Opini

Bersumpah di Tengah Pandemi Covid-19

Penulis | Ryo Ambasan (Mahasiswa STFK Ledalero)

Indonesia sedang menghadapi tantangan besar yakni, pandemi Covid-19. Pandemi yang melanda seluruh penjuru dunia ini serentak menimbulkan krisis baru dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Pandemi ini berdampak pada pelbagai lini kehidupan mulai dari politik, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Konkretisasi dari dampak tersebut antara lain: resesi ekonomi, terganggunya stabilitas politik, angka kematian yang terus meningkat, pembelajaran jarak jauh dan lain sebagainya. Kita harus jujur, bahwasannya pandemi ini menyerang saat negara kita belum seutuhnya siap. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Singapura yang terkenal dengan tingkat kesiagaannya yang tinggi saja dibuat tak berdaya di hadapan pandemi ini. Namun, menyulut pesimisme di tengah pandemi seperti ini adalah suatu sikap yang tidak nasionalis, tidak etis sekaligus minus rasionalitas.

Di tengah merebaknya pandemi Covid-19, bangsa ini kembali merayakan Hari Sumpah Pemuda. Sungguh berbeda bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda kali ini dirayakan dalam suasana dan situasi yang lain dari tahun-tahun sebelumnya. Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928 silam sesungguhnya menambah warna sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dapat dibayangkan bahwa tanpa adanya Sumpah Pemuda nasib bangsa Indonesia tidak akan seperti saat ini. Krisis persatuan dan keterpecahan bangsa Indonesia pada waktu itu seakan menjadi pintu masuk bagi musuh untuk seluas-luasnya menjalankan aksinya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para pemuda yang notabenenya berasal dari latar belakang suku, agama, ras dan budaya yang berbeda berani ‘duduk’ pada satu identitas yang sama untuk mengakui tanah air, bangsa dan bahasa yang satu:Indonesia. Sungguh, hal tersebut merupakan teladan yang baik bagi kaum muda masa kini. Para pemuda pada masa itu telah menanamkan spirit baru bahwasannya pemuda Indonesia juga layak untuk diperhitungkan.

Pemuda Pasca-Sumpah Pemuda    

Dunia terus berkembang dan manusia yang tinggal di dalamnya pun turut mengalami perubahan. Selepas Sumpah Pemuda yang digaungkan 92 tahun silam, apakah spirit yang sama masih dihidupi oleh kaum muda saat ini? Abdul Rivai, sebagaimana yang dikutip oleh Yudi Latif dalam Media Indonesia, mendefinisikan ‘kaum muda’ sebagai rakyat Hindia (yang muda atau yang tua) yang tidak lagi mengikuti aturan kuno, tetapi berkehendak untuk memuliakan harga diri bangsanya melalui pengetahuan dan gagasan kemajuan (Media Indonesia,30/08/2017). Tanpa kaum muda tidak ada perubahan. Sejatinya, perubahan itu ekuivalen dengan semangat yang membara dan jika tidak berlebihan, semangat yang membara tersebut ada pada kaum muda.  Kaum muda terkenal dengan pola pikirnya yang progresif, kreatif dan militan. Tetapi, jika dikonfrontasikan dengan situasi pelik seperti pandemi Covid-19, apakah eksistensi kaum muda sebagai agent of change tidak luntur dan tetap dipertahankan? Hasil studi terbaru yang dipublikasikan pada Jurnal Science, menunjukkan bahwa anak muda adalah sumber utama penyebaran Covid-19. Studi ini dilakukan melaui upaya pelacakan kontak (tracing) dalam skala yang cukup besar (CNN Indonesia, 3 Oktober 2020). Sungguh memprihatinkan, tetapi itulah kenyataan bahwasannya masih banyak kaum muda yang lalai dalam menjalankan protokol kesehatan. Protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah sering diartikan sebagai suatu hal yang membebankan bukan membebaskan. Kelalaian dalam menjalankan protokol seyogianya merupakan tumpulnya solidaritas dan rasa pengakuan akan eksistensi ‘yang lain’. Seperti yang sudah ditegaskan pada awal tulisan ini bahwa kaum muda seharusnya meneladani spirit kaum muda masa lalu yang terkenal dengan rasa pengakuan yang tinggi akan yang lain. Sebagai agent of change, kehadiran kaum muda haruslah menyejukkan bukan memperkeruh suasana. Ingatan kita masih segar tentang kasus vandalisme yang terjadi di sebuah musala di Tangerang. Lagi-lagi, yang menjadi biangnya adalah seorang anak muda. Terlepas dari motif tidakan tersebut, kita seharusnya malu bahwa masih ada kaum muda yang bersikap dan berpikiran sempit seperti itu di tengah pandemi Covid-19. Kira-kira apa yang mau dibanggakan dari sikap dan cara berpikir tersebut?

Relevansi Sumpah Pemuda

Setiap masa mempunyai tantangannya tersendiri. Jika masa sebelumnya para pemuda merasa pentingnya persatuan untuk melepaskan diri dari kungkungan kaum penjajah, maka pemuda masa kini pun harus merasakan hal yang sama. Kita perlu bersatu untuk melawan virus mematikan ini. Pada masa lalu para pemuda bersatu untuk melawan musuh yang dapat dilihat secara fisis dan saat ini tugas kaum muda jauh lebih sulit lagi karena melawan ‘musuh’ yang tak dapat dicerap oleh indra penglihatan.

Menukik lebih dalam, relevankah bersumpah di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini? Boleh jadi bersumpah pada saat-saat krusial seperti ini hanya semakin menambah ketakutan. Ketakutan apabila isi sumpah yang diucapkan tersebut tidak terpenuhi atau tidak terealisir dengan baik. Bukankah, ketika suatu sumpah tidak dipenuhi, ia hanyalah sekadar omong kosong yang dibalut dengan kata-kata indah belaka? Kata “sumpah” sebagaimana yang dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar (KBBI Cetakan ke-V). Lagi-lagi, suatu pertanyaan dilemparkan kepada kita: beranikah kaum muda bersumpah di tengah pandemi Covid-19?

Eksistensi kaum muda sebagai orang-orang yang berkehendak untuk memuliakan harga diri bangsanya melalui pengetahuan dan gagasan kemajuan harus dihidupakan kembali. Hemat penulis, kita jangan terlalu berpikir yang muluk-muluk soal implementasi nilai-nilai Sumpah Pemuda. Sesunguhnya implementasi nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam situasi mendesak seperti ini sangatlah sederhana. Intinya bahwa sebagai generasi muda kita harus bersatu. Kita harus bersatu dalam upaya melawan virus mematikan ini. Lantas, upaya macam apa yang harus dilakukan oleh kaum muda? Kaum muda harus memenjadi teladan dalam menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah, melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif seperti mengikuti webinar, dan lain sebagainya. Artinya bahwa kaum muda harus menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan virus Corona. Kaum muda seharusnya paham bahwa jumlah populasi mereka sangatlah banyak jika dibandingkan dengan jumlah orang tua dan lansia. Jika semua pemuda menjadi teladan dalam penerapan protokol kesehatan, melakukan kegiatan-kegiatan yang kratif maka tidak mengherankan bahwa cepat atau lambat pandemi yang tengah menghantam negara kita ini akan segera teratasi. Semoga kaum muda tetap menjadi kebanggaan bangsa ini. Salam sehat! Salam persatuan!

 

 

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button