Puisi

Bernafas Lekas Antologi Puisi Reineldis Alviana Jaimun

BERNAFAS LEKAS

(“Mario lobohi matamu ketika melobikan mazmur Tuhan”.)

Krik jangkrik
Selepas memeluk orasi

Maria memutasikan gelap
Abadnya cahaya bisa tengelam dalam lubang tak jelas

Hena dahimu glatia
Sementara mario masih duduk merunduk
Pucuk telaga membasahi pesan
Seberat kertas telah basah

Tibanya tiang tiang ingat
Gerangan pembebasan orang Zigot
Menyiksa kenangan baptis
Membawa tuai di bukit Golgota

“Semua itu kudus,bahu Firdaus haus akan Yesus
“Keselamatan itu darah-Nya,suaranya itu penebus”.

Bernafas lekas
Membekas pulas
Mario kembali mengilas tuas
Ceritanya amin bila ada masanya

(Ruteng, 05 Desember 2020)

Baca juga: Selimut Dusta Antologi Puisi Mba Ayu

SONETA TENTU SAJA

Menjadi sortir telapak bunga
Garis tangan menggoda sayu
Pada bibir lebar sekangkar
Tautan membiasakan diri
Terlalu banyak hayal
Membaca jeda titik-titik sipit
Rambut air mencair
Racun kata berkeliaran di kos-kosan
Liliba pada pipa ranting
Cek cok lagi sampai ku banting leher
Memantikan elok rumput mengibas panas pada rumah itu

“Salam kompiang bila pulang enu”.

Suaranya tidak asing
Berlaku pada bubuk sendu
Debu semakin mekar
Padamu pintu masuk

“Soneta tentu saja puisi kampas rua”.

Aku mengangguk ia dan kembali tidur

(Ruteng, 28 Desember 2020)

Baca juga: Kembang Api Perjumpaan Antologi Puisi Yohan Matabuana

KITA YANG PERNAH ADA

Sampai hari ini
Bulu ayam putih di bingkai natas bate loas
Belum buram
Selamanya kaki ayam masih di gantung pada takdir takdir dalam rumah
Aku merindukan itu
Tahun baru
Dimana mama-mama kita membuat kue
Memasak nasi serta lauk pauk di dapur
Apalagi nenek moyang kita masih menunggu santapan jujur
Kita yang pernah ada
Ada apa di kincir kincir tanya ?
Sampai sekarang belum ada jawaban di atas tuak
Tergores sedikit luka di atas cepa
Santun lalong bakok du lakon lalong rombeng du kolen
Dari ruang kosong
Di atas naskah yang harus di pertontonkan
Publik mengelabui konflik
Kira-kira untuk aku yang mati tanpa restu !

Meski masih ada doa-doa yang bernafas pada dahi Ayah Ibuku

(Ruteng, 01 Januari 2021)

Baca juga : Air Mata Enam Januari Antologi Puisi Onzi GN

JANUARI LAGI

Keroyoki lagi intuisi
Mengambil peran obsesi
Menonton garansi malam hari
Januari lagi

Usia di bawa pergi sampai mati
Ada hormon-hormon hati
Bilamana ko masih cuek maka aku lebih-lebih jutek !
Abba ya Bapa

Kuat aku jiwa perasa
“Waktunya mencintai dirinya dan kamu dalam potret tua”
“di atas asbak beregel jingga sampai rokok mengasapi bulan sunyi”.

Dar
Mengelabui rasa tidak mungkin
Roma saja bisa meminang glatia
Mengapa tidak litani maria memunda atas nama frasa-frasa cengkok ina
Padamu pelita lita aku tersandung pada dadamu

(Ruteng, 03 Januari 2021)

Baca juga : Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

HANYA SEPUTAR DUA DETIK

Selaku dingin
Beranda media sosial mengumpal jengkal
Beredar di dalamnya sebuah rotasi dua raga
Kita atap tandus jiwa berbeda

Sesingkat itu
Muka mama mengerut ketika mataku mabuk
Lesu berkontras tidak ada kata-kata lagi darinya
Nasnya hanya di read sisi kanan elegan

Yohanes
Lunak bila ku sampaikan resah diamku
Oleng berlawanan rupa
Jijik mengerik kukik

Hanya seputar dua detik
Kita sudah diam !

(Ruteng, 04 Januari 2020)

Baca juga: Para Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Smpk Frateran Ndao Mengikuti Rekoleksi Persiapan Natal 25 Desember 2020 Di Kapela Frateran Bhk Ndao Ende

Syair adalah nama pena dari Reineldis Alviana Jaimun. Terlahir dengan keterampilannya menulis puisi sejak kelas 3 SD. Nama penanya ialah “Syair”. Sudah 19 Tahun bergelut dalam dunia puisi. Saat ini menetap di Ruteng.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button