cerpen

Aku Akan Kembali

Ilustrasi: ranuman

Oleh: Venan Samudin

“Tenang aja Vin, aku pasti akan kembali bersamamu” demikianlah janji yang ku ucapkan di hadapan Vina. Hujan turun dengan lebatnya saat aku mengikrarkan janji itu. Pagi tadi aku mengajaknya untuk ketemuan di sebuah taman yang berada di ujung kota dingin itu. Sebab di taman itulah untuk pertama kalinya berkenalan dengan Vina.

Saat itu aku bepergian ke taman yang diujung kota dingin itu seorang diri. Sekedar untuk melepaskan kepenatan. Aku duduk pada sebuah bangku panjang yang terletak di ujung taman itu sembari menikmati keindahan taman. Ku edarkan pandangan ke setiap sisi taman, sungguh taman itu indah sekali.

“Tolong…tolong…. tolong…” sebuah suara minta tolong tiba-tiba menggema. Serentak aku mengalihkan pandangan mencari sumber suara. Aku berdiri dan memastikan indera pendengaranku bekerja sebaik mungkin. Dan ternyata sumber suara itu tak jauh dari tempatku duduk. Dan hanya dengan satu gerakan saja aku tiba di tempat sumber suara itu. Di sana kujumpai seorang gadis berambut lurus nan panjang tengah menutup mata. Kakinya terus bergerak, sembari mengumandangkan syair minta tolong.

“Hai nona ada apa?” tanyaku sepelan mungkin.
“Aa,,aa ada tikus di bawah sini” jawabnya. Mendengar jawabannya aku sontak tertawa.
“Hanya dengan tikus saja kok takutnya seperti ini” ujarku.

Gadis itu kemudian menatapku dengan tatapan super tajam, bak serigala yang siap menelanku hidup-hidup. Ku ambil tikus yang ada di bawah bangguku tersebut dan membiarkan tikus itu berjalan menjelajahi semak-semak. Ku dapati gadis itu tengah menarik napas panjang bertanda legah. Setelah itu aku kembali dan meninggalkan gadis penakut itu. Rupanya bangku di ujung taman itu masih menantiku dengan setia, buktinya tak seorang pun yang meletakkan badannya di atas bangku panjang itu. Aku pun kembali melanjutkan kegiatan yang tadinya sempat ralat.

Kembali ku pandangi taman itu dengan saksama. Entah kenapa hatiku selalu damai bila sudah berada di taman itu dan untuk alasan itulah mengapa aku selalu mengunjunginya.
Aku tak menyadari entah sejak kapan gadis penakut tadi duduk di sebelahku.

“E..ehhh, kamu seperti setan saja, nongol tanpa permisi”.
”Emangnya taman ini punya kakek kamu apa?” katanya.

Aku berusaha untuk tidak menggubrisnya. Kupandangi gadis itu dan kudapati dia sedang tersenyum penuh kemenangan. Seorang pun tak bersuara, hening lalu menguasai situasi. Dalam rangka memecah keheningan yang menyelimuti kami, aku pun mulai membuka mulut.

“Namaku Trisno, kalau kamu siapa?” ku ulurkan tangan kepadanya.

“Aku Vina” jawabnya sembari menggapai tanganku.

“Ngomong- ngomong kamu ke sini dengan siapa?” tanyaku berusaha mengakrabkan suasana.

“Sebenarnya aku ke sini bersama teman-temanku, tapi aku tidak tahu sekarang mereka pada kemana” jawabnya.

“Oh,,,, iya terima kasih ya, untuk yang tadi”. Mendapati aku berkutat dengan kebingunganku ia pun berkata

“Untuk bantuan yang tadi maksudku”.

“Ohhhhh yang itu, sama sama” Jawabku.

Suasana pun semakin akrab, ternyata Vina itu orangnya asyik juga, ia piawai bercanda.

“Vin, ternyata kamu ada di sini” segerombolan gadis berlangkah ke arah kami.

“Pantasan, ternyata ada pria ganteng di sini” kata salah seorang dari mereka.

“Kalian ke mana aja sih, tega ninggalin aku sendirian” Vina memelas.

“Ha ha haa” serentak teman-temannya tertawa.

