PuisiSastra

Di Batas Kota Antologi puisi Maria Makdalena

Kan kuajak kau ke ruang dadaku

yang berisikan fana,

di sana, akan kau temukan surga

Maria Makdalena

Tentang waktu yang terus bergulir
Siang berganti malam, zona yang terus bergerak maju.
Ah, penampakkan sempurna di sepanjang jalan kota dibaluti polusi.
Sungguh petualangan sempurna.
Gedung tinggi menjulang seakan membelah cakrawala.
Siapa sangka, di balik gedung pencakar langit itu
terdapat rentetan gubuk reot berbaris rapi sesuai letak.

Anak-anak berlarian kesana kemari,
menikmati panas dan hiruk pikuknya kota saat ini.
Tak ada yang hijau disana kawan!
yang ada hanya kelabu.
Tanpa pemerhati juga pembelaan
yang tertampak hanya senyuman pasrah
terukir manis di wajah kaum minoritas.

(Maumere,28 Februari 2021)

Baca Juga : Via Dolorosa Antologi Puisi Antonius Bi Tua
Baca Juga : CINTA VIRGINIA

Agra

Rehatlah sejenak agra.
Bukankah dirimu sudah lelah berjalan
Di luar sana masih hujan,
rehatlah sejenak agra.

Bukankah hatimu
mengeluhkan asmara yang menjelma amarah,
karena tragedi yang kau mainkan?
Rehatlah sejenak agra.

Kan kuajak kau ke ruang dadaku
yang berisikan fana,
di sana, akan kau temukan surga.
Rehatlah sejenak agra.

Sudah waktunya bagimu untuk abadi.
Rehatlah sejenak agra.
Di dalam detak jantungku ini
Telah kupahat namamu.

(Maumere,28 Februari 2021)

Baca Juga : Food Estate dan Budaya Berkerumun
Baca Juga : Perihal Rejeki Antologi Puisi Maxi L Sawung

Gadisku

Langit kembali suram, deru angin kian berhembus.
Ah, tirai ini kembali luruh.
Gadisku menari ria dibawah tirai manis ini.
Berlarian kesana kemari tanpa takut akan sakitnya jatuh
Tetesan-tetesan air jatuh lembut membelai tubuhnya yang mungil.
Gadisku tersenyum.
Ah sungguh mempesona.
Ada yang terpancar di sana.
Retinanya yang cantik bak zambrud khatulistiwa.
Napasnya kian menghangat karna dinginnya air
yang terus mengerogoti tubuh cantiknya.

Ah aku terpesona.

(Maumere, 28 februari 2021)

Baca Juga : Fragen Jingga Antologi Puisi Venansius Patrick Padu
Baca Juga : Bunga di Tepi Jalan

Dilema

Langkahnya tertatih tatih melewati seberang jalan
Ada yang mengganjal disana
Ah, rasa apakah ini mengapa enggan pergi?
Jalanan mulai sepi
Hiruk pikuk kota mulai redup
Dia kembali merunduk seraya merutuki diri.

Gelisah, takut, marah
Semuanya bergulat hebat dalam dirinya
Tak ada tawa
Semuanya suram kawan!

Ada yang hilang tapi bukan emas
Ada yang suram tapi bukan lampu beranjak padam
Semuanya tentang dilema.

(Maumere, 2021)

Maria Makdalena

lahir Pada 2 januari 2000. Saat ini tinggal di Nangahaledoi, Maumere dan sedang menempuh Pendidikan di UNIPA jurusan Psikologi

— Don Quixote

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button