cerpen

Canda Mencandukan

Foto: Pinterest

Penulis: Alexander Wande Wegha

Canda terkapar dibibir muda
Melepas dahaga pada kemesraan hingga
Menjadi candu berkali kali
Ingin lebih lama dari selamanya

Tenunan kata menebar menembus pusara
Bermain bertatih-tatih hingga menetap pada dinding kalbu
Membawa seberkas mimpi

Yang tertahan pada kalut rindu
Tanpa ingin dicemooh waktu
Biarkan jarak mengamininya.

Romarea, 18 Juni 2019

Kata Pembawa Luka

Senja masih membukus kasih yang kemarin lupa dikisahkan
Membiar semua tertampung pada telaga keheningan
Entah ingin memadukan atau menghapus tanpa ampun
Itupun, dirimu masih terpesona dilayar kaca
Merangkai kata penghimpit dada

Jeritan luka menebar hingga menembus pusara
Bergetir menahan pedih tertikam kata
Bisanya melekat pada dinding hampa
hingga mati suri bersama waktu

Kata yang kemarin berserak menjadi huruf-huruf buta
Membias hingga menetas berulang kali
Menjalar di dalam diri
Menemun kisah yang tak tau kapan tenggelam pada keabadian.

Ende, 20 April 2020

Manis Tak Terukur

Sejak wajahmu merangkak dalam kalbuku
Aku tak lagi memadukan gula pada kopi yang engkau pesan senja kemarin
Sempurna telah tertikam hingga manis tak lagi beranjak
pada harapan dibilik layar

Pantai Ria Ende, 19 Desember 2019

Pelita Kehidupan

Keriput menggulur dikening kehidupan
Tanda cinta tanpa ampun pada darah
Disesaki perkara-perkara rumit
Namun tegar merawat lara

Menggelora dalam mimpi-mimpi tua
Seakan menebar harapan pada musim
Sebagai alur muntahnya kelimpahan
Yang ditanam oleh ketaktauan

Sang nadi dengan kencang membias tubuh
Membawa darah penumpas ketakutan
Membias hingga menetas pada ketegaran
Hingga kekal terus berderai

Senja kini semakin menghimpit
Mengikat napas pemberi kehidupan
Pada keluarga kecil disudut kota
Hingga tuntas teraminkan

Ende, 18 April 2020

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button