Puisi

Daun Di Pagar Rumahmu Antologi Puisi Fr. Blasis Prang

“Daun-daun kasih adalah ramuan 

engkau balut kala hati terluka”.

Blasis Prang

Daun di Pagar Rumahmu


Malam adalah kumpulan kenang
tentang kisah tercerai berai dari pagi
terik siang melangkah sore
lalu kita lupa senja itu di samping pagar

malam adalah cerita tentang daun-daun
yang terhempas dari ranting
lalu angin membawanya
dekat pagar rumahmu
yang menua seumur malam
di bawah terang rembulan yang tampak separuh

pergilah ke pagarmu walau sejenak saja
ada daun rindu terbang dari rembulan
tuk’ merona di mimpi malammu
hingga engkau lupa kisah nestapa
dan tidurmu adalah sebuah pelepasan
yang membuat tersenyum pada bintang kejora

daun-daun kasih adalah ramuan
engkau balut kala hati terluka

malam itu engkau pernah berkisah
kutunggu hingga fajar menjemput
daun rindu rembulan bersatu membentuk fajar harapan.

(MAKASSAR, 2021)

Baca Juga : Antologi Puisi Banera.id ( Spesial Hari Puisi Sedunia )
Baca Juga : Vita Quaerens Fabulam (Hidup harus dinarasikan)

Kaubuang Puisiku


Tentang puisi kemarin
yang engkau buang
ke tempat sampah
sudah aku temukan kembali

bait-baitnya masih sama
kata-katanya tercampur polusi
lalu sajaknya terobek-robek
dan kini harus dijahit
menjadi naskah cinta

(MAKASSAR, 2021)

Baca Juga : Kamu Antologi Puisi Maria Magdalena
Baca Juga : Dalam Doa Antologi Puisi Wandro Julio Haman

Cawan Membeku Di Ujung Luka

Aku ingin sekali meneguk secangkir anggur malam
dengan cawan kesunyian yang telah lama sepi
kubiarkan tetes-tetes terakhir menjadi darah
cawan itu terjerembab dalam kaku di tanganku
hingga anggur tua itu tak lagi tersisa
dan titik darah perlahan menjadi beku
di tanah dingin

cawan itu terjerembab kaku di tanganku
tertusuk oleh luka-luka yang menjelma awan gelap
lalu angin menjadi lirih dalam titik-titik air
jatuh bersamaan dengan cawan ke tanah basah
terdengar langkah sepi di antara daun-daun jatuh
dan pekat malam semakin larut dalam kelu
hanya aku dan diriku tanpa kamu di derai sunyi

cawan yang anggurnya sedikit kuminum
kini menyatu dengan air dari awan gelap
mengalirkan peluh dalam perih
di bibir tanah yang terbuka lebar
kusisipkan tragedi lukaku
menyatu tanpa tolak

semesta… malam ini kauajarkanku tentang sunyi
tentang rasa yang tak harus dilawan,
luka yang tak perlu dibalut dusta
kawan yang seolah baik
dan sahabat yang pergi
juga mereka yang peduli
lalu berbalik menjadi tuli
sunyi …

(MAKASSAR, 2021)

Baca Juga : Model Politik Eudaimonistik Aristoteles (384/383-322 SM)
Baca Juga : John Rawls: Keadilan Global dan Nalar Publik (1921- 2002)

Kekasihku Malam


Kekasih malam,
tengoklah jendela rumah kita
yang saban sore tak pernah tertutup
entah engkau sengaja melakukannya
agar membiarkan angin pohon-pohon gunung
memberi kita kesenyapan nafas

kekasih malam,
tengoklah halaman kita
awan gunung yang tadi ke lembah
sudah di depan pagar rumah
menyapa kita senja ini
sebentar lagi jam dinding tua kita beralih angka
dan senja itu hanya nama

kekasih malam,
bunga-bunga itu yang tumbuh liar
di sekitar rumah kita yang tak berpagar
mewangi di jam sembilan malam
lalu kucurigai engkau mengambilnya setangkai
dan di telinga indahmu mengalirlah wangi malam
seakan bulan itu sudah turun ke rumah ini
tepatnya di parasmu

kekasih malam,
lihat ke atas
mega itu menipis berarak
beda dengan kemarin
seolah mengerti cerita kita hari ini
tentang rasa yang semakin dalam
menyatu pada bukit-bukit batu
menjadi dinding kisah kita
bulan tepat di atas kepalamu

kekasih malam,
marilah tidur
beralaskan kembang cinta
agar mimpi kita tentang esok
adalah langkah kita menyatu
antara kamu, aku dan semesta.

(MAKASSAR, 2021)

 Fr. Blasis Prang, CMM adalah seorang Biarawan pecinta literasi asal Manggarai. Saat ini mengabdikan diri sebagai Pengajar Psikologi dan praktisi hipnoterapi di Makassar


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button