Puisi

Bagaimana Aku Menelanjangimu Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Jumat 15:00

Seseorang di gantung.
Berkibar seperti bendera
Kemenangan.
Kita datang berlutut di bawahnya
Memberi hormat dengan mengatup tangan
Sambil bibir mengucapkan mantra
Berulang-ulang kali sampai
Darah dan air yang mengalir dari daging
Terus menyucikan jiwa-jiwa yang hilang
Arah.

(Maumere, 2020)

Baca juga Kegaduhan Naluri Antologi Puisi Ingrida Astuti Lestari

Bagaimana Aku Menelanjangimu

Bagaimana mungkin dapat
aku menelanjangi-Mu lagi
Tubuh yang terus tumbuh
Sabda yang menjadi daging.

Sebab dalam kepalaku suara-suara
penuh hukum-hukum Tuhan
Seperti duri dalam daging.
Sehingga setiap kali aku mencoba
Duri itu perlahan-lahan merobek.

Kau pun tahu menyiksa lebih menyakitkan
Walau sebenarnya membunuh adalah ampuh

Tapi bukan begitu cara semesta bekerja sayang
Akan di buatnya kau sengsara dengan terus
Mengulang kesalahan penuh sadar
Bagaimana mungkin dapat aku menelanjangi-Mu lagi

(Maumere, 2020)

Baca juga Hidup Mesti Berkencan Dengan Tuhan Antologi Puisi Andi Hotmartuah Girsang

Kasir

Berdiri dalam antrean
Nasib ditentukan dari
Seberapa lama kita betah
Dan seberapa nekat

Seorang malaikat menjelma
Dalam diri seorang kasir
Pasar malam. Apa yang di cari
Tidak akan kau temui di sini.

(Maumere, 2020)

Baca juga Hujan Desember Antologi Puisi Maxi L Sawung

Surga bukanlah perihal melepaskan hasrat

Kau kembali pulang
Sambil menggerutu
Kekasih macam apa Dia
Sebab aku menunggunya di dalam
Kamar dengan remang cahaya lilin
Tapi belum juga ia datang.

Namun ia lupa
Mereka bukan lagi dua melainkan satu
Terhitung sejak pertama kali
Ia menerima roti dan anggur pahit
Kira-kira sejak pakaian seragamnya
Berwarna bendera negara.

(Maumere, 2020)

Baca juga Seselimut Denganmu Antologi Puisi Indrha Gamur

Maxi L Sawung

Penulis, tinggal di Maumere. Menyukai sastra dan Dia.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button