Puisi

Ciuman Pertama Antologi Puisi Defri Noksi Sae

Cinta

Teruntukmu yang suka buat segala sesuatu
jadi lucu dan rimba tanya.

Kuhatur syukur
atas atma nan jujur
keterbatasanku tak sebatas tutur
pun enggan kulantun mujur
sebab pahit saja yang terukur
tanpa bijak yang terkubur

pahit jejak ini
tiada menolong diri
urat nadi saling iri
saling mengebiri

dan ….

Engkau terjangkau
sepertinya resmi, dominan
datar, berujung tanya melulu
menghambat imaji, hingga detak jantung tak lagi santun

Dulu rupanya
pahit pun nyaman di perut, sang kampung tua
kini, raut datarmu merubah dunia
ingin kucari asal muasal pencipta
mungkin sungkan aku berkata
dengan berbata-bata

Aku kekurangan waktu
sebab kau telah menyita
setiap agenda rutin
lalu kau jadikan jadwal kehidupan

Mengapa aku mencintai?
mungkin cinta
dan bila cinta, jodohkanlah.

(Kefamenanu, 22 Januari 2021)

Baca Juga : Yang Meracuni Antologi Puisi Indrha. Gamur
Baca Juga : Rindu yang Sempat Riuh

Ciuman Pertama

Merekrut kata
merengkuh tata
memeluk mata
menjauhi luka

Semahal kamu
semaraksukma
semerbak selalu
si gadis bunga

Kutelanjangkan diri
menjauhi iri
kuletakkan atribut dunia
kurapikan status yang belia

Semesta menjadi juru bicara
menyampaikan makna
merambah menuju rasa
dalam sunyi juga senyap

Kita pun panjatkan harap
hanya fajar kita menatap dibalut semoga
dalam candu kutanya pada pagi
demi cinta kutanya pada senja

Dan tiba kemuliaan merekah
pancarkan kemilau penuh berkah
bukan terpantul tapi menetap
jadikan sejoli dalam sekejap

Kita memeluk pagi hingga senja
menemui bintang dan purnama
mendaki Himalaya
hingga mengarungi Mariana

Hiperbola enggan mengisahkan
pun bianglala penuh catatan
semesta tak mampu meringkas
kemesraan kita yang kian meranggas

Hingga alam terbuka menjadi saksi
bisu bersama sepoi yang jeda
dunia tak bernafas saat kita memberi atraksi
sebuah ciuman pertama, bukti cinta diperaduan galaksi.


(Ruang Gila, 24 Januari 2021)

Baca Juga : Hujan Di Pertengahan Januari Antologi Puisi Erik Bhiu
Baca juga : Bangku-Bangku di Gereja

Esa Tanoe

Pribumi di bawah langit
Kolonealisme yang bendit
Sengit pertiwi berbait-bait
Sempat terbentur berakit-rakit

Nusantara diperkosa
Tiada suka dan sentosa
Timor pun sasaran doa
Atas rempah di bumi cendana

Raja-raja terbuai kemesraan
Rakyat dibiarkan dalam lamunan
Cendana diekspor ke negeri kanal
Di bawah awan-awan tulip, negeri orange kian terkenal

Suatu ketika, di hari petaka
Senjata lantunkan gemuruh duka
Pesisir laut selatan yang terbuka
Menjelma ombak, segala pulau dan air pun berduka

Tak ingin berbohong pada atma
Saat pecah perang Kolbano
Demi nurani tanah, garuda di dada Esa Taneo
Pun bangkit bersama Boi Kapitan dan Pehe Neolaka

Seperti musim gugur
Dedaunan seolah membenci rantingnya
Tanah menjadi bisu
Melihat anak bangsa yang gugur

Dalam ketulusan sejarah mencatat
Tiga pahlawan penuh sengit
Menjaga alam pemberian Tuhan
Namamu pun harum sepanjang zaman.

Baca Juga : Perihal Rindu Antologi Puisi Ella Mogan
Baca Juga : Dalam sepi yang masih terlalu dini Antologi Puisi Yofri

(Kefamenanu, 24 Januari 2021)

Defri Noksi Sae

Defri Noksi Sae, kelahiran 27 Desember 1999, sementara menempuh pendidika S1 Ekonomi Pembangunan di Universitas Timor, dirinya suka menulis karena baginya karya sastra adalah kekekalan


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button