Puisi

Aku Masih Mencari Bayanganmu Antologi Puisi Paulus Lunga

Aku masih merindu dalam kesendirian
Dengan segenggam tanya yang tak pernah temukan jawaban.

Paulus Lunga

Aku Masih Mencari Bayanganmu

Setelah perpisahan kilat yang tak pernah kuduga
Dan pertemuan yang belum tuntas kurajut
Segenang canda yang pernah kita balut
Membentuk sejuta rasa untuk kita berbagi

Aku mengenangmu
dengan sekelumit pertanyaan tak berujung
Juga dengan sejuta rasa sedih tak terbendung
Selalu kupandang dalam bisu
tiap-tiap tempat kau dan aku berjumpa
Hingga mata enggan beranjak menemui kedip
demi mencari bayanganmu

Aku masih merindu dalam kesendirian
Dengan segenggam tanya
yang tak pernah temukan jawaban
Bahkan masih menyisahkan rindu padamu
Dalam setiap hari yang tak biasa

Mata sembab ini ‘kan selalu mencari bayang-bayangmu
Dan tangan pun tak lelah ingin selalu menggenggam tanganmu

Sayang, aku masih disini bersama sejuta rindu
Dalam remang mencari bayang-bayangmu yang hilang.

(Maumere, Januari 2021)

Baca juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus

Kepada Para Pemilik Perjuangan

Hari-hari yang tampak dalam bayangan
Terbangun sudah lelap panjang tanpa bisu
Gemercik air membasahi bumi yang kering
Tenang menepi tanpa menutup semangat

“Apa kabar bumi hari ini?” Tanya nurani
Kupandang dunia sedang sepi dan tak biasa
Tangis berceceran di antara sejuta senyum pilu
Deru canda berubah menjadi kata diam dalam temu

Hari ini langkah bergegas menyusuri sudut-sudut bumi
Berjalan di tengah pertimbangan yang bersuara
Rapatkan barisan, hentakan langkah
Terus maju tanpa takut untuk berjuang

Apa kabarmu dengan bumi yang sedang sepi
Dengar baik-baik tangis para pencari rupiah
Mereka yang tak lelah meniti harap di hari ini
Dan yang tak makan tapi kenyang oleh air mata

Lalu untuk apa kau di sini?
Kalau tak merangkul yang lemah?
Bakar semangatmu di antara segala mimpi
Tunjukan diri di antara kabut yang berlomba
Kepalkan harap, bantu mereka untuk bangkit

Kutitip padamu semua yang belum tersentuh
Di antara tangan yang belum genggam jemarimu
Kutitip semua harapan dan ketakutan padamu
Kelak engkau meleburnya dalam baris doa-doa waktu.

(Maumere, 06 Mei 2020)

Baca juga : Rimbun Kepala Antologi Puisi Maxi L Sawung

Doa-Doa Jiwa

Teruntukmu yang tak bersua tapi terasa begitu dekat

Kutatap pagi dalam bayang penuh kagum
Di antara samar-samar goresan ingatan menepi
Tunduk dalam doa hening bersama hiruk pikuk dunia
Tenang nan damainya bumi kukecup penuh angan

Guratan-guratan sketsa rindu menembus alam sadar
Meneropong dengan utuh suara-suara memanggil
Tak bersua tapi doa-doa jiwa mengalun terus
Membumbung tinggi menembus nirwana

Dalam jumpa yang sebentar telah kau titip harap
Sentuhan kata dan doa utuh mengalir
Di antara ketakutan yang membakar
Tegar mengakar pada nurani
hingga membumi dalam doa-doa jiwa

Apa kabarmu di sudut kota
Mungkin kau kesepian tanpa ada yang menemani
Sudahlah… ini hanya sebentar
Renungkan… kapan kan bersua
melihat bumi mekar dalam senyum

Pulanglah…
Sudahi perihmu dalam sujud pada bumi
Lelap sebentar lalu basuh peluhmu
di antara luka yang bersahutan
Kuatlah melangkah di antara badai yang kau jumpai
Hingga senyum mekar berseri dan sedih mati tak berdaya

Selamat berjuang menyusuri kabut-kabut kehidupan
Kumpul harap lalu biarkan mimpimu beranak cucu
Tersenyumlah walau kadang harap berbeda
Yakinlah di sana ada perjuangan yang akan kau selesaikan.

(Maumere,21 Mei 2020)
Selamat merayakan pesta kenaikan Tuhan.
Selalu ada harapan.

Baca juga : Samudra Kasih Ibu Antologi Puisi Wandro J. Haman

Deru Doa Harapan Disepertiga Abad

Kepada waktu yang telah mengirim hari baru
Suara menggema melewati batas waktu tanpa takut
Sudah pulas imajinasi mendekam dalam alam bawah sadar
Terkuak senyum ranum menghias gelap saat lelap

Padamu senja yang mengajari aku pada sabar
Hingga bergurau riang di antara kecewa dan luka
Tak peduli pada perih yang menodai hati suci
Membasuh dengan tenang
deru-deru doa di antara bisik pagi pada Sang Pencipta

Aku bersujud lusuh pada pencipta
Air mata adalah saksi bisu
Dari sepersekian perjuangan yang berceceran
Sujud pagi berceloteh dengan tangis dalam hati

Apa yang kau buat disepertiga abad telah lalu?
Coba tatap catatan detik waktu yang berjuang tanpa henti
Kutulis sisa waktu ini tanpa harus meratapi setiap kegagalan
Menyurati sepertiga abad dengan seribu harapan

Tuhan…
Aku hanya menulis doaku pada waktu yang bergulir
Di antara sajak doa yang merangkak menuju mesbah-Mu
Cukupkan aku jadi alatmu tuk memeluk ratap sesama
Kelak air mata mereka jadi berkat
Menghapus tiap luka yang pernah kuderita

Biarlah kelak menjadi lukisan pada setiap ziarah tanpa batas
Menjadi kenangan kisah buat mereka yang terlelap
Dalam dekap lara dan tanpa henti
Hingga tangan-tangan lara itu genggam jemariku tanpa henti

Sepertiga abad waktu untuk kunikmati
Terus menabur cinta dengan tangguh tanpa perbedaan rasa
Biarlah semuanya tertulis album penuh senyum
Mngenang kisah sepertiga abad dalam sekat-sekat waktu.

(Maumere, 14 juni 2020)

Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh

Setelah Sisa Jumpa

Kemarin adalah waktu yang kau torehkan
Untuk membungkus tiap kenangan jadi cerita lalu
Menatap dalam diam tanpa kata
Mengalir dengan segudang rindu yang menyala

Kau dan kenangan telah berjalan
Bersama pekat malam
Menyusuri gelap tanpa rembulan
Menembus kabut risau hati
Hingga angin berbisik pada rindu yang terluka

Pada luka-luka rindu yang perih
Aku ingin mengingat jumpa kelam denganmu
Sukar kukatakan tapi ini luka lama
Hilang tanpa kabar
menyisahkan rindu penuh misteri

Kalau mungkin masih mengenang dalam diam
Dan hatimu masih bercerita perihal yang sama
Percayalah… aku masih di sini dengan tenang
Merindukan pulangmu
membalut kembali sisa jumpa.

(Maumre,26 Januari 2020)

Paulus Lunga, seorang mahasiswa di Universatas Nusa Nipa – Maumere. Baginya, menulis adalah hobi yang ia salurkan ketika bertemu waktu senggang.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button