“Ngaku aja deh kalau kamu sebenarnya senangkan kita ninggalin, karena ada si ganteng tuh yang nemanin kamu”.

Kulihat wajah Vina serentak memerah. Rupanya ia malu dikatain sama teman-temannya. Singkatnya seperti itulah kisah kami berawal, kisah antara aku dan si dia ‘Vina’.

Setelah perjumpaan pertama di tempat itu, saya masih sering menjumpainya di tempat yang sama. Anehnya serasa kebahagiaan menjadi lebih mudah digenggam ketika berada bersama dengan Vina. Dan baiknya lagi hubungan kami menjadi semakin dekat saja. Dua bulan setelah perjumpaan pertama itu status hubungan saya dan Vina sudah berubah, bukan lagi sebatas teman biasa kami telah menjadi sepasang kekasih.

*********

Setelah berikrar janji ‘aku akan kembali’ kepada Vina, keesokan harinya aku melangkahkan kakiku ke kota seberang mesti dengan hati yang teramat berat. Aku bertekad untuk melanjutkan pendidikanku di tempat yang lain dan tempat yang baru sama sekali. Aku hendak mewujudkan seberkas harapan yang telah ku rawat bertahun-tahun lamanya.

Konsekuensinya sangatlah jelas, aku harus berjauhan dengan Vina. Namun demi menggapai impian dan demi memiliki masa depan yang cerah, mau tidak mau aku harus melakukannya.

Satu bulan telah kami lewati, kami ternyata masih bisa membina kisah asmara meskipun terpisah oleh jarak dan waktu. Kami rajin bertukar kabar dan saling berbagi cerita tentang keadaan kami masing-masing. Jarak yang cukup jauh bukan menjadi alasan bagi kami untuk tidak saling berkomunikasi. Katanya, di sana ia sangat merindukanku, merindukan setiap pelukan hangat yang selalu ku berikan ketika masih menjejakan kaki di kota kami berasal, kota dingin.

“Hati-hati yah, jangan sampai kamu jatuh cinta dengan gadis-gadis di sana lalu kamu mulai melupakanku”, pesan Vina.
Hatiku berbunga-bunga saat ia mengingatkanku dengan kata-kata seperti itu, paling tidak itu adalah luapan isi hati yang barangkali telah menjadi beban yang harus dia pikul selama kami berjauhan tempat tinggal. Dan satu lagi, menurutku itu adalah bukti betapa besar rasa cintanya kepadaku. Kepadanya aku juga memberi pesan yang sama.

Aku merasa legah dengan setumpuk jawaban yang ia berikan kepadaku, ia berjanji bahkan berani bersumpah bahwa hal itu tentu saja tidak akan pernah dilakukannya. Untuk kedua kalinya ia berhasil menguatkan aku untuk tetap menjaga keharmonisan hubungan kami.

Sampai bulan yang keenam menurut kalender hubungan jarak jauh kami, komunikasi selalu kami kedepankan. Tak pernah kubiarkan sedetikpun waktu berlalu tanpa memberi kabar kepadanya. Aku sengaja mendaftar tuk menjadi anggota dari beberapa organisasi di kampus, tujuannya tidak lain dan tidaklah bukan demi menyibukkan diri supaya tidak ada waktu tersisa yang ku miliki lantas menjadi peluang bagiku untuk mencari dan menemukan pacar baru di kota itu. Aku sudah sangat yakin dengan hubungan kami.

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, bencana datang menjengukku, aku sudah tak mendengar kabar dari Vina. Aku berpikir bahwa mungkin saja dia masih sibuk dengan jadwal kuliahnya yang begitu padat dan aku tak berani mengganggu apalagi merusak kesibukannya. Memasuki bulan yang kesembilan aku masih belum mendapat kabar darinya. Kenyataan ini sedikit membuatku kecewa, dan kemarahanku hampir mencapai titik jenuhnya. Namun syukurlah pada hari yang ketujuh dalam bulan yang kesembilan, ia mengabariku. Setelah menuai kabar darinya, setumpuk kemarahan berserta rasa kecewaku lenyap begitu saja. Dewa keberuntungan kini berpihak padaku. Aku merasa senang karena ia kini kembali memberikan kabar kepadaku.

