Opini

Devosi di Tengah Pandemi

Penulis: Antonius Mbukut
(Umat Allah Paroki St. Yakobus Wangkung)

Sejak virus korona mewabah di Indonesia, pemerintah memutuskan untuk melarang setiap kegiatan yang berpotensi mengumpulkan massa, termasuk kegiatan ibadah keagamaan. Larangan ini berlaku untuk semua agama, termasuk kegiatan perayaan ekaristi bersama dalam Gereja Katolik. Alhasil, gedung-gedung Gereja yang biasanya ramai dipadati umat untuk mengikuti misa pada Hari Minggu dan Hari Raya kini menjadi sunyi sepi.

Larangan misa pada Hari Minggu dan Hari Raya ini tentu menjadi ancaman bagi kehidupan iman Umat Allah. Umat Allah dapat mengalami kegersangan rohani. Untuk mengatasi hal ini, Gereja coba membuat alternatif dengan membuat misa secara online. Dengan demikian umat dapat mengikuti misa dari rumah masing-masing dengan memanfaatkan barang-barang elektonik. Namun apakah semua umat memiliki akses untuk mengikuti misa secara online? Saya cukup yakin, jawabannya pasti ‘tidak’.

Untuk konteks umat Katolik di NTT misalnya, banyak dari antara mereka yang tidak memiliki akses untuk mengikuti misa secara online karena keterbatasan sumber daya. Keterbatasan sumber daya itu berarti bahwa banyak dari antara mereka yang tidak memiliki barang-barang elektronik untuk mengikuti misa secara online dan juga kendati punya barang-barang elektronik, banyak dari antara mereka juga yang tidak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan barang-barang tersebut. Pertanyaannya: “Bagaimana caranya agar mereka kesegaran rohani tetap terjaga?” Menurut saya, untuk menjaga kesegaran rohani umat sederhana yang terbatas secara sumber daya, umat Allah mesti tetap menghidupi kegiatan-kegiatan devosi secara pribadi atau dalam kelompok kecil, misalnya dalam keluarga.

Devosi pada dasarnya bukan merupakan hal yang baru bagi umat di NTT. Sejak zaman dahulu, devosi sudah sangat popular di kalangan umat NTT. Mengapa demikian? Menurut saya, ada tiga faktor yang membuat devosi begitu popular di NTT.

Pertama, karena devosi membangkitkan semangat juang umat dan meningkatkan rasa harga diri umat. Semangat juang itu muncul dalam diri umat beriman karena dalam devosi umat dapat lebih bergumul secara pribadi dengan Tuhan. Dalam Misa, umat bergumul secara komunal dengan Tuhan. Hal ini tentu sangat baik. Namun, pergumulan secara komunal ini tidak menjamin 100 % bahwa umat juga akan tersentuh secara pribadi. Umat tetap merindukan pergumulan pribadi dengan Tuhan dan mereka biasanya menemukan itu dalam devosi-devosi.
Kedua, khusus di NTT, devosi sudah begitu popular sejak sebelum Konsili Vatikan II karena devosi menggunakan bahasa lokal yang dipakai sehari-hari oleh umat. Misa Kudus dan Ibadat resmi Gereja dibuat dalam bahasa Latin. Bahasa Latin tentu sangat asing bagi umat NTT. Penggunaan bahasa-bahasa lokal dalam devosi membuat umat merasa lebih disapa dan dihargai.

Ketiga, dalam devosi, umat dapat menjadi pemimpin. Mereka tidak bergantung penuh pada kehadiran imam. Dengan memimpin sesama umat, semangat keberimanan si pemimpin biasanya menjadi lebih tinggi. Ia akan merasa dipercaya dan dihargai. Dalam devosi, tidak ada kriteria khusus untuk menjadi pemimpin. Semua umat memiliki peluang yang sama. Pada situasi kekurangan imam, peran para pemimpin awam sangat penting. Devosi menjadi media aktualisasi peran para pemimpin awam tersebut. Dalam situasi seperti itu, devosi dan para pemimpin awam menjadi banteng utama yang menjaga dan menghidupi iman umat. Contohnya pada masa penjajahan Jepang, banyak misionaris yang diasingkan oleh penjajah. Namun umat tidak begitu saja kehilangan iman mereka berkat devosi-devosi yang mereka hidupi dan berkat peran para pemimpin awam atau yang lebih dikenal sebagai “guru agama”. Para “guru agama” ini dengan semangat yang berapi-api tetap setia mewartakan injil Tuhan. Bahkan ada beberapa dari antara mereka yang menjadi misionaris lokal. Contohnya para misionaris awam di Keuskupan Ruteng pada jaman dulu yang banyak berasal dari Larantuka dan Maumere.

Berdasarkan ketiga faktor di atas maka dapat dipastikan bahwa devosi akan tetap hidup dan popular di kalangan umat sederhana di NTT. Dalam situasi pandemic seperti sekarang ini, Gereja juga sudah sepatutnya bersama umat tetap menghidupi kebiasaan berdevosi ini. Namun perlu diawasi bahwa dalam pelaksanaan devosi, umat tidak boleh hanya terbuai dengan perasaan kekaguman, misalnya kekaguman pada keagungan Bunda Maria dalam devosi kepada Santa Maria atau bahkan terbuai dengan kekaguman pada penderitaan Yesus dalam devosi jalan salib. Devosi mesti menjadi motor penggerak yang membangkitkan semangat juang umat untuk melakukan gerakan transformasi di tengah realitas ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button