Opini

Bunuh Diri, Krisis Iman dan Radikalisasi Peran Gereja

Apri Selai
Penghuni TOR St. John Paul II Ritapiret, Maumere

Tulisan ini lahir dari refleksi penulis atas peristiwa tragis bunuh diri yang marak akhir-akhir ini. Penulis sadar bahwa bunuh diri merupakan problem yang kompleks. Karena itu, penulis membatasi tulisan ini pada problem bunuh diri yang terjadi di Flores dalam kaitannya dengan krisis iman serta peran Gereja dalam mengatasi kasus bunuh diri yang semakin membiak. Sasaran utama dari tulisan ini yakni umat Katolik yang ada di Flores.

Bunuh Diri dan Krisis Iman

Beberapa tahun belakangan ini, kita terus mengelus dada lantaran heboh kasus bunuh diri yang menimpa beberapa oknum di wilayah Flores. Hampir setiap media massa, disajikan berita bunuh diri yang terjadi di wilayah Flores, dengan berbagai varian dalil. Ada yang dilatari oleh cacat mental, depresi atau stress karena masalah keluarga, ekonomi, asmara, dan lain sebagainya. Sebagai misal, siswa SMP bernama Emanuel Mario Despito (15) pada Senin (18/11/2019) dini hari mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di rumah di Dusun Tour Orin Bao, Desa Nita, Kab. Sikka. Diduga, tindakan ini disebabkan karena sang nenek tak memberikan uang untuk membeli bensin (Pos Kupang, Selasa, 19/11/2019). Contoh lain, Senin (23/12/2019), seorang pria dewasa, Lodo Patut, warga Rongkam, Desa Bangka Ruang, Kec. Rahong Utara ditemukan tewas tergantung di dalam rumahnya di Rongka (Flores Pos, 28/12/2019). Deretan peristiwa bunuh diri ini tentu mengiris nurani kemanusiaan kita. Sebab, bunuh diri menunjukkan bahwa manusia tidak lagi melihat hidup sebagai sebuah anugerah.

Merril T. Eaton, Jr. dan Margareth H. Peterson pernah berujar “binatang dapat membunuh binatang lainnya, tetapi mereka tidak pernah membunuh diri mereka sendiri”. Hemat penulis, pernyataan kedua tokoh ini mau menggarisbawahi bahwa dalam konteks bunuh diri, binatang bisa dikatakan lebih ‘waras’ daripada manusia – walaupun binatang tidak dianugerahi rasio. Sebab, dalam banyak kesempatan, rasionalitas manusia kerap digiring pada situasi keterbutaan terutama berhadapan dengan beban penderitaan yang dialami oleh pihak korban. Konsekuensinya, tatkala rasio tunduk di hadapan penderitaan hidup, korban tidak mampu berpikir jernih dan pada akhirnya memilih bunuh diri sebagai solusi dari setiap persoalan yang merongrong kehidupan mereka. Lantas, untuk konteks masyarakat Flores, apa alasan fundamen sehingga bunuh diri menjadi panaroma lumrah dalam genangan realitas sosial selama ini?

Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan itu, walaupun tidak secara komprehensif-sistematis. Tesis yang dikonstruksikan di sini yakni bahwa krisis iman menjadi salah satu penyebab mengapa masyarakat Flores (baca: korban) memilih bunuh diri sebagai solusi dalam mengatasi setiap persoalan hidupnya. Yang mesti dipahami di sini bahwa iman selalu mengandaikan pengalaman kedekatan dengan Allah (Kleden, 2006:324). Pengalaman kedekatan ini tentu tidak hanya bergerak pada tataran kegiatan liturgis saja, tetapi juga menyata dalam pengalaman keseharian hidup.

Hemat penulis, krisis iman yang melanda korban bunuh diri di Flores berawal dari adanya penghayatan iman yang dangkal. Penghayatan iman masih terbatas pada ceremony liturgis dan belum menyentuh realitas praktis. Dalam hal ini, iman korban hanya ditunjukkan dari keterlibatannya dalam pelbagai kegiatan liturgis dan belum ditunjukkan dalam realitas praktis. Implikasi lanjut dari penghayatan iman yang dangkal ini yakni para korban tidak mampu berhadapan dengan kompleksitas persoalan hidup. Korban tidak mampu memaknai penderitaan ataupun persoalan hidupnya sebagai salib yang harus dipikul. Padahal, salib memberikan kekuatan untuk melawan penderitaan, karena pada salib manusia dapat menjadi yakin akan konsistensi cinta Allah. Salib bukan pertama-tama berarti dorongan dan undangan untuk menerima penderitaan, melainkan untuk berjuang melawan penderitaan (Kleden, 2006:326).

Menjadi lebih ironis, para korban kerapkali menyalahkan Tuhan atas penderitaan yang mereka alami. Mereka berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka. Padahal titik persolannya terletak pada diri mereka sendiri, dimana mereka tidak melibatkan Tuhan dalam penderitaan yang mereka alami. Titik kulminasi dari krisis iman ini menyata pada sikap korban yang lebih mengandalkan kekuatan diri sendiri, menaruh sikap skeptis pada Tuhan dan pada akhirnya mereka tidak mau datang kepada Tuhan. Tatkala mereka mulai kehilangan pegangan dan harapan, bunuh diri kerap menjadi opsi ideal untuk mengakhiri penderitaan yang mereka alami.

Peran Gereja

Paus Fransiskus dalam seruannya mengatakan “saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka dan kotor, karena telah keluar di jalan-jalan, daripada Gereja yang menutup diri dan nyaman pada rasa aman sendiri”. Dalam kaitannya dengan kasus bunuh diri yang terus membiak di daerah Flores, hemat penulis, seruan ini ingin mengajak Gereja untuk terlibat secara aktif dalam menemukan mata rantai persoalan bunuh diri dan hadir bersama umat dalam menghadapi setiap persoalan hidup mereka. Gereja tidak boleh berpangku tangan saja melihat penderitaan umat, tetapi Gereja mesti membuka diri dan menunjukkan sikap empati dengan sama-sama menemukan solusi terbaik dan meyakinkan umat bahwa Tuhan ada dipihak mereka.

Berhadapan dengan badai krisis iman yang juga melatari kasus bunuh diri di daerah Flores, ada beberapa proposal pemikiran yang penulis tawarkan kepada pihak Gereja untuk diaplikasikan. Pertama, kegiatan evangelisasi. Dalam hal ini, Gereja harus rutin mengadakan kegiatan evangelisasi berupa kegiatan katekese, sharing kitab suci, dll., guna meyakinkan dan menyadarkan umat bahwa Tuhan pasti akan menolong mereka. Tuhan tidak pernah menaruh beban melebihi kemampuan manusia. Tatkala Gereja secara kontinual meyakinkan umat melalui pelbagai kegiatan evangelisasi ini , maka fondasi iman mereka juga pasti akan semakin kokoh dan bunuh diri akan semakin jauh dari kamus kehidupan umat Katolik di Flores.

Kedua, kegiatan ret-ret. Melalui kegiatan ret-ret, Gereja diharapkan bisa memberi siraman rohani kepada umat yang sedang dililit oleh penderitaan. Bahwasannya, Tuhan adalah dasar bagi mereka untuk berharap. Iman mengatakan bahwa harapan manusia bukanlah sebuah harapan kosong, melainkan harapan yang mempunyai dasar di dalam Allah (Kleden, 2006:325). Karena itu berjalan bersama Allah adalah basis bagi umat dalam meresistensi penderitaan, tetapi bukan dengan jalan bunuh diri.

Ketiga, Gereja (hirearkis) harus hadir sebagai sahabat yang siap untuk menjadi tempat curhat bagi umat yang ingin membagikan pengalaman pahitnya. Di sini, Gereja harus hadir sebagai sahabat yang mampu memberikan solusi dengan suntikan moral. Gereja hadir untuk memberikan penguatan bagi mereka yang kehilangan pengharapan pada Tuhan.

Keempat, membentuk komisi yang bergerak secara khusus untuk mendampingi umat yang sedang menghadapi persoalan hidup, baik dalam dukungan berupa suntikan moril maupun dalam bentuk dukungan secara materiil. Dengan adanya komisi ini, umat setidaknya merasakan bahwa Tuhan yang tak kasat mata selalu hadir dalam pergumulan hidup umat-Nya terutama lewat sesama yang ada disekitar. Terkonstruksinya cara pandang seperti ini akan menghindari umat dari tindakan bunuh diri. Contoh konkret dari komisi ini yakni Komisi Karitas yang ada di setiap keuskupan di Flores.

Editor: Pepy Dain

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button