cerpen

Ayah dan Rasa Rindu Masih Susah Kumaknai

Foto:Kompasiana.com

Penulis: Riko Raden

Sesungguhnya hidup ini keras seperti batu karang di tanah Timor. Ingin menjadi orang baik, maka harus bekerja keras. Tak ada yang gratis di dunia ini kecuali matahari di siang hari dan bulan di malam hari. Itulah sedikit gambaran keadaan yang alami oleh Tinus di kampung halamannya. Bapak dari satu orang anak ini benar-benar bertanggung jawab atas masa depan hidup anaknya. Ia tidak ingin menjadi penghalang atas cita-cita anaknya. Ia ingin anaknya menjadi orang baik melebihi dirinya sendiri. Saban hari ia selalu mengeluh tentang hidup juga masa depan keluarga kecilnya.
“Nana! Besok ayah akan pergi ke Malaysia. Ada teman ayah yang pulang dari sana membawa uang banyak. Ayah ingin sekali seperti itu.” Kata ayah saat kami lagi duduk santai di teras rumah sembari menikmati hembusan angin malam.

“Jangan ayah! Aku tidak mau ayah pergi meninggalkan kami di kampung ini.” Jawabku singkat sambil memeluk ayah agar ia tidak pergi meninggalkan kami.
“Nana, ayah tidak sanggup lagi membiayai engkau dan ibumu. Untuk sekarang belum apa-apa karena engkau belum masuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Ayah takut cita-citamu nanti tidak tercapai karena keadaan ekonomi kita. Ayah mau engkau harus menjadi orang baik. Apalagi tempat kerja di kampung ini tidak cocok untuk ayah dengan bermodal ijasah Sekolah Dasar. Mau kerja di kantor desa, biar menjadi security saja tapi tak ada orang dalam.” Katanya lagi sambil mengelus rambut kepalaku. Ayah akan berjanji untuk kembali apabila engkau menjadi orang sukses. Tapi ingat, jangan membuat ibu kecewa. Sekolah baik-baik.

“Baiklah ayah.” Aku hanya mengangguk kepala walau hati terus menolak keputasannya.
Demi menyambung hidup keluarga kecilnya, ayah rela meninggalkan aku dan ibu di kampung ini. Mungkin ayah tidak sanggup membiayai keluarga kecilnya sehingga ia pergi merantau ke Malaysia. Awalnya aku tidak mengijinkan ayah untuk pergi begitu saja meninggalkan aku. Aku sempat menangis agar ayah tidak pergi dan tetap bersama kami di kampung ini. Akan tetapi ayah terus berusaha merayuku agar relakan kepergiannya di tanah yang baru.

Saat ini, ayah telah sepuluh tahun berada di Malaysia. Dalam kurung waktu sepuluh tahun ini dia tidak pernah pulang kampung. Dia selalu mengontak kami melalui telpon hanya untuk menanyakan keadaan kami. Pernah ia buat janji untuk pulang libur biar hanya satu minggu saja bersama kami. Saat dia mengatakan demikian, hatiku sangat bahagia karena bisa berkumpul kembali bersama ayah. Ketika hari dan tanggal yang dijanjikan sudah waktunya, tiba-tiba ayah mengatakan bahwa dirinya tidak jadi pulang karena perusahan tidak mengijinkannya. Entah alasan ini benar atau tidak, tapi aku benar-benar kecewa karena ayah telah mengingkari janjinya sendiri. Walau ayah tidak menepati janjinya, tapi aku masih tetap mencintainya. Dia ada untukku. Dia pergi merantau supaya hidup kami menjadi baik. Ia rela pergi dari orang yang sangat dicintainya demi masa depan hidupku. Ia benar-benar mentari yang selalu menghangat masa depan hidupku.

Ayah selalu mengirim kami uang apabila ibu meminta untuk membeli kebutuhan kami. Aku sangat heran dengan tingkah laku dari ibu. Setiap kali ayah mengirim uang, ibu tidak pernah memberitahukan kepadaku jumlah uang yang ayah kirim. Ibu selalu bersikap diam apabila uang itu telah ada di tangannya. Mungkin ibu tidak pernah berpikir bahwa kalau setiap kali dia telpon dengan ayah apalagi kalau minta uang, aku selalu mendengarnya. Kadang aku pura-pura sapu lantai setiap kali ibu telpon dengan ayah. Entah pada malam hari atau pun siang hari. Ibu tega berbuat demikian terhadapku. Atau mungkin dia tidak berpikir bahwa kalau aku ini anaknya juga walau bukan lahir dari rahim kandungnya. Barangkali demikian. Sehingga setiap kali ayah mengirim uang, ibu tidak pernah membagikan atau membeli pakaian untukku. Tetapi ibu terus memberitahukan kepada ayah kalau uang yang ayah kirim juga membeli kebutuhanku juga. Betapa liciknya ibu. Dia tega membohongi ayah. Dia selalu merayu ayah dengan kata-kata manisnya. Ayah tergoda dan apa saja yang diminta oleh ibu, dia selalu terpenuhi. Betapa sedihnya hatiku melihat perbuatan ibu seperti ini. Betapa sedihnya hatiku ketika mengingat ayah bekerja keras di sana hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga kecilnya. Ayah mungkin tidak pernah berpikir bahwa kalau setiap kali uang yang ia kirim untuk kami hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga ibu untuk merawat orang tuanya yang sakit. Mungkin itulah tugas seorang ayah, segala permintaan dari istri untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarga selalu terpenuhi. Betapa baiknya ayahku.

