cerpen

Bangku-Bangku di Gereja

Itu adalah hari terakhir ia duduk di sana dan hari terakhir ia mengenakan rosario hijau. Ia ingat bahwa sebelum ia pindah dari bangku itu, ia telah menyelesaikan satu peristiwa Rosario dan saat akan mengambil Kitab Suci maka ia menyimpan rosario itu di laci lalu ia mendengar suara keributan tak jauh dari bangku yang ia duduki.

Seorang ibu diusir keluar oleh seorang yang bertugas sebagai petugas persembahan karena si ibu itu menduduki bangku yang telah dikhususkan untuknya. Saat ditegur dengan suara yang agak keras dan dengan volume yang besar, wajah ibu itu bersemu keunguan. Ia tampak ragu beralih dari bangku itu, lalu datang petugas persembahan yang lain. Ibu nampak malu, walau sebagian wajahnya tertutup masker dan tetap nampak dari mata juga gerak-geriknya.

Mungkin Ibu itu baru saja memulai doanya, jika ia berdoa rosario maka bisa jadi ia baru saja di pertengahan peristiwa pertama. Ia memulai waktunya di gereja dengan khusyuk, mengabaikan umat yang sedang berjalan di dalam gereja mencari bangku yang kosong untuk diduduki dan suara panitia natal yang mengarahkan umat menuju bangku yang belum diduduki umat yang lain.

Baca juga : Perihal Rindu Antologi Puisi Ella Mogang

Bangku-bangku gereja telah penuh diduduki oleh umat, panitia telah memberi pengumuman dari mimbar gereja bahwa untuk umat yang tidak mendapatkan tempat duduk di dalam gereja bisa mengikuti misa dari luar gereja dan diarahkan keluar dari gereja oleh panitia yang lain.

Pernah ada bangku bagian depan yang selalu dibiarkan kosong sampai misa akan dimulai yang biasanya ditempati oleh orang-orang yang memiliki “kedudukan” di kota ini. Pernah sekali, aku yang kecil dan tak tahu apa-apa duduk di bangku itu karena ingin duduk di bangku paling depan dan berlomba dengan teman kecil yang sebaya. Lalu diminta untuk mencari bangku yang lain oleh koster.

Pernah aku berpikir kalau bangku-bangku di gereja telah dilengkapi dengan nama keluarga atau umat yang seharusnya duduk di bangku itu. Sering kali di masa kecil, tiap datang ke gereja kami selalu duduk di bangku yang menjadi langganan bagi keluarga besar kami. Deretan bangkunya di dekat pintu bagian kanan. Kata ibu, biar kami lebih dekat dengan pintu jika ingin ke toilet dan juga agar kami gampang mengingat bangku kami sehabis pulang komuni.

Baca juga : Dalam sepi yang masih terlalu dini Antologi Puisi Yofri

Aku juga punya satu bangku favorit di gereja, bangku itu lurus mimbar utama di lorong bagian tengah. Saat misa dimulai aku tidak perlu kesusahan memperhatihakan imam dan melihat gerak-geriknya saat ia berkhotbah.

Dari bangku itulah aku pernah beberapa kali mengajukan protes pada imam yang memberikan khotbah. Aku tidak menyukai ditakuti-takuti dengan dosa dan juga soal iuran yang harus dibayar wajib oleh umat atas nama sukarela. Aku bingung bagaimana sesuatu dikatakan sukarela namun menjadi kewajiban bagi tiap kepala keluarga, protesku di dalam hati.

Aku pernah tak memberi derma sebagai bentuk protesku akan khotbah imam. Tak pernah kuberitahukan itu kepada ibu yang ku tahu pasti sedang sibuk menjaga kue-kue yang di jual depan rumah dan juga kepada bapak yang belum mendapat kerja di awal tahun ini.

Baca juga : Di Bawah Alismu Rinduku Berteduh Antologi Puisi Antologi Puisi Hams Hama

Kenapa harus ditakut-takuti dengan dosa? Protesku dari dalam hati dengan suara yang tak kedengaran dan bibir yang tertutup masker. Pernah aku takut bahwa Tuhan tak akan memberikan berkatnya lagi di dalam hidupku untuk beberapa salahku, lalu aku duduk dan membuka Kitab Suci dan menemukan satu ayat ajaib yang membuatku percaya bahwa Tuhan tak akan menghentikan berkatnya.

Mungkin aku begitu munafik, memikirkan ini setiap kali memasuki gereja atau otakku yang begitu aktif melihat situasi dan kondisi. Aku beruntung bahwa kata-kata dari dalam kepalaku selalu menguap ke udara dan dijadikan hujan oleh Tuhan, mungkin begitu. Sampai pada suatu hari aku tak bisa pulang ke rumah setelah mengikuti misa di gereja karena hujan turun dengan sangat deras. Mungkin pikiranku yang sangat banyak dan tak fokus saat misa menjadi salah satu yang menyebabkan bulir-bulir hujan itu jatuh ke bumi.

Baca juga : Nyanyian Hujan Antologi Puisi Wandro J. Haman

Aku sempat berhenti mempertanyakan banyak hal dan menerimanya dengan datar-datar saja walau aku tahu bahwa salah satu esensi dari manusia adalah terus mempertanyakan hidupnya.

Aku berhenti saat mendengar suara sepatu, suara kertas dari kitab suci yang berbunyi indah namun dua detik saat ditutup dan suara keras si ibu berkebaya pink yang menyuruh seorang ibu untuk berpindah dari tempat duduknya.

Mulai ramai, si ibu berkebaya dengan angkuhnya menunjukkan tulisan yang tertempel di ujung bangku itu diikuti oleh suaranya yang meninggi ‘’bangku ini dikhususkan untuk petugas persembahan’’

Si ibu bermuka keunguan nampak ragu dan mulai berdiri, banyak mata yang melihat si ibu. Aku baru saja selesai berdoa rosario yang lebih banyak berisikan curhatku yang beraneka ragam kepada Tuhan saat aku begitu tak tega melihat si ibu. Aku berdiri, mengambil tas tanganku dan membisikkan kepada si Ibu agar duduk di bangkuku, ia nampak malu dan menolak dan aku berbisik lagi dan berkata bahwa aku akan mencari bangku di luar gereja. Aku berjalan perlahan tanpa membunyikan sepatu dan melihat umat yang lain, aku hanya balik sedikit untuk memastikan si ibu duduk di bangku itu.

Kami lupa mengucapkan selamat natal, namun aku telah menemukan arti natal bagiku walau rosario kesayanganku tak lagi kupakai. Aku lupa wajah si ibu, mungkin dia mencariku untuk mengembalikan rosario yang lupa kuambil dari laci itu.

Cici Ndiwa, menetap di Ruteng dan bekerja di STIE Karya. Telah menerbitkan buku Kumpulan Puisi Penyair bukan Kami (2018) dan dapat ditemui di blog pribadinya: (cicindiwa.blogspot.com). Tahun 2020 puisinya terpilih dalam Program Penulisan Puisi Kemanusiaan yang bertemakan Pekerja Rumah Tangga dan Perdagangan Manusia yang diselenggarakan oleh JPIT.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button