“Maaf No, aku sibuk sekali beberapa bulan belakangan, banyak tugas kuliah yang harus aku selesaikan segera. Aku kini menyesal karena selama ini telah berprasangka buruk dan berpikir yang bukan-bukan tentang Vina. Aku mengutuk diriku sendiri. Lagi-lagi aku kembali menemukan titik pijak untuk tetap setia menjaga keharmonisan hubungan kami. Aku lalu berjanji untuk tidak akan pernah menaruh curiga lagi kepada Vina.

Hari-hari dalam bulan yang kesembilan itu, tidak kami ijinkan untuk beranjak dan berlalu begitu saja. Kami selalu mengisinya dengan ketekunan untuk saling memberikan kabar satu sama lain. Kerinduanku kini mulai terjawab, kesepian kini sudah tidak berani lagi datang mengunjungi hari-hariku, sebab telah ada Vina yang melawat dalam kehidupan ini. Aku jadi semakin mencintai Vina sekarang. Ku coba untuk membuang jauh-jauh segala pikiran yang buruk tentang Vina.

Kepada Vina aku berjanji bahwa pada tahun keempat kami berada di bangku kuliah, aku akan datang ke rumahnya. Menemui kedua orangtuanya, dan memberitahu mereka tentang rencana kami untuk membina hubungan kami selangkah lebih jauh dan lebih serius. Aku bertekad untuk melamarnya tepat pada ulang tahun hari jadian kami yang keenam. Aku sudah mempertimbangkan semua itu dengan matang. Dan perihal rencana itu Vina sendiri sudah sangat setuju.

********

Kini kami telah melewati tahun ke empat masa kuliah kami, sebabnya kami berencana untuk menjalankan liburan bersama-sama untuk melepas rindu selama empat tahun. Perihal rencana liburan, aku telah menyiapkannya sejak lama. Kami berencana untuk bertemu di taman tempat kami memulai kisah asmara kami. Sekedar mengenang perjumpaan awal yang menyenangkan. Tibalah saat liburan yang ditunggu-tunggu. Sesuai rencana, kami akan bertemu di taman.

Kami akan berjumpa tepatnya pada sebuah bangku panjang yang dulu sering kami tempati kala kami mengunjungi taman itu. Semoga saja bangku itu masih ada sampai saat ini. Matahari condong ke Barat kala ku injakkan kaki di taman. Ku susuri taman itu dari sudut ke sudut setelah memastikan bangku favorit kami masih ada. Setelah empat tahun tidak menginjakkan kaki di sana, aku merasakan begitu banyak perubahan dalam taman itu.

Taman itu kini telah tertata dengan lebih baik. Banyak pohon yang dahulu masih kecil kini sudah tumbuh besar. Sembari menanti kedatangan Vina, aku sibuk mencari sesuatu di sudut kanan taman. Di sana kami pernah mengabadikan nama kami pada sebatang pohon. Lantas aku mendatangi sudut itu dan betapa senangnya aku ketika melihat tulisan itu masih ada. Aku sempat berpikir tentang reaksi Vina ketika ia melihat tulisan itu.

Ia pasti senang melihat kenangan indah itu. Selain itu, kami juga pernah mengabadikan kisah asmara kami dengan menanam sebatang anakan pohon beringin. Aku senang sekali. Tadi sebelum mengitari taman itu dari sudut ke sudut, terlebih dahulu aku pergi ke tempat kami menanam pohon itu dan kulihat pohon itu telah tumbuh besar. Rupanya banyak pengunjung yang suka berteduh di sana.

Terlihat dari beberapa bangku panjang yang disediakan di sekitar pohon itu. Vina pasti akan sangat bahagia, batinku. Aku duduk pada bangku panjang kesukaan kami sembari menunggu Vina. Hatiku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengannya, memandang wajah cantiknya, wajah yang menjadi sumber dari segala rindu dan cemas ku selama ini. Jemari ini telah lama kusiapkan untuk kembali menyentuh jari-jari tangannya yang begitu lembut dan menggemaskan.

Aku sempat membayangkan bagaimana Vina akan berteriak amat keras dan berlari dengan tangan terbuka, siap memelukku. Ia pasti sangat senang karena kini aku sudah berada di dekatnya lagi. Ia akan berlari sembari menitikkan air mata kebahagiaan sebab laki-laki pemberi kehangatan itu kini telah kembali. Aku hendak menepati janjiku kala itu. Janji untuk datang kembali kepada Vina.

