pertambangan Terhadap Lingkungan di Manggarai Timur

“Anarchy, State and Utopia” (1974

Tidak seperti Rawls, Nozick memiliki gaya bahasa yang lucu. Contoh-contoh yang digunakannya sangat original. Namun Nozick tidak memiliki kesabaran dan kedalaman analisis seorang John Rawls. Menurut Nozick, sistem welfarestate sangat tidak efektif dan terlalu birokratis. Bahkan ia mencapnya sebagai suatu yang amoral. Salah satu tesis paling kontroversial dari buku ini ialah bahwa pemungutan pajak untuk tujuan pemerataan pendapatan disejajarkan dengan praktik perbudakan. Negara ideal adalah negara minimalis. Tugas negara ialah melindungi hak-hak setiap warga. Negara tidak pernah boleh memaksa warganya untuk membantu orang lain. Juga negara tidak diperbolehkan melarang warganya untuk menjadi kaya dan sejahtera. Libertarianisme menentang paternalisme dalam politik.

Nozick mengembangkan konsep liberal yang lain sama sekali dari para pemikir liberal sebelumnya. John Stuart Mill misalnya adalah seorang liberal sosialis. Dengan prinsip perbedaan Rawls memberi warna sosialis pada konsep liberalismenya. Nozick memotong jembatan yang menghubungkan kebebasan dan keadilan sosial. Ia hanya mengenal kebebasan setiap individu yang berpijak pada self-ownership- kepemilikan pribadi. Nozick memandang prinsip self-ownership sebagai warisan substansial kultur Inggris Amerika yang tak dapat diganggu gugat. 

Baca Juga : Perjalanan Panjang

Baca Juga : Kawal Desa

Nozick berguru pada John Locke. Ia mengambil alih dari John Locke konsep tentang posisi alamiah, hak-hak kodrati (life, liberty and property) dengan penekanan khusus pada hak milik (property). Nozick memahami hak milik dalam arti yang sangat luas seperti pada Locke. Hak milik mencakupi barang milik itu sendiri, tubuh dan apa yang dihasilkan dari proses pengolahan atas barang milik. Nozick juga mengikuti klusul kepemilikan Lock yakni: orang hanya boleh memiliki barang sekian sehingga tak ada yang rusak atau busuk dan barang itu masih harus cukup tersedia bagi yang lain dalam kualitas yang sama. Setiap kepemilikan oleh seseorang berakibat pada hilangnya akses bagi orang lain untuk barang yang sama. Apa yang dimiliki oleh seseorang tak mungkin dapat dimiliki oleh orang lain, kecuali jika ia memiliki barang lain sebagai alat penukar.

Semakin banyak barang yang ditimbun oleh seseorang, maka semakin sedikit sisa untuk orang lain. Nozick menarik garis batas kepemilikan hanya pada kasus monopoli. Tak boleh terjadi monopoli kepemilikan barang-barang kebutuhan hidup. Aturan lainnya sangat longgar: orang boleh memiliki barang sebanyak-banyaknya, yang terpenting masih ada sisa untuk orang lain.

Teori Nozick menjadi original jika ia merumuskan teori asal-usul negara lain dari yang dirumuskan teori kontrak John Locke, yakni sebuah Invisible-Hand-Theory. Menurut teori ini, negara muncul dengan sendirinya entah subjek menginginkannya atau tidak. Negara terbentuk sebagai konsekwensi logis dari kebutuhan akan perlindungan. Proses pembentukan negara melalui beberapa tahapan. Pada tahap pertama dimulai dengan pembentukan organisasi-organisasi perlindungan privat. Organisasi-organisasi ini memiliki beberapa kekurangan. Orang selalu siap sedia. Setiap orang dapat meminta bantuan sesamanya, juga kalau ia hanya menduga bahwa hak-haknya dilecehkan. Dalam organisasi perlindungan itu bisa terjadi pertengkaran atau konflik. 

Dari organisasi perlindungan privat ini muncul pada tahap kedua sebuah masyarakat perlindungan yang profesional. Dengan adanya perusahan ini, konsumen melepaskan hak privatnya untuk menggunakan kekerasan. Keuntungannya ialah bahwa prosedur dibuat untuk menentukan apakah telah terjadi pelanggaran hak seseorang. Prosedur tersebut kemudian diinstitusionalisasi, sehingga dapat menylesaikan konflik antara konsumen perusahan tersebut. Dalam satu wilayah pada mulanya terdapat beberapa perusahan keamanan. Jika terjadi konflik antara perusahan tersebut, maka para klien akan beralih dari perusahan yang gagal ke perusahan keamanan yang bonafit. Dengan cara ini maka terbentuklah dalam satu wilayah sebuah organisasi perlindungan yang dominan.  Lahirlah apa yang Nozick namakan pada tahap ketiga sebagai negara ultra minimalis.  Ini belum merupakan negara minimalis karena perlindungan hanya diberikan kepada klien yang membayar.

Kepentingan dari negara ultra minimalis dan kliennya ialah melindungi diri dari serangan dan pelecehan hak oleh pihak luar. Apakah untuk tujuan ini negara ultra minimalis boleh membatasi hak pihak luar untuk melindungi dirinya secara privat? Nozick menyetujui hal tersebut, asalkan negara minimalis mengganti kerugian pihak luar yang telah kehilangan haknya untuk melindungi diri. Caranya ialah negara ultra minimalis menawarkan perlindungan untuk pihak luar tersebut. Hal ini dianggap adil jika biaya perlindungan tersebut sama besarnya dengan biaya yang dikeluarkannya untuk melindungi dirinya. Dengan langkah ini maka terbentuklah pada tahap keempat sebuah negara minimalis.  Itulah negara yang dilengkapi dengan instrumen Gewaltmonopol guna menyamin keamanan ke dalam dan ke luar. Sebuah negara penjaga malam seperti pernah dirancang oleh John Locke pada abad ke-19.

Baca Juga : Orientasi Pendidikan di Tengah Modernisasi

Baca Juga : Transformasi PMKRI: Membentuk Kader Intelektual Populis

Satu argumentasi tambahan yang mendorong transisi dari negara ultra minimalis ke negara minimalis ialah, jika pihak luar tidak diakomodasi maka akan terciptalah keadaan darurat permanen. Kemungkinan kompensasi terhadap pelanggaran hak-hak sangat terbatas. Kejahatan tertentu seperti pembunuhan tidak dapat dikompensasi. 

Negara minimalis dibangun untuk melindungi hak-hak individual. Hak-hak dimaksud adalah hak-hak kodrati dalam pengertian Locke dan ditambahkan dalam penjelasan tentang “Entitlement Theory” atau teori landasan hak. Teori landasan hak berseberangan dengan teori keadilan John Rawls dan teori-teori keadilan pada umumnya yang berorientasi pada hasil. Nozick menarik garis demarkasi antara prinsip keadilan historis-genetis dan prinsip hasil atau endresult principles.  Teori keadilan John Rawls dikategorikan sebagai teori hasil akhir. Dan hasil akhir tersebut dilegitimasi dengan konstruksi “Schleier der Unwissenheit” (cadar ketaktahuan). Sementara itu teori landasan hak dipandang sebagai teori kepemilikan historis. Teori ini memberikan pendasaran atas konsep keadilan dengan menjelaskan bagaimana distribusi itu muncul. Jika distribusi lahir dari landasan hak (entitlement), maka hal itu dianggap adil, dan ini tak bergantung pada hasil akhirnya.

Entitlement-Theory merumuskan tiga lapisan keadilan yakni acquisition – transfer – rectification. Prinsip “acquisition” berarti seseorang memiliki hak atas suatu barang untuk pertama kali dengan cara memproduksinya misalnya. Prinsip “transfer” berarti hak seseorang atas sesuatu didasarkan atas pemberian orang atau hadiah. Prinsip “rectification of injustice”, hak kepemilikan atas suatu barang karena barang tersebut diperoleh kembali dari orang yang mencuri atau merampoknya. Nozick mengembangkan sebuah teori keadilan yang historis dan menolak ahistorisitas teori keadilan tradisional termasuk teori keadilan John Rawls karena tidak memperhatikan bagaimana distribusi terjadi.

Baca Juga : Kepada C.A Antologi Puisi Maxi L Sawung

Baca Juga : Tuhan ada Dimana ?

Struktur distribusi tidak menjadi minat perhatian Nozick. Menurutnya, struktur distribusi hanya menjadi penting jika barang-barang itu ibarat “mana” yang jatuh dari langit. Jika demikan maka orang harus berpikir dengan pola mana (kebutuhan, jasa, kegunaan) barang-barang itu harus didistribusikan. Namun faktanya, barang-barang tersebut bukan mana dari langit, tapi memiliki asal-usul historis tertentu. Barang-barang itu dihasilkan, diproduksi. Asal-usul historis ini sudah cukup untuk memberikan penjelasan apa itu adil. Atas dasar ini Nozick merumuskan sebuah prinsip yang berbeda dari prinsip Rawls:

Setiap orang melakukan apa yang ingin dia lakukan; setiap orang mendapatkan apa yang ia hasilkan, dan apa yang orang lain lakukan secara suka rela atau hadiahkan dari apa yang mereka perolah sebelumnya dan belum digunakan. … Setiap orang melakukan apa yang dia suka, dan mendapatkan apa yang orang lain mau berikan.” 

Jadi menurut Nozick, setiap individu memiliki hak atas kepemilikan, tukar dan pilihan bebas untuk menghadiahkan sesuatu kepada orang lain. Pilihan bebas ini membatalkan setiap pola distribusi. Nozick menjelaskan tesis ini dengan contoh tentang pemain bola basket kenamaan Wilt Chamberlain. Anggaplah, pada awal mula terdapat sebuah distribusi yang egaliter. Wilt Chamberlain hanya mau bermain jika setiap penonton bersedia membayar tiket masuk seharga 25 sen. Akhirnya 1 juta orang memutuskan untuk menonton. Mereka bersedia membayar tiket masuk. Dengan demikian tatanan egaliter berubah. Wilt Chamberlain menjadi lebih kaya dengan jumlah kekayaan 250.000 dollar. Apakah ini dianggap tidak adil? Setiap penonton secara suka rela telah membayar 25 sen. Siapa yang tak mau membayar, tidak harus menonton Chamberlain bermain. Setiap orang memiliki secara legal apa yang ia sudah miliki. Pembayaran suka rela membatalkan pola distribusi. Dengan itu aturan yang muncul tidak dapat dianggap tidak adil.

Kita dapat mengajukan keberatan bahwa ketaksetaraan yang besar dapat dikompensasi atas nama keadilan. Nozick menolak pertimbangan kritis ini. Distribusi yang dibiayai oleh negara lewat sistem pajak merupakan satu bentuk “kerja paksa”.  Pemilik budak memeras seluruh diri dan hasil kerja para budaknya. Welfarestate yang menarik pajak dari warga untuk tujuan serupa melakukan praktik perbudakan untuk warganya. Ini bertentangan dengan prinsip self-ownership setiap individu. Keadilan distributif untuk Nozick merupakan satu bentuk praktik ketidakadilan.

Perspektif historis-genetis yang ditawarkan menciptakan jarak yang besar antara Nozick dan Rawls. Di samping itu Nozick juga menolak asumsi dasar teori keadilan Rawls. Menurut Rawls, kesetaraan merupakan titik awal, ketaksamaan harus selalu diberi pendasaran. Sebaliknya Nozick tak melihat persoalan pada fakta ketaksetaraan. Seorang tukang cukur dapat saja memprioritaskan konsumen yang selalu memberi tips lebih besar. Dokter sah-sah saja mengutamakan para pasien yang sanggup membayar mahal. Jika saya ingin membeli karcis bioskop guna menonton film, saya memutuskan membeli karcis untuk satu bioskop tertentu tanpa harus mempertanggungjawabkan keputusan itu di hadapan pemilik bioskop-bioskop lainnya. Setiap orang, demikian Nozick, boleh menikmati hasil dari bakat-bakat yang dimilikinya.

Kritik

Ada beberapa catatan kritis atas konsep keadilan Nozick ini.  Asumsi bahwa solusi pasar bebas lebih baik dari solusi yang ditawarkan oleh negara untuk segala persoalan tidak tepat. Negara dapat dan harus menciptakan pelayanan-pelayanan khusus yang sering bertentangan dengan kepentingan modal. Kantor pos harus tetap bekerja juga kalau tak mendatangkan profit. Kebutuhan-kebutuhan seperti pendidikan dasar, peleyanan kesehatan dasar, perawatan orang lanjut usia dan lain-lain tak dapat dibiarkan berjalan menurut mekanisme pasar bebas. Nampaknya kepercayaan Nozick kepada pasar besas agak naif.

Baca Juga : Danau Penantian

Baca Juga : Tuan Malam Antalogi Puisi Ilak Sau

Nozick mengandaikan begitu saja hak-hak individu dan tidak memberi pendasaran. Untuk itu Nozick merujuk pada John Locke. Ha-hak yang diandaikan oleh Nozick adalah hak-hak negatif. Akan tetapi Nozick lupa kalau pemenuhan hak-hak negatif mengandaikan pengakuan akan hak-hak sosial. Basis-basis sosial dari “prinsip penghargaan terhadap martabat pribadi” seperti diungkapkan oleh John Rawls luput dari perhatian Nozick. Prinsp penghargaan terhadap pribadi manusia tidak hanya berpijak pada apa yang dipikirkan setiap individu. Ia juga bergantung dari pengakuan orang lain dan basis-basis sosial yang disediakan oleh sebuah komunitas. Libertarianisme adalah filsafat politik untuk orang-orang kaya, terutama orang-orang kaya di Amerika Serikat. Ia tidak menawarkan sebuah ideal keadilan yang universal.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button