cerpen

Aku Mencintainya dalam Diam

Penulis | Angelina Delviani

Masih ingatkah kau awal kita jumpa? Kala hujan mengguyur bumi tanpa ampun dan aku yang berteduh di depan rumahmu. Kau datang mengajakku masuk, entah itu inisiatifmu atau disuruh oleh bundamu. Aku yang tak suka kopi, tapi kau malah menyeduhnya. Aku terlena. Kukira kopi pahit, pekat dan berampas. Mungkin karena kau yang menyajikannya, hingga yang kuminum menjadi kopi yang manis. Kita berdua berbincang banyak hal, meski dengan cara yang terbatas. Sampai nyamuk yang tak suka akan perbincangan kita mengganggu dengan banyak cara.

Baca juga Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Jujur rasa gugupku tak bisa lagi kutahan, hingga degup jantungku sendiri mampu kudengar. Kau tersenyum tipis seakan tahu apa yang aku alami, kau menggenggam erat tanganku, memberi isyarat agar aku tak perlu segugup itu. Itulah awal kisahku dengan pria misterius yang Tuhan titipkan lewat percikan hujan di kota dingin, Ruteng. Wajahnya oval bak dipahat, hidungnya mancung tegas, hingga kumis tipis yang menambah kesan manis dan karismatik. Made, nama yang sempurna untuk wajah yang tak ada celah. Laki-laki yang selalu berbicara tanpa suara.

Baca juga Diskusi Sabda Pada Waktu Petang Antologi Puisi Epi Muda

Setelah perbincangan lama dengannya, aku bergegas ke rumahku, aku berharap orangtuaku akan menyambutku dengan senyuman hangat. Namun nihil. Aku Delvi, anak tunggal dari pengusaha terkaya di kota Ruteng, Ibu Rina dan Bapak Riki. Aku tak bahagia sedikitpun dengan kekayaan mereka. Sewaktu kecil aku sempat ingin dititipkan ke panti asuhan, untung saja nenekku yang mencekalnya. Sampai di depan pintu, aku sudah disambut dengan kabar tak sedap, “Del, nenekmu meninggal.” Kabar itu bak petir di siang bolong. Sampai di rumah sakit, kulihat nenek terbaring dengan tubuh kaku dan muka pucat.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button