Opini

Di Rumah Bersama Cerita Cinta Enrico

Bernardus Tube Beding
Dosen PBSI UNIKA Santu Paulus Ruteng

Hari ini, kota Ruteng, Flores yang dijuluki sebagai ‘Kota Dingin’ dirangkul oleh sinar matahari. Udara berubah wujud menjadi hangat. Berkat seruan pemerintah untuk tetap di rumah karena virus korona, saya bisa bersama keluarga dalam waktu yang cukup tak menentu. Aktivitas biasa adalah membaca dan menulis sembari memeriksa hasil tugas yang diberikan kepada mahasiswa.

Ruang kerja yang berukuran 3×3 meter pun terasa pengap. Maklum, ventilasi udara tidak lancar. Buku-buku berserakan di lantai papan. Bahkan, kertas-kertas pun berhamburan liar tak menentu. Di sudut ruang tergeletak beberapa novel.

Sejak pagi, saya berusaha menyibukkan diri di ruang kerja. Sebentar duduk, sebentar bediri. Kadang membolak-balik buku. Kemudian, mataku terpaku pada sebuah novel karya Ayu Utami. Saya berpikir, novel ini tidak asing lagi di kalangan pembaca. Mungkin para pembaca berujar, “Bosan dengan novel ini.” Benar, apalagi saya yang sudah beberapa kali membacanya. Bahkan, semua unsur karya sastranya menjadi “makanan” saya dalam berliterasi.

Namun, pembacaan saya yang sekian kalinya ini agak berbeda. Saya menulis ‘saja’ apa yang ada di pikiran ini letika selesai ‘kunya’ isi novel ini dan saya ingin membagikan ke teman-teman pembaca. Sayang kalau cuma ditulis dan disimpan di file komputer.

Prasetya Riska (Rico/Enrico) lahir di tengah gonjang-ganjing politik yang ada di Indonesia tahun 1955. Saat itu di padang sedang terjadi pemberontakan PRRI yang memaksanya menjadi bayi gerilya pada usia satu hari. Ayahnya, yang seorang letnan harus mendukung revolusi seperti yang diperintahkan komandannya. Hal itu yang membuat keluaga mereka dalam kondisi yang sulit. Bersama ibu, kakak, dan seorang pembantu, Rico mengikuti sang ayah. Waktu itu situasi keamanan sesasng tidk stabil. Pemberontakan terjadi di mana-mana. Setelah keadaan kembali normal, keluarga Rico menetap di Padang. Belum lama menikmati kebahagian bersam, meeka kembali berduka dengan kematian kakak Rico, Sanda, yang waktu itu berusia 5 tahun.

Ditengah kerinduan yang mendalam kepada Sanda, Sang Ibu pun terjerumus pada sekte terlarang, Saksi Yehova, yang percaya pada hari kiamat. Perlahan sikap ibunya yang semakin berubah. Rico merasa tak bebas. Rico kecil yang menginginkan kebebasan pun pernah terjerumus dalam pergaulan geng anak-anak nakal.

Sampai pada suatu saat Rico dewasa, ia memilih untuk kuliah di institute Tekhnologi Bandung (ITB). Rico ingin menjauh dan lepas dari ibunya. Di ITB ia menjadi aktivis pada era Orde Baru yang menginginkan tumbangnya pemerintah Soeharto pada masa itu.

Jiwa bebas Rico membawanya pada beberapa petualangan-petuanlangan yang menarik di hidupnya, termasuk dalam hal wanita. Ia sering berganti-ganti wanita atau pacarr untuk sekedar teman tidur atau memenuhi hastrat biologisnya tidak peduli status perempuan itu sudah menikah atau belum, baginya hal tersebut saling menguntungkan. Bahkan ia pun memutuskan untuk tidak menikah.

Namun, petualangan Rico bersama wanita pun berakhir saat ia pun akhirnya di pertemukan dengan sosok wanita yang mirip dengan ibunya.

Ayu Utami membawa cerita begitu dinamis untuk mengisahkan kehidupan Enrico dalam novel ini. Berawa dari masa kecil menjadi bayi gerilya, kecintaanya pada sosok ibu yang sangat membuatnya bangga, kekecewaan pada ibu yang idolakannya, kemudian penemuan kembali sosok ibunya dalam diri wanita lain. Akan tetapi, alur cerita ini terkesan tidak teratur karena terkadang bab selanjutnya menceritakan kelengkapan kisah di bab sebelumnya. Ini membuat inti cerita mejadi kurang jelas. Walaupun demikian, bahasa yang digunakan begitu berani, vulgar, dan jujur. Gagasan-gagasan dari para tokoh di cerita ini begitu berani. Misalnya saja dalam suatu bab ketika Rico berbincang dengan wanita yang tidur dengannya tentang pemaknaan sebuah agama dan aturan-aturan moral, gagasan-gagasan yang diungkapkan begitu lugas sehingga terkesan natural. Cerita menegangkan seorang bayi gerilya yang kisah kelahirannya diwarnai dengan gonjang-ganjing politik, dilanjutkan dengan munculnya sekte terlarang yang membuatnya semakin lama menjadi seorang agnostic, da kisah cintanya yang begitu unik dari Rico dan pasangannya. Dalam novel ini terdapat unsur-unsur eksotis yang cukup kenntal. Ia juga menceritakan segala kekurangan dan kelebihan laki-laki, termasuk dan segala hal-hal yang dianggap tabu seperti seks di luar nikah.

Novel fiksi sejarah. Ini lebih banyak bercerita tentang usaha pelepasan diri dari kekurangan, mencari kebebasan. Ayu Utami menghadirkan dalam tokoh Enrico yang terus bersaha membuat jiwanya lepas walaupun kehidupan masa lalu terkadang masih menghantuinya. Tak hanya itu, dari tokoh-tokoh lain pun memiliki cara masing-masing untuk bebas dari kekangan. Namun seperti apa kebebasan yang diinginkan oleh tokoh utama ini? yang pernah dilakukan oleh seorang laki-laki tanpa ragu-ragu. Melalui novel ini Ayu Utami menelanjangi laki-laki dengan segala kesopanan.

Kekurangan novel ini adalah sisi yang akan diceritakan penulis cukup membingungkan. Di bagian awal ia menceritakan Enrico dengan kondisi politik yang terjadi pada saat itu, di bagian tengah penulis mengambil sisi yang berbeda lagi yaitu berhubungan dengan agama, sedangkan pada bagian akhir ia menceritakan tentang kisah percintaannya. Selain itu tokoh-tokoh yang ada dalam cerita itu terkesan kurang konsisten dengan prinsip yang telah mereka pegang sebelumnya.

Lepas dari kekurangan-kekurangan yang ada pada novel ini dapat menjadi insiprasi bagi banyak orang, melalui cerita yagn disajikan kita dapat memetik berbagai pelajaran diantaranya semangat kebebasan dalam diri pelaku. Semangat untuk berpikir dan berpendapat.

“Indonesia harus bersyukur punya perempuan yang dengan segenap kesopanannya menelanjangi lelaki samapai keakarnya,” itulah kutipan komentar dari Butet Kartaredjasa pada novel ini. Tetap pada ciri khas karya Ayu Utami, yaitu memasukkan kisah-kisah bersejarah, demikian pula pada novel “Cerita Cinta Enrico” yang diangkat dari kisah nyata. Selain karena sampul yang sederhana namun elegan, kata-kata dibagian belakang novel ini pun begitu menarik dan membuat orang penasaran akan cerita yang ada di dalamnya. Melalui novel ini Ayu Utami menceritakan sebuah kisah nyata seorang anak bernama Prasetya Riska (Rico/Enrico) yang tidak lain adalah suaminya.***

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button