Gadis yang sudah tak asing lagi bagiku itu kini memasuki gerbang masuk taman. Hatiku bernyanyi dengan riang, ketika memandangnya yang perlahan tapi pasti melangkahkan kaki ke arahku. Jantungku berdetak sedikit lebih kencang ketika ia semakin dekat dengan tempat dimana aku duduk. Kini penampilannya sudah berbeda, ia terlihat lebih dewasa. Wajahnya masih secantik dulu, secantik saat kami bertemu pertama kalinya di taman ini.

Walau sedikit terpengaruh oleh budaya modern, namun ia masih terlihat anggun dan mempesona, setidaknya bagiku. Ia yang menjadi sumber segala kegelisahan dan rinduku selama ini kini ada di hadapanku. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya dan berlari menghampirinya. Serentak saja aku langsung membayangkan saat dimana kami berdua telah menjadi sepasang kekasih untuk selamanya, ia menjadi istriku dan aku menjadi suaminya. Akan ku ceritakan kisah cinta kami ini kepada anak-anak kami nanti, sembari membawa mereka untuk selalu mendatangi taman kota sekedar untuk mengenang kembali detik-detik awal ayah mereka jatuh cinta kepada ibu mereka.

Namun, kebahagiaan dan ceria ku saat itu serentak hilang lenyap, tatkala melihat sosok lelaki seumuranku ikut berlangkah di belakang Vina. Sekitar sejarak dua puluhan meter dari tempatku duduk, Vina berhenti melangkahkan kakinya. Dan bisa dibayangkan betapa sakitnya hati ini saat itu, saat ku saksikan sendiri ia menunggu pria yang ada di belakangnya itu. Sebentar ia menoleh ke kiri sekedar memastikan apakah pria itu telah berdiri tepat di sampingnya atau belum. Saat itu jantungku seakan berhenti berdetak dan kurasakan tubuhku menjadi lelah seketika. Tubuhku hendak roboh saat itu juga, namun aku berusaha untuk tetap terlihat kuat.

Vina berjalan ke arahku dikawal oleh lelaki yang tidak ku tahu siapa. Vina berdiri di hadapanku sambil memegang tangan pria yang sedari tadi terus berdiri di sampingnya dan meminta maaf kepadaku. Ia meminta maaf lantaran tidak mampu menepati janjinya tuk menjaga cinta yang telah ku berikan kepadanya. Ia meneteskan air mata ketika memohon maaf dari padaku. Waktu itu aku tidak dapat berkata-kata, mulutku seakan telah terkunci begitu rapatnya. Aku tidak tahu apakah ia melakukannya dengan tahu dan mau, memilih pria yang ku yakini tidak terlalu mengenalnya lantas membiarkanku hanyut dalam kesendirian? Aku yang merindukannya dari pagi hingga malam, kini telah menjadi seorang mantan kekasih. Sia-sialah perjuanganku selama ini.

Itulah sepenggal kisah yang pernah aku lalui bersama gadis bernama Vina. Pertemuan di taman yang pada mulanya direncanakan untuk membahas hubungan kami lebih lanjut dan lebih serius, ternyata berubah menjadi pertemuan untuk membahas akhir dari kisah cinta kami. Andai Vina mengetahui betapa sakitnya hati ini dibuatnya, betapa dalamnya duri yang dia tusuk. Duri itu kini merobek dan mencabik-cabik hatiku ini menjadi kepingan-kepingan yang tak berarti.

Entah siapa yang salah di antara kami: dia yang tidak mampu setia pada janjinya sendiri untuk setia atau aku yang terlalu mencintainya hingga aku dibutakan oleh rasa cintaku sendiri. Satu hal yang pasti bahwa aku tidak pernah mengingkari janji ku untuk kembali kepadanya, meskipun ketika aku kembali aku tidak lagi mendapatkan tempatku. Seseorang telah merebutnya dariku, atau lebih tepatnya seseorang telah membiarkan tempatku untuk ditempati oleh orang lain.

*Tinggal di Biara Rogationist –Ribang, Maumere.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button