cerpen

Dia Pergi Untuk Panggilan-Nya

Ilustrasi: Januan.id

Oleh: Alfriana

Senja kali ini tak seindah kemarin. Ini akibat air mata yang bercucuran selama beberapa hari. A.hh…Ini tentang rindu yang terlalu menusuk raga. Kian hari kian membelenggu diriku. Sakit memang sakit, hatiku seperti tertusuk jarum-jarum kecil.

“Tuhan ini terlalu menyakitkan, mengapa harus aku dan aku dan aku?” guman gadis 21 tahun itu.

“Anna”, tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku dari belakang. Aku menatap beberapa saat, Lelaki itu kembali.

“Jho” dengan senyuman hangat ku jawab panggilan itu.

“Anna” dia kembali lagi bersuara, senyuman dan sapaan halus dari mulut itu yang membuatku tak bisa beralih darinya.

“Kenapa Anna ?” Lelaki itu kembali bersuara. Aku hanya bisa mengangguk sambil menangis. Suasana menjadi hening. Hanya ada suara angin dan ombak yang mewarnai suasana di sore hari ini.

“Jho, kamu belum berangkat? Bukankah kamu harus masuk esok ya? Terus kenapa kamu masih ada di sini? Suaraku memecahkan keheningan pada saat itu.

“Aku berangkat esok Anna, dan aku harap kamu kuat dengan keputusan yang aku ambil ini” Jawaban Jonathan.

Hal ini semakain membuatku hatiku sakit. Sebenarnya aku tak berhak menangisi kepergiannya, tapi bagaimana dengan persaanku saat ini ? Apakah hubungan tiga tahun yang di rajut dari masa SMA harus berakhir seperti ini? Aku memang kuat tapi kali ini salib itu rasanya berat sekali, tidak sama dengan salib yang ku pikul sebelumnya. Sulit untuk beralih, dan mencari orang lain sebagai pengganti.

“Baiklah, aku siap” Jawaban singkat dan tegas namun tak setegar hatiku yang hancur dan remuk.

Hari demi hari ku lalui tanpa kehadirannya, entah mengapa aku belum bisa beranjak dari masa-masa indahku bersama Jhonathan.
Memang Dia yang membuatku seperti ini. Apakah aku harus mempersalahkan diriku atau persaanku.

Bukankah aku harus mengiklaskan kepergiannya? Bukankah ini demi kebaikannya dan kebaikanku pula? Ini bukan salah siapa-siapa, ini demi kebahagiannya, iklaskan, aku kuat. Aku menulis sebuah puisi tentang kepergiannya. Mungkin dengan cara ini, rindu yang menggebu perlahan-palan berkurang.

Beberapa bulan kemudian, Jhonathan kembali memberi kabar karena telah melewati masa persiapan. Sebelumnya dia tidak menggunakan handphone. Selain karena komitmen juga aturan di seminarinnya. Maklum sebelum masuk ke dalam biara proses yang mereka lalui sangatlah rumit dan ketat, termasuk salah satunya adalah para peserta tidak boleh memegang alat komunikasi.

Jika ingin memberi kabar, harus meminta kepada pemimpin biara, agar boleh di pinjamkan alat komunikasinya, walaupun hanya sekedar mengetahui kepada orang tua.

Saatnya telah tiba. Aku di undang ke biaranya karena akan ada pemberian jubah kepada para calon Biarawan. Katanya, Jonathan tidak akan bahagia jika aku tak datang. Sebenarnya aku belum siap, sebab aku belum tulus menerima kenyataan seperti ini. Jhonathan menerima jubah dengan senyuman yang tulus, itu tandanya dia bahagia. Dia menatapku dengan senyuman yang indah, rasanya bahagia namun masih bercampur dengan rasa sakit.

“Ah Tuhan Jubah Itu” Gumanku sendirian.
“Anna, terima kasih banyak. Terima kasih karena kamu hadir, dan itu tandanya kamu mendukung. Sekali lagi terima kasih.” Kata-kata itu keluar dari mulut Jhonathan.

Entah apa yang terjadi aku lansung memeluknya, tetapi pelukan itu tak seindah seperti dulu lagi, saat bersama-sama mentap senja di dermaga, dan melihat bintang saat malam telah tiba.

“Selamat yah Jho, Aku harap kamu selalu bahagia, dengan apa yang kamu pilih sekarang. Kamu tahu, aku mendukungmu, Jika kamu bahagia, maka aku akan lebih bagaia”.

Kata-kata itu keluar dari mulutku, sejenak aku ingin melihat Jhonathan bahagia saja. Itu saja tidak lebih
Ah Tuhan Ini menyakitkan. Sungguh menyakitkan. Jho salahkah aku cemburu pada Tuhan tentang Jubahmu ?

*Mahasiswi UNIKA Ruteng

Artikel Terkait

Komentar

  1. Puisinya sangat bagus. Hanya ada yang lupa. Pada bait ke 3 dr bawah “mentap” atau “menatap”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button