Setiap kali telpon, ayah selalu menceritakan pengalaman yang menarik selama ia bekerja di sana. Dia sangat antusias ketika ada pengalaman lucu yang membuat kami juga ikut tertawa. Dalam kurung waktu selama sepuluh tahun ini, mungkin aku tidak bisa menghitung sudah berapa banyak ayah mengirim uang untuk kami. Kalau hitung tanggal dalam sebulan pasti aku bisa, apalagi jumlah hari dalam sepekan pasti lebih mudah lagi untuk dihitung. Tetapi soal berapa banyak ayah mengirim uang untuk kami, mungkin jawaban satu-satunya yaitu hanya Tuhan yang tahu. Sebab ayah juga tidak ingat sudah berapa banyak ia kirim uang untuk kami. Tetapi aku heran uang yang ayah kirim tidak ada bukti sedikit pun dalam keluarga kami khususnya untuk mengganti alang-alang bagian atap rumah. Ayah pernah memberitahu kepada ibu agar segera perbaiki atap rumah kami. Alang-alang harus di ganti zeng. Ibu hanya iya saja tapi belum ada buktinya. Semenjak ayah pergi merantau sampai sekarang belum digantikan padahal ayah sering mengirim uang. Kalau seandainya aku menceritakan semua keadaan rumah kepada ayah pasti dia tidak mengirim lagi uang untuk kami. Ayah pasti sangat marah dengan ibu. Tetapi aku tidak ingin hanya karena persoalan demikian sehingga ayah tidak mengirim lagi uang untuk kami. Mungkin ibu masih menyimpan uang yang ayah kirim, walaupun sebagiannya telah ibu pakai untuk merawat kedua orang tuanya. Aku harus menjaga rahasia ini. Hanya aku dan ibu saja yang tahu.

Tak mampu kubayangkan seandainya benar kalau ibu telah memakai semuanya uang yang telah ayah kirim, bagaimana kalau ayah tanya tentang keadaan rumah sekarang. Jawaban seperti apa supaya meyakinkan ayah. “ ah Tuhan, bantulah kami untuk mencari solusi dari persoalan ini”. Kataku dalam hati sembari melihat keadaan di dalam rumah yang tidak pernah berubah.

“ Selamat pagi nana. Apa kabarmu hari ini.” Ketika ayah menelponku pagi-pagi.
“ Selamat pagi juga ayah. Kami baik-baik saja di sini.” Jawabku.
“ Ayah bagaimana kabar juga.” Tanyaku balik.
“ Iya…. ayah baik-baik saja nana. Mana ibumu aku ingin bicara dengannya.”
“Ibu masih cuci pakaian ayah. Nanti aku akan menelpon ayah kalau ibu telah menyelasaikan cucinya. Ada perlu apa sebanarnya ayah?”
“ Aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya. Ada perlu penting nana. Baiklah kalau ibu masih mencuci pakaian, nanti aku telpon lagi saja.”
“ Baiklah ayah. Nanti saya akan beritahukan kepada ibu kalau ayah ada perlu penting.”
“Baik nana. Terima kasih banyak.”

Setelah menelpon dengan ayah, hatiku tidak tenang. Jangan-jangan ayah sudah tahu kalau kondisi rumah kami belum diperbaiki. Atau mungkin ayah tahu kalau selama ini ibu selalu bertingkah kasar denganku. Tetapi siapa yang beritahu kepada ayah. Jangan-jangan keluarga ayah yang memberitahukan kepadanya. Karena mereka sangat tahu keadaan aku dan ibu selama ayah di Malaysia. Tidak mungkin. Ini hanya perkiraan saja. Muda-mudahan tidak seperti itu. Aku juga takut seandainya benar pasti ibu marah kepadaku karena dia kira aku yang memberitahukan kepada ayah. Kataku dalam hati. Ketika aku melihat ibu telah menyelesaikan cuci pakaian dan ia telah menggunakan pakaian bersih dan rapi, aku pun mendekatinya untuk memberitahukan kalau ayah ingin menelpon karena ada hal penting. Aku memberikan handphone kepadanya lalu ibu masuk ke dalam kamar tidur. Tidak lama kemudian ayah menelpon. Ternyata dugaanku sangat benar. Ayah menanyakan soal keberadaan rumah kami. Baru kali ini aku mendengar ayah marah. Ia sangat marah kepada ibu karena ibu tidak bertanggung jawab uang yang ia telah kirim selama ini. Ibu diam saja. Mungkin ia sadar dengan perbuatannya selama ini. Uang yang ayah kirim telah dipakai untuk merawat orang tuanya sedangkan kebutuhan dalam kelurganya sendiri selalu diabaikan. Baru kali ini juga aku mendengar ibu mengungkapakan dengan jujur apa yang telah terjadi. Ketika ibu mengungkapakan kata maaf kepada ayah, tiba-tiba ayah menutup telponnya. Barangkali ayah sangat marah pada ibu. Aku melihat raut wajah ibu ada rasa penyesalan dengan perbuatannya selama ini.

Semenjak kejadian itu, ayah tidak pernah mengirim lagi uang untuk kami. Dia tidak menelpon dengan kami lagi. Mungkin rasa marah terhadap ibu masih ia terus bawa dalam hidupnya. Ayah mungkin sangat marah dengan kelakukan ibu yang tidak pernah menjaga kepercayaan darinya untuk mengurusi keluarganya. Aku sendiri merasakan dadaku gemetar seperti bangun dari mimpi yang dahsyat. Tetapi aku tidak bermimpi. Ini benar, ayah tidak mau pulang kampung lagi. Dia tidak mau melihat kami lagi. Mungkin dia akan tinggal tetap di sana. Sudah berapa kali aku menelpon nomor handphonenya selalu tidak aktif. Aku mengirim pesan tetapi selalu tidak balas. Mungkin ayah sangat marah dengan ibu. Barangkali ia kecewa dengan ibu. Aku sangat khwatir jangan-jangan ayah benar kalau ia tidak mau pulang lagi. Mudah-mudahan tidak. Kataku dalam hati. Aku melihat ibu terus merenung mungkin dia merasa bersalah dengan perbuatannya selama ini. Dia telah membuat ayah kecewa.

Malam ini, aku mendengar bahwa om Markus di kampung tetangga baru pulang dari Malaysia. Sudah satu minggu dia berada di kampungnya tetapi malam ini aku baru tahu. Tanpa memberitahukan kepada ibu yang lagi masak di dapur, aku pergi menemuinya. Aku ingin menanyakan keadaan ayah kepadanya selama ayah tidak menelpon kami kurang lebih satu tahun ini. Kebetulan mereka tinggal satu tempat di sana. Barangkali dia tahu banyak tentang ayah selama di sana.
Dari kejauhan aku melihat rumah om Markus begitu ramai. Setibanya di depan rumahnya mataku mulai berkaca-kaca saat aku melihat om Markus yang sedang duduk di ruangan keluarga. Dia datang menghampiriku, tanpa percakapan panjang aku langsung merangkulnya. “Om Markus, aku sangat merindukan ayah”. Ucapku sambil diiringi derai air mata yang tak kuasa kutahan lagi. Semua orang di dalam rumah langsung diam, melihat aku yang lagi menangis dipelukan om Markus. “Ayahmu di sana juga sangat merindukan nana dan ibumu.” Ucap om Markus sambil mengelus rambut kepalaku. Aku mencoba menahan air mata dan pelan-pelan menanyakan keadaan ayah di sana. Aku juga menjelaskan rinci demi rinci kepada om Markus bahwa ayah tidak menelpon dengan kami selama satu tahun. Dalam keheningan malam, om Markus setia mendengar keluh kesah hatiku. Aku melihat raut wajah om Markus pelan-pelan mulai mengalir tetetasan kaca lunak dan mulai mengalir dari pipinya. “Nana, om minta maaf karena tidak memberitahukan keadaan ayahmu yang sebenarnya. Sekali lagi om minta maaf nana!” Suaranya sangat pelan dan lembut. “Terus om, bagaimana keadaan ayah di sana?” Aku tidak puas dengan penjelasannya. “Nana! Suaranya agak tersendak. Sebenarnya ayahmu telah meninggal dunia satu tahun yang lalu. Dia pernah menceritakan kepadaku masalah dengan ibumu. Katanya, dia sangat menyesal dengan perbuatan ibumu. Setelah kejadian itu, dia tidak bekerja lagi. Ketika suatu hari, dia berjalan sendirian di tengah hutan hendak mencari pekerjaan di perusahan yang baru, tiba-tiba ada orang yang membunuhnya. Kami tidak tahu siapa yang membunuh ayahmu. Jenasahnya langsung kubur di sana. Sekali lagi, om minta maaf nana.”

*Nana sebutan anak laki-laki dalam budaya Manggarai.

*Riko Raden, lahir di Kampung Ndiwar, Manggarai. Menulis cerpen dan puisi. Tulisannya tergabung dalam beberapa antologi cerpen serta puisi. Sekarang ia tinggal di unit. St. Rafel, Ledalero, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button