Puisi

Di Bawah Alismu Rinduku Berteduh Antologi Puisi Antologi Puisi Hams Hama

Di Bawah Alismu Rinduku Berteduh

Di bawah alismu
rinduku berteduh
Bukan karena aku tak menyukai senyum,
yang engkau lemparkan dengan bibir tipis atau pun bibir seksimu
Bukan pula aku tak menyukai setiap belahan dadamu,
yang menyerupai anak domba di lembah Kidron
Bukan karena aku tak menyukai lekuk tubuhmu,
yang selalu menggairahkan tatap kedua mataku
Bukan pula karena aku tak menyukai bohai panggulmu.

Tetapi karena tatap kedua mata ini menjadi saksi
yang sama dengan bibirmu dan bibir yang lain pun ikut menyatu
Demikian setiap sembahan erotis selanjutnya
Hingga yang luput adalah alis lentik pada matamu.

Barangkali rindu yang sempat purba lekas sirna dan mencair ini
Masih layak ku teduhkan di bawah alis matamu itu.

(Ribang, 14 Januari 2021)

Baca juga : Nyanyian Hujan Antologi Puisi Wandro J. Haman
Baca juga : Elang Itu Antologi Puisi Ind Tae

Di teduh Matamu Rinduku Berpulang

Masih di bawah gerimis.
Saat angin lebih kuat menggoda dedaunan alpukat
Untuk sama-sama terpekur di atas hamparan tanah yang basah itu
Tepat ketika dua tatap kita beradu
seakan ada isyarat yang hendak menjadi siasat
Padahal tidak, selain sebuah ingatan pada kenang
yang sempat kita kekalkan di bawah janji saat gerimis empat pekan silam.

Seperti muara dua telaga
kau yang bertelaga biru muda
Dan aku yang masih bertelaga tanya
Ketika gerimis sama-sama merindu tanah dan tahu,
Betapa dedaunan alpukat merindukan peluk paling erat
agar angin tidak menyeretnya ke tempat sampah,
tatapanmu itu benar-benar teduh.
Dan aku tahu di teduh matamu rinduku penuh.

“Sayang, gerimis kali ini berbeda.
Bahkan tanpa angin.
Mari berteduh direlung hatiku…”
(Ribang 16 Januari 2021)

Baca juga : Gerimis Senja Antologi Puisi Afriana
Baca juga : Mengintip Hujan, dan Aku Berpuisi Antologi Puisi Sandro Gagu

Kamar Kosong

Lelaki itu pergi dengan sepenggal janji
ditanggalnya rindu di atas kasur kosong.
Sempat ia sematkan gelisah:

“jika pergiku tak kau temu pulang
biarkan kau kukutuk tabu”

Kamar kembali memeluk sepi
menanti ratap setiap desah dan sesah
sembari membiarkan daun jendela mengintip seisi kamar sebelah

Ditatapnya gemuruh dendam sang laki tadi
bersama puan yang menyibaknya.

Puan yang terlambat tiba itu
hanya bisa menyaksikan telaga matanya tumpah
membanjir
membanjiri
membawa setiap luka dan kenang
ketika lidah lantang berucap janji
dan telinga setia mengawasi dengan mendengar.

(Ribang, 14 Januari 2021)

Hams Hama, Penikmat Sastra dan Penyuka Kopi. Hobi Curhat dan suka menulis mimpinya sendiri setelah bangun


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button