Opini

Berimajinasi Tentang Gus Dur, Pentingkah?

Oleh Bonefasius Zanda
(Pendidik SMA Katolik Regina Pacis Bajawa-Flores-NTT)

Dalam (KBBI) imajinasi diartikan sebagai daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian yang berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang.

Bicara tentang imajinasi, langsung membawa pikiran saya pada perkataan Albert Einstein yakni; “Nalar hanya akan membawa Anda dari A menuju B. Tapi imajinasi mampu membawa Anda dari A menuju ke mana saja”.

Imajinasi yang dimaksudkan Albert adalah impian tidak hanya berpikir untuk membayangkan dalam angan-angan. Namun mampu menciptakan gambaran diri sebagai manifestasi dari kerja akal dalam menciptakan suatu pemikiran yang lebih luas dari apa yang pernah dilihat, didengar dan dirasakan.

Dari dua rujukan di atas, saya pun berani menyimpulkan bahwa sebenarnya imajinasi itu sangat penting untuk dirasuki dalam pikiran anak sejak dini. Sebab imajinasi adalah berbicara tentang kenyataan-kenyataan humanis. Pada titik ini pun saya percaya bahwa membudayakan cerita-cerita atau baca buku-buku tentang ketokohan para negarawan kepada para generasi khususnya, mampu membangkitkan pikiran untuk berimajinasi baik dalam pikiran maupun tindakan.

Beberapa bulan lalu saya baru menghabiskan membaca sebuah buku yang berjudul;”Gus Dur Ku, Gus Dur Anda dan Gus Dur Kita”. Buku ini ditulis oleh Muhammad AS Hikam dengan subjudulnya adalah (Kenangan, Wawancara Imajiner, dan Guyonan Gusdurian).

Buku ini sebagian besarnya berkisah tentang pengalaman nyata penulis saat hidup bersama Gus Dur. Ketika saya membaca buku ini, saya sungguh merasakan kehadiran Gus Dur. Secara fisik, ia telah tiada namun semangat dan keteladanannya dalam banyak hal, saya kira tak pernah mati hingga kapanpun.

Berkaitan dengan itu, mungkin baik sekaligus sebagai pembuktian empris, maka saya mengetengahkan beberapa buah pikiran yang ditulis oleh empat penulis endorsements dan pengantar buku ini. Sebab, yang di angkat dalam tulisan ini adalah berkaitan erat dengan keteladanan yang telah dilakukan oleh Gus Dur semasa hidupnya.

Pertama, Drs Budi S. Tanuwibowo berkisah bahwa; “Gus Dur adalah simbol Islam yang hakiki, sejuk, toleran, bersahabat. Sosok manusia Indonesia yang benar-benar telah mengindonesia. Tidak terjebak pada ikatan primordial, namun semata manusia yang tinggi kemanusiaannya, tanpa kehilangan keindonesiaannya”.

Kedua, Prof. Dr. Mahfud MD menegaskan bahawa; “Gus Dur adalah filosof-negarawan yang handal. Buah pikiranya, entah dalam bentuk humor atau serius selalu aktual dan relevan dengan persoalan bangsa kita”.

Ketiga, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ. Dalam kata pengantarnya menulis demikian: “Bahwa dalam sejarah bangsa Indonesia, Gus Dur termasuk dua atau tiga orang yang paling penting, paling utama, paling mengherankan, paling mengharukan, paling menggelikan, jadi paling agung. Gus Dur amat cocok untuk dibandingkan dengan Proklamator RI yang juga Presiden Pertama kita, Bung Karno”.

Keempat, Muhhamad AS Hikam. Bahwa alasan mendasar bagi Hikam untuk menulis kisah hidupnya bersama Gus Dur bukanlah karena orang dekat tapi lebih dari itu, karena tak ingin berbagai keteladan yang sudah diwarisi Gus Dur hilang begitu saja. Itulah sebabnya, dalam tulisan sekapur sirihnya, Hakim menegaskan bahwa “Gus Dur masih sangat dibutuhkan, bukan saja oleh kaum nahdliyyin di mana beliau berasal, tetapi juga oleh bangsa, bahkan saya berani mengatakan, oleh manusia sejagad”.

Dari beberapa buah pikiran di atas, maka sudah selayaknya ketokohan negarawan semacam Gus Dur adalah urgen untuk diceritakan secara turun temurun bagi para generasi Indonesia. Tidak saja terbatas pada keluarga, sekolah tapi di mana saja kita berada, berceritalah berbagai kebajikannya yang sungguh imajinatif itu. Apakah salah? Tidak bagi orang yang mencintai kejujuran dan kebenaran, namun acapkali menjadi semacam duri bagi sebagian orang yang suka korup.

Tak heran jika, akhir-akhir ini ada sebagian pejabat publik merasa terusik dengan penerbitan buku yang berjudul; “Menjerat Gus Dur”. Ya, memang benar, menjadi orang jujur itu selalu dibenci. Bahkan siap korban nyawa. Dan hal ini pernah di alami oleh Gus Dur. Namun sebaliknya, realitas yang pernah dialami dan dihidupi oleh Gus Dur, pantas untuk dirawat agar tetap subur dalam setiap pikiran dan hati para generasi kita.

Akhirnya, realitas humanis yang dijalankan dan ditampilkan oleh Gus Dur, mau melegitemasi apa yang dikatakan Einstein di atas bahwa berimajinasi tidak hanya sekadar berpikir untuk membayangkan dalam angan-angan, tetapi mampu menciptakan gambaran diri sebagai sebuah kerja akal dalam menciptakan suatu pemikiran yang lebih luas dari apa yang pernah dilihat, didengar dan dirasakan.

Artinya, Imajinasi ala Gus Dur, tidak hanya terbatas dalam angan-angan atau mimpi-mimpi kosong, tetapi diberengi perjuangan dan semangat yang tak kenal lelah. Karenannya, mendongeng, bercerita atau membaca buku tentang Gus Dus, sebenarnya kita sedang membudayakan cara kerja imajinasi yang hidup dan menghasilkan sesuatu yang nyata dan berkualitas.

Untuk itu, menceritakan ketokohan Gus Dur kepada para generasi, tidak lagi sebatas keharusan namun harus menjadi sebuah kebutuhan mutlak. Kaum muda kita sejak dini harus di tanamkan budaya berimajinasi yang punya orientasi bukan imajinasi liar dan instan tanpa orientasi. Ini menjadi penting, sebab imajinasi ala Gus Dur adalah legitemasi tentang mimpi besar yang dibarengi perjuangan untuk menggapai berbagai harapan serta cita-cita secara nyata.

Pada akhirnya, saya amat yakin jika cara hidup Gus Dur terus di ajarkan dalam lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan, maka harapan akan semakin banyaknya generasi-generasi yang berkarakter, pastinya akan terwujud. Sebab Gus Dur adalah simbol nyata dari pemimpin yang berkarakter yang pernah dimiliki Indonesia. Tugas kita adalah terus merawatnya dan mewarisinya secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, sebagai apa pun kita, jika kita selalu menunjukan sikap dan jatih diri tak bertopeng sebagaimana yang telah ditanamkan Gus Dur sebagai negarawan sejati itu, maka nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan universal akan selalu tenteram. Bahkan mengarahkan hidup kita kepada kesucian hidup itu sendiri.

Tak heran jika keseluruhan isi buku ini di hiasi oleh cerita-cerita imajinatif ala Gus Dur. Dan jika Anda sekalian, membacanya, saya pastikan cara pikir dan sikap Anda sekalian akan berubah ke arah yang lebih nasionalis. Bahkan kepribadian kita pun dibentuk semakin berkarakter.

Karenannya, berimajinasi tentang Gus Dur bukan lagi terletak pada persoalan penting atau tidak. Malah harus dijadikan sebuah kebutuhan manusia sejagad, sebagaimana ditegaskan oleh Muhhamad AS Hikam yakni “Gus Dur masih sangat dibutuhkan, bukan saja oleh kaum nahdliyyin di mana beliau berasal, tetapi juga oleh bangsa, bahkan saya berani mengatakan, oleh manusia sejagad”.

Editor: Papyn Dain

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button