Renungan

Ia Pergi Lalu Kembali

Foto: dok pribadi

Oleh: RP. Ovan, O.Carm

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XXVI
MINGGU, 27 SEPTEMBER 2020
Mat, 21:28-32

Reaksi atau respon kedua anak, baik yang sulung maupun yang kedua terhadap perintah ayahnya adalah gambaran reallitas yang juga mewakili situasi yang kerapkali dan sering terjadi dalam hidup kita setiap hari. Ajakan sekaligus perintah ayah kepada kedua anaknya adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi.

Ajakan sang ayah sebetulnya menyiratkan sebuah tujuan yang mulia sekaligus sebagai bentuk edukasi bagi anak-anaknya. Tentu setiap anak meskipun sedarah atau berasal dari rahim yang sama, namun memiliki karakter yang juga dapat berbeda satu sama lain dan ada kemungkinan beberapa hal yang tidak searah.

Reaksi anak sulung begitu mantap, tegas dan meyakinkan menjawab “ya” terhadap ajakan ayahnya, namun dalam kenyataannya tidak menjalankan apa yang seharusnya. Anak yang kedua dengan penuh kesadaran mengatakan tidak bisa, namun ada hal yang mengejutkan bahwa ia kembali melakukan apa yang dikehendaki serta diharapkan oleh ayahnya berkat kesadaran dan penyesalannya. Dalam keadaan seperti ini, suara hatinya mampu menembusi mata, menjawab harapan yang ada di dalam diri ayahnya serta mengalakkan egonya sendiri.

Sebagai makhluk ciptaan-Nya, manusia memiliki harkat dan martabatnya yang luhur. Manusia sebagai ada yang berproses dalam waktu untuk menjadi. Dalam proses menjadi, manusia harus bekerja demi memenuhi segala kebutuhannya. Ayah dalam kisah injil di atas menunjukkan sebuah perhatian akan tanggungjawab terhadap anaknya tentang pentingnya nilai sebuah pekerjaan.

Segala sesuatu akan diperoleh melalui sebuah usaha dan usaha itu tidak lain adalah kerja, kerja dan kerja. Segala kesulitan, penderitaan, situasi terburuk dalam hidup akan berubah jika orang mau berusaha.

Orang mesti bangun dari tidurnya yang panjang agar ia tahu bagaimana harus berdiri dan bergerak mengejar hal yang mulia dan produktif.
Ada ungkapan “lain di mulut, lain di hati” dan atau “lain yang dikatakan, lain pula yang dilakukan”, apa yang dibicarakan berbeda dengan apa yang dilaksanakan”.

Yang tajam sebetulnya bukan pedang, parang dan pisau tapi justru lidah dan mulut manusia. Dari lidah dan mulut keluar segala hal yang baik dan buruk. Dari mulut dan lidah, orang dapat membawa orang lain kepada perdamaian tapi juga pertentangan.

Hidup butuh kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Kadang orang menyembunyikan diri di balik tembok besar yang dibangunnya sendiri, orang begitu asik di dalam zona nyaman yang diciptakannya dan sulit untuk keluar darinya. Oleh karena itu orang perlu menjaga mulutnya agar tidak berlumut dan berbau oleh kata-kata yang menyakitkan dan menghancurkan, melainkan menjadikan mulut sebagai sumber yang menghadirkan berkat melalui sabda dan kata-kata yang menggembirakan, menyejukan hati, memotivasi dan mengubah.

Ingatlah bahwa setiap kita diberi satu tugas atau tanggungjawab, sekurang-kurangnya kita bertanggungjawab atas hidup kita sendiri dengan melakukan apa yang dapat membuat dan memberikan kehidupan. Tugas dan tanggung jawab itu harus diimplementasikan dalam sebuah bukti konkret yang berguna dan memiliki nilai plus bagi hidup kita sendiri dan bagi orang lain yang dijumpai serta dilayani dalam kehidupan.

Kita sekalian dicintai Tuhan. Tuhan adalah kasih. Adanya tidak menciptakan perbedaan melainkan menyatukan yang putus, memberi harapan di tengah kecemasan. Sebagai manusia beriman, kita mempunyai tugas untuk meneruskan apa yang menjadi kehendak Tuhan sendiri.

Tidak cukup dengan mengatakan “ya” dan sebatas pada kata yang manis dari bibir. Ya yang keluar dari mulut mesti disertakan dengan sebuah tanggung jawab besar dalam perwujudannya. Kata “ya” tidak sekedar sebuah jawaban persetujuan, namun di dalam kata ya yang sama itu, kita sedang memikul sebuah tanggung jawab yang besar untuk mengkonkritkan apa yang menjadi harapan bersama demi bonum comune.

Kelemahan, kerapuhan sebagai manusia adalah hal yang harus kita terima. Dalam segala kehebatan berkat potensi-potensi yang kita miliki tidak menjadikan kita berbangga hingga kekal. Ada saatnya kita bisa jatuh dalam keterpurukan yang luar biasa dan orang lain akan berada di atas kita. Kesadaran akan manusia yang terbatas harus menjadi roh yang terus mengubah kita.

Penyesalan memang selalu datangnya kemudian, namun kita mesti tetap berusaha dan bersemangat untuk melakukan hal-hal yang baik dalam hidup dan kehadiran kita harus menjadi berkat bagi orang lain. Jika tidak, kita akan menjadi seperti para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang pintar menggaungkan sabda dengan benteng aturan yang kaku tanpa melibatkan hati nurani dalam menyikapi sesuatu.

Kita mesti bangkit seperti para pemungut cukai dan pelacur yang bangun dari masa lalunya yang gelap pekat untuk sadar lalu melakukan hal-hal yang mengubah. Bertobat adalah obat untuk memurnikan hidup dan merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Mari berproses di dalam waktu dan jangan menyita waktu yang ada dengan urusan-urusan kenikmatan sesaat, tetapi jadikan setiap waktu berharga bagi diri sendiri dan sesama.

*Imam Karmelit. Saat ini menetap di rumah retret Karmel Elia Mageria Mauloo

Artikel Terkait

Komentar

  1. Renungan bacaan hari ini, namun juga inspiratif. Pejuang sejati adalah ballance antara kata dan tindak… Dan kata sejati itu “Membangun” bukan mengimplementasikan emosi dangkal…. Perfect Romo….

  2. Amen ??
    Orang yang mau kembali perlu diapresiasi dan diberi ruang. Kenyataannya, seringkali terjadi mereka yang kembali tetap di cap sebagai pembangkang, penjahat, dan pendosa.
    Seperti penggalan lagu Ebiet G. Ade: Tetapi nampaknya semua mata memandaku curiga…..
    Apakah dalam sejarah orang mesti jadi Pahlawan
    Sedang Tuhan diatas sana tak pernah menghukum”.

    Makasih Romo Renungannya.
    Selamat pagi
    Selamat beraktifitas
    Nggae Berkat ??

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button