cerpen

Bunga di Tepi Jalan

Penulis : Akri Suhardi

“Nak, siramlah bunga itu, kelak semua Makhluk terpesona padanya”, Kata kakek tua berambut putih.

          Hiruk-pikuk kota Jakarta menghadirkan pengalaman baru bagi Tono. Bola matanya hilir-mudik memandang heran akan tempat yang baru ia jejaki, ia kagum akan kemolekan dan kemegahan pusat ibu kota ibu Pertiwi itu. “Ahh,, seandainya sedari dulu aku datang kemari pasti telah banyak yang aku ketahui tentang kota ini”  gumam Tono dalam hati. Tono sejadi-jadinya mengintrospeksi diri. Bahkan ia rela berulang kali duduk, berdiri dan berjalan pelan sambil berdecak kagum akan tempat baru tersebut. Itulah kisah hari pertama Tono masuk kota Jakarta.

Baca juga : Mati Itu Abadi Antologi Puisi Asni Bastari
Baca juga : Kamu Luar Biasa Antologi Puisi Andi Dollo

          Setelah dua Minggu sibuk membersihkan kos. Akhirnya Tono memutuskan untuk keluar mencari kerja. Seperti halnya para pencari kerja yang lain, Tono berpakaian rapi, bersepatu sambil menjinjing tas berisikan salinan ijasah dan surat lamaran kerja miliknya. Tono memutuskan untuk berjalan kaki dengan maksud agar mengenal kota Jakarta.  Ada lima kantor yang sudah dikunjungi Tono untuk melamar kerja. Tetapi kelima-limanya belum bisa menerima Tono bekerja di tempat mereka. Tono selalu mendapat jawaban yang sama “Maaf mas karyawan kami sudah cukup atau Maaf mas kali ini kami belum butuh karyawan baru, kalau mau tunggu bulan depan ya”. Ahh… keringat kecil-besar mengalir mengalahkan aliran sungai Nil. Baju Tono tampak basah kuyup. Tono pun duduk di emperan toko guna melepas lelah. “Hari ini aku mengajukan lamaran kerja ke lima kantor dan semuanya ditolak. Jika besok terjadi hal yang sama sebaiknya aku pulang saja” gumam Tono.

Baca juga : Bukan Aku Yang Dikubur, Tapi Harapku
Baca juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus

          Kecantikan kota Jakarta mulai memudar. Maklum matahari berpamit pulang ke sarangnya. Demikian juga orang-orang berjalan pulang ke rumah. Tono berjalan pelan menyusuri lorong Sudirman. Ia melangkah pelan sembari berharap ada yang memanggil namanya. “Mas… mas… “ panggil seorang mbak yang berdiri di depan toko. “Panggil aku ya mbak?” jawab Tono penuh keyakinan. “Ia mas, datanglah kemari”, kata mbak itu. Tanpa menunggu lama Tono bergegas masuk ke toko tersebut. “Bagaimana mbak ada yang bisa saya bantu?” Kata Tono yang tak sabar. “Oh ya mas, tolong bantuin saya mengangkat dan memasukan semua barang-barang ini ke gudang ya” kata mbak berambut pirang itu. Tono menuruti semua perintah mbak tadi. Setelahnya Tono diberi uang sebesar lima puluh ribu. “Ini mas, buat beli rokoknya mas” kata mbak. “Terima kasih ya, mbak, di sini tidak ada karyawan ya”, tanya Tono penuh penasaran. “Tidak ada mas” kata mbak. “Kalau begitu apakah saya boleh melamar untuk kerja di sini mbak? Tanya Tono lagi. Si mbak pun mengangguk, mengiyakan pertanyaan Tono. Mulai besok mas sudah boleh kerja di sini, katanya. Kalau boleh tahu, nama siapa namamu mas?  “Aku Tono, mba”. Keduanya pun saling berkenalan dan bercakap-cakap dengan raut wajah serius. Entalah hal apa yang mereka perbincangkan sampai saat langit betul-betul gelap, Tono pun pulang dengan wajah kegirangan. Di desanya, Tono memang terkenal sebagai laki-laki pejuang yang tangguh.

Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh
Baca juga : Patah Hati Pertama Antologi Puisi Ningsih Ye

          Pagi-pagi buta, Tono sudah bangun tinggalkan ranjang. Ia mandi dan merapikan diri lantas bergegas berangkat ke tempat kerja. Jarak antara tempat kerja dan kos tempat tinggal Tono tidaklah jauh. Seperti jarak kepala dan dagu..hhhhh. Di sana, Tono hanya bekerja untuk mengangkat barang-barang. Demikianlah pola hidup Tono.

          Suatu pagi sebagimana lazimnya, Tono berangkat ke tempat kerja. Tepat di perempatan jalan, Tono berhenti. Ia mengarahkan pandangannya ke tepian jalan. Ditemuinya kakek tua bertongkat. Gurat-urat di wajahnya berbaris bak kaki gurita. “Selamat pagi anak muda, terimalah ini”  kata kakek tua itu sambil menyerahkan setengah kantung plastik berisikan benih bunga. “Benih bunga kek?”  jawab Tono untuk lebih memastikan. “Ia anak muda, tanamlah di tepi jalan ini dan siramilah. Kelak semua makhluk terpesona padanya”.  Demikian kata kakek itu, lalu menghilang seketika. Tono mencoba mencari tetapi hanya ditemuinya lorong-lorong bisu. Rumput-rumput menghijau. Kakek itu benar-benar menghilang. Tono pun mengikuti kata-kata si kakek tua tadi. Ia menaman benih tadi di tepian jalan. Setelahnya ia berangkat kerja. Demikilah setiap pagi dan sore si Tono menyirami benih bunga tadi. Benih itu, bertumbuh dan mulai menunjukan diri, dedaunan mulai melebarkan sayapnya. Tetesan embun mulai berjatuh ria. Aroma bunga harum mewangi mengalahkan bau asap motor.

Baca juga : Penjajahan Modern 2020-2021
Baca juga : Pemakaman Antologi Puisi Maxi L Sawung

          Kini bukan lagi benih melainkan bunga. Orang-orang berbondong-bondong mengunjunginya. Hingga kemacetan sering mengusik kendaraan yang melintasi sepanjang jalan itu.  Tono pun tersenyum indah. Ia bersyukur kepada kakek tua yang telah memberikannya benih bunga, yang kini telah menjelma menjadi bunga yang indah. Dan konon bunga itu tidak dapat mati.

Saking banyaknya pengunjung yang datang menyaksikan keindahan bunga itu, maka warga di sekitar lokasi tanam bunga, menjadikannya sebagai objek wisata baru. Sedangkan untuk mengenang jasa Tono si penanam bunga, warga membuat satu monumen bertuliskan pesan si Kakek “Nak, siramlah bunga itu, kelak semua Makhluk terpesona padanya”, pada bagian bawah bertuliskan “Terima kasih Tono.”

Yosfri, 04/02/2021

 

Akri Suhardi

Penulis berasal dari Wukir, Elar Selatan-Manggarai Timur Tinggal di unit Yosef-Ledalero

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button