cerpen

Balada-Balada “Yeshua”

Béllé Tubé
(Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng)

Silahkan Tinggalkan Aku

Ketika engkau menudu aku
Bahwa aku membeli dusta
Aku lalu mengalah

Memang indah permainan itu
Sebab dustanya sendiri berawal darimu

Ketika engkau menuduh aku
Kau penjarahkan perasaanku
Sebab memang benar
Dusta itu ada
Dan memang benar
Dusta itu ada

Silahkan tinggalkan aku

Akulah Dia

Pagar obor menyuluh aku
Pedang tombak
Mendendam aku
Sepatu para prajurit menginjak aku
Dan si pengkhianat mencium aku
Tanda kasihnya

Tapi aku harus bertanya
“Siapakah yang kamu cari?”
Nama yang kamu sebut
Tidak membuat aku terkejut

“Akulah Dia”

Biarkan Mereka Pergi

Kalau engkau ingin menghukum aku
Biarkan mereka pergi
Dan bawalah aku
Ke mana saja engkau mau
Hukumlah aku menurut kehendakmu

Biarkan mereka pergi
Bersama gelapnya mala mini
Biarkan mereka mengenangnya
Sebagai kenangan kelabu

Biarkan mereka pergi
Biarkan mereka pergi

Hari Tak Bercahaya

Di sana dia menangis
Mengeluh
Meratap
Bahkan harus diratapi
Bersama palang baja yang kejam
Di sana ia kesepian

Sepi
Tak ada cahaya
Tak ada warna
Tak ada rintihan biola

Berkabung
Pada pembalut-pembalut gelap
Ia berbaring
Ia sengsara
Hari yang tak bercahaya
Di sanalah ia sendiri

Malam Kejam

Mengapa aku sendiri
Menatap awan yang kelam ini
Sedangkan aku baru tertawa kemarin
Bersama para sahabatku

Paku tajam pada telapakku
Menghapus kejamnya malam
Malam kelabu
Malam kejam
Malam gelap
Malam derita

Untuk mengusik kesepianku
Biar asaku berontak
Membela serpihan
Bait Bapa-Ku yang kokoh

Betapa kejam malam ini
Malam ini
Malam kejam
Malam kejam
Memang malam kejam

Ketika Aku Jatuh

Beban ini amatlah berat
Jika kutanggalkan jubahku
Apa kata sahabat-sahabatku
Dan
Jika kutinggalkan beban itu
Mungkin tak ada yang kalah
Dan tak ada pula yang menang

Hasil ciptaan Bapa-Ku sendirilah
Yang membuat aku jatuh

Salib yang berat
Dari kayu pilihan para bangsawan bumi
Batu yang menyenggol
Berada pada jalan yang kulewati
Terik surya yang mengancam
Pada dahan kepalaku
Debu yang menempel
Hasil tiupan angin dari tanah
Dan ludah
Dari mulut makhluk-makhluk berbudi
Menempel pada jantungku

Dan ketika aku jatuh
Tawa rialah yang membangkitkan daku

Salib Kemenangan

Sekian lama kami bersoal jawab
Sandiwara meja hijau pun berakhir
Tat kala keputusan tercatat
Dalam sebuah album jalan salib
Yang harus kutempuh

Pada kayu palang yang hina itu
Kuberhenti sejenak
Mengukir kisah-kisah perjanjian Bapa-Ku
Bersama anak-anak Adam Hawa
Yang terus menagih kembali
Utang kesetiaan akan pembebasan
Pada salib kemenangan

Ibu Dalam Deritaku

Saksi yang paling mulia adalah
Langit dan bumi
Di mana sukacitaku dicatat
Dalam episode tangisan

Saksi yang paling hina ialah
Ibuku yang setia
Yang mencatat deritaku
Dalam kepasrahan bapakku

Ibu dalam deritaku
Ialah semua orang yang berani tertawa
Yang berani menangis
Yang berani menghibur
Yang berani memberi
Yang berani memperhatikan
Yang berani mengakui
Yang berani berbuat baik

Merekalah ibu dalam deritaku

Surat Seorang Ibu

Anakku
Masih ingatkah kau
Akan perjalanan kita dulu?
Dari Nazareth ke Betlehem
Dan pada pinggiran kota kumuh itu
Kita ditolak
Kita tidak diterima
Dan akhirnya
Kandang hinalah yang menjadi saksi

Anakku
Surat ini kutulis
Dikala aku tak dapat lagi
Membaca syair pada wajahmu
Karena bermandikan darah

Veronika

Kasihmu menghanyutkan jiwaku
Keberanianmu menguatkan hatiku
Di saat jalanku sobek
Dan arahku jalang

Pada kaun mengusap rautku
Kutitipkan serpihan wajahku
Yang hilang sepenggal
Terbalut debu

Veronika
Pulanglah
Biar tinggalkan aku sendiri
Mengeluh hari ini
Bersama orang-orang asing

Si Pengkhianat

Seutas perak yang kau terima
Tidak sebesar penderitaanku
Tidak dapat mengukur
Panjang salib itu
Tidak dapat menimbang berat salib itu
Tidak dapat mengukur jarak yang kutempuh
Dan …
Tidak pula mampu menutup tubuhku
Yang ditelanjangi
Di puncak kalfari

Pukul Tiga Sore

Tadi aku diolok
Tadi aku ditendang
Tadi aku difitnah
Tadi aku diludahi
Tadi aku disuruh berlutut
Tadi aku merayap
Tadi aku meratap
Tadi aku disembah dengan durian hutan
Tadi aku ditelanjangi
Tadi aku ditikam
Dan berakhir pada
Bongkokan pohon manis

Pukul tiga sore
Si penjahat berdarah merah
Si prajurit berdarah pahit
Mengumpat dunianya sendiri
Dikala akhir kataku
Ditutupi hembusan terakhir
Jalur nafasku
Gelap pun menyiram jiwanya
Hingga ia tak berteriak lagi

Pukul tiga sore
Ia berkata gelisah
“Sungguh orang ini anak Allah”

Kalfari

Di atas senyum
Balai-balai bambo
Aku berkelahi
Dengan sebuah bisikan hati
Yang terus merayuku

Di atas senyum
Sebuah tiang menopang
Yang rapuh
Dan hampir patah
Aku memikul sebuah kayu palang
Yang sangat berat

Di atas senyum
Tepian ngarai yang licin
Aku menatang
Sebuah bejana lapuk
Yang masih sangat berat

Di atas senyum
Tepi pantai yang indah
Di sela-sela atol yang tinggi
Yang berjalan
Bertatih-tatih
Memikul sebuah nama
Menuju sebuah gunung
Kalfari namanya

Kalfari
Saksi mata
Yang tak pernah hilang
Yang tak pernah musnah
Yang tak pernah bosan
Menceritakan
Sebuah adegan penderitaan
Yang melahirkan
Pembebasan dari nista lama

Penyerahan

Untuk menutup umur ini
Aku tak pernah takut
Agar bundaku tak kesepian
Dan
Sahabatku tak terlantar
Aku satukan saja

Bunda
Inilah anakmu
Sahabatku terkasih
Inilah ibumu

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button