cerpen

Butuh Banyak Rasa

Foto: Pinterest

Penulis: P. Ovan,O.Carm

Waktu itu semakin kian mengejar – larut dalam perapian
Malam jelma jadi puisi dan doa paling sunyi
Sedang rindu berbaring kekal di atas ranjang
Tinggal pigura-pigura dekil yang melampaui ingin di antara jarak yang mulai tangis
Tuhan, aku ingin menangis
Berbicara, berkali-kali jatuh dan menghilang
Lenyap di antara dahan-dahan kering yang jatuh mengatup
Apa mungkin angin tak pernah dibenci?

Aku ingin sepi
Aku ingin sendiri
Aku ingin tentram
Aku ingin puisi

Sedang di luar,
Di dalam
Ada tubuh yang kering
Aku merasa hampa
Jarak dan rindu tak tinggal kekal
Doa luruh, layu, larut diburitan air mata mengenang
Tuhan,
Aku rindu rumah-Mu yang kekal dan damai itu
Seperti seorang anak tentram dalam Rahim ibunya.

Duka Rahim Pertiwi
(Sebuah catatan tentang covid-19)

Ibu,
Rahim surga tempat kuberkelana dalam alam nan bebas
Tempat berpijak tanpa pajak yang terkira lagi karat
Indah ketika engkau menenun aku dalam bulan demi bulan
Dalam suara yang diam dalam hening tanpa kata
Membelai lembut hingga dunia semakin dekat terdengar
Hingga waktunya insan mungil itu berpijak pada dunia luas
Rahimmu merahimi dunia dimana aku dan dirimu masuk dalam pentas dunia

Ibu,
Rahim pertiwimu kini menangis dalam duka dan luka
Duka melalang buana mementaskan virus tanpa laksa
Suka hilang sesat di jagat kami berpijak
Akankah badai ini kan berlalu pada ujung usianya

Rahim pertiwi,
Rahim kandungan duka bergaung di seantero jagat
Sajak-sajak cinta dan keceriaan berubah menuju jedah dan diam
Hening, sepi meski sejenak bersuara dalam bisik tak berisik

Kini Rahim bergejolak,
Rahim merekam nyawa dalam ketakutan dan kegalutan dunia
Nafas kami hidup dalam penggal-penggalan kata yang kaku bersuara
Air mata dari bilik-bilik diam menggerutu tanpa arah
Rindu dibatasi oleh jarak yang enggan menyapa

Ingin menggenggam, memeluk namun tak diijinkan
Rasa dan hati tersiksa melukai sukma
Keriputan diri sekejam mengalirkan mata air peluh dan sakit menyengat

Ibu,
Secangkir kopi yang pernah engkau suguhi kala itu
Berkolaborasi dalam pahit dan manis tak terasa lagi
Kehangatannya tak terasa seperti sedia kala
Langit makin pekat lekat
Kabut tebal terus berdatangan
Banyak suara menangis dari kesendiriannya
Banyak nyawa pergi terlalu pagi
Terpapar nan terkapar tak menentu jalur dana rah
Belum saja jago berkokok mereka pergi tanpa kembali

Ibu,
Rahim pertiwiku
Berikan kami kembali tempat untuk hidup dalam surgamu
Bolehlah kami mengeluh tapi tak boleh mengalah
Menjadi bijak biar tak dibajak
Waspada biar sepadan
Laksana cahaya mercusuar biru menunjukan jalan
Membimbing tanpa sinar yang tampak

Tentang penulis
RP. Ovan Setu, O.Carm merupakan seorang imam karmel yang saat ini menetap dan tinggal di Rumat Retret Mageria. Beliau adalah kepada sekolah di SMP Alvarez Paga.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button