cerpen

Catatan Pendek untuk Sebuah Kenangan

Foto: Ilustrasi

Cerpen Riko Raden
Penghuni unit St. Rafael, Ledalero

Malam ini suasana di kapela begitu sunyi. Aku mengasah tajam-tajam sunyi dan membaca gejala-gejala yang tercecer di sekitarku. Gejala itu ada di wajah seorang nenek yang pernah kujumpai di masa silam. Entah kapan, aku tak ingat lagi. Aku hanya ingat wajah dan senyumnya. Sesaat nafas yang kuhirup terasa berat, seperti ikut mencekik di setiap tarikan yang kubuat. Aku coba berlutut sambil melihat salib di depan altar suci. Aku tidak bisa fokus berdoa karena aku masih ingat paras wajah seorang nenek ini. Entah kenapa malam ini dia datang tanpa diundang. “Aku tidak bisa berdoa malam ini.” Kataku dalam hati. Hening semakin nampak kesunyian. Hanya suara hati yang bising di telingaku. “Mengapa bayangan wajah seorang nenek itu kembali kuingat. Padahal sudah lama aku melupakan pertemuan itu.” Sekali lagi suara hatiku berbicara. Dalam suasana hening ditabur dengan cahaya lampu tabernakel, kupejamkan mata dan mengingatkan kembali pertemuan dengan seorang nenek ini. Kala sunyi semakin memuncak, cecak di dinding kapela berbunyi. Cik, cak, cik, cak,cik cak. Hampir satu menit aku menikmati bunyi cecak ini. Aku coba berpikir bahwa Tuhan tidak mengabulkan doaku malam ini karena suasana hati ini terbagi. Ah, Tuhan! Ijinkan aku untuk menulis kembali kisah dengan seorang nenek itu di dalam rumah-Mu ini. Aku yakin Engkau tidak marah kalau malam ini saja aku tidak berdoa bersamamu. Aku pun menulis kisah pertemuan dengan nenek itu.

Siang itu, aku baru pulang pelayanan di sebuah paroki. Cukup jauh jarak antara rumah biara kami dan paroki yang kulayani. Tapi aku sangat senang apabila melayani umat di paroki ini. Mereka begitu aktif dalam kegiatan gereja dan menyapa juga senyum kepadaku. Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan datang. Aku ingin terus melanjutkan perjalanan tapi aku berpikir lebih baik aku cari pondok atau rumah di sekitar jalan ini. Aku tidak mau dijatuhi sakit. Dari jauh aku melihat ada sebuah pondok cukup jauh dari jalan yang ingin kulalui. Tidak apa-apa asalkan aku aman di sana sebentar. Ketika aku sampai di pondok ini, aku melihat dari luar alang-alang yang sudah kusam, tidak pernah diganti. Entahlah, aku ingin menepi di dalam pondok ini. Aku coba mengetuk pintu. Satu dua kali pintu masih belum dibuka. Dalam hatiku mungkin tidak ada penghuninya. Aku coba mengetuk yang ketiga kalinya. Pintu pun dibuka. Aku melihat ada seorang nenek berdiri di depan pintu. Ia tersenyum dan mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam. Aku pun dengan senang hati masuk ke dalam pondoknya. Aku melihat di sini ia seorang diri. Ia tak lagi punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa menjadi teman hidupnya. Yang ada hanya seekor kucing sedikit kurus berjalan kian kemari tanpa peduli ini itu, apalagi peduli sama si nenek ini.

“Mari nak, selamat datang di pondokku ini,” Ia menyapaku lembut.
“Terima kasih banyak nek.” Jawabku singkat. Aku hendak menanyakan pada si nenek ini, kira-kira sudah berapa lama dia menyendiri di sini, mengapa harus menyendiri, mengapa harus di sini. Banyak pertanyaan yang ingin aku ungkapkan tetapi belum saatnya.

“Ah! Tidak masuk akal” Kataku dalam hati begitu aku melihat semua isi pondok ini. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Cuma sebuah priuk tanah yang tampak sudah lama tak terpakai, sebuah periuk aluminium yang sudah hitam arang, sebuah piring plastik yang kotor dan gelas plastik yang tak tampak bening lagi karena kotor. Dengan gelas inilah dia memberiku air. Aku duduk di atas bale-bale kecil tak bertikar. Aku coba mengeluarkan jacket dan meletakan di samping. Agak dingin memang tapi aku tidak merasakannya karena perhatianku masih berpusat pada seluruh isi pondok ini. Atap alang-alang itu sudah usur. Ada beberapa bagian sudah tercabik dan membiarkan hujan membasahi sebagian pondok ini. Kalau malam hari mungkin sinar rembulan yang menerobos masuk. Aku sempat menduga, barangkali saban malam si nenek ini sering mengintip bintang dan rembulan lewat atap yang tercabik ini. Tapi entahlah. Aku tidak tahu usia pondok ini sudah berapa tahun.

“Nak, jangan dulu pergi. Aku akan siapkan makanan untukmu.” Kata si nenek dengan nada halus.

“Terima kasih banyak nek. Nenek baik sekali.” Ujarku sambil melihat terus isi dalam pondok ini. Angin sepoi dari dataran sawah menyegarkan kulitku dan membiarkan menembus sampai aku merasa segar. Lalu kami terdiam. Aku mengarahkan pandangan kepada si nenek memperhatikan segala gerak geriknya. Kemudian aku beralih dan terus memandang isi pondok ini. Pikiranku melayang mengingat nasib si nenek ini. Sungguh malang nasib si nenek ini. Kataku dalam hati. Aku tidak berpikir lagi jam pulang ke biara. Aku ingin terus menikmati kebersamaan dengan si nenek ini dalam pondoknya. Aku mencoba menulis kisah hidupnya dan akan kujadikan sebuah berita. Mengukir kata-kata dengan baik dan berusaha mereciki kata-kata itu sesuai dengan apa yang kulihat sekarang. Mungkin ada pejabat yang tertarik dengan berita itu nanti dan sedikit memberikan sedekah kepada si nenek ini. Aku akan berusaha.

“Nek, sejak kapan tinggal di sini?” Tanyaku.
“Sejak suami meninggalkan aku. Kira-kira 15 tahun yang lalu.
“Memangnya suami nenek ada di mana?” Tanyaku lagi.

“Entahlah nak. Sekarang aku tidak tahu dia ada di mana. Tapi dulu kami sama-sama tinggal di sini. Setelah dia tinggalkan aku, tak ada kabar lagi dengan aku sampai sekarang.”
Lalu dia berdiri dan dan mengambil sebuah piring kusam meletakan di depanku. “Tunggu sedikit lagi nak.” Katanya pelan. Tak lama kemudian, si nenek datang membawa makanan untukku.

“Nak, silahkan makan. Jangan marah makanan apa ada saja.”
“Terima kasih banyak nek. Mari nek, kita makan sama-sama.”

Lalu dia mengambilkanku segelas air putih untuk kedua kalinya dan mempersilahkan aku untun minum. Sungguh dia sangat baik. Dalam keterbatasan seperti ini dia melyanai orang dengan penuh hati. Aku merasakan kesegaran air itu menyentuh bibir, lidah, leher dan sampai ke perut. “Terima kasih banyak nek. Engkau begitu mulia dan penuh kebaikan.” Kataku dalam hati. Sebelum aku beranjak dari pondok si nenek, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah menerimaku di pondoknya. Ia begitu tulus menerima kedatanganku. Walau hanya sekadar singgah saja tapi sungguh indah untuk kukenang.

Aku tak tahan ketika lolong anjing terdengar begitu mengerikan. Sebelum aku beranjak dari kapela ini, sebait kata kutulis untuk seorang nenek entah ada di mana sekarang: “Nenek, ragamu tak dapat lagi kusentuh. Senyummu tak dapat lagi kulihat. Namun, namamu dan senyummu selalu kukenang. Ketulusanmu untuk memberikan senyum dan segelas air minum akan selalu kusimpan. Namamu akan kubawa dalam doa. Terima kasih banyak nenek.”

Editor: Waldus Budiman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button