Puisi

Diskusi Sabda Pada Waktu Petang Antologi Puisi Epi Muda

Aku rindu mencicip tubuhmu dan darahmu di bukit Kalvari
di setiap perjamuan abadi di kapel tua kampungku

(Epi Muda)

Aku Rindu

Aku rindu mencintaimu dengan sederhana
seperti aku menjahit luka yang kau titipkan pada keempat lilin adven ini
Aku rindu menghapus air mata ibumu dengan lantunan sabda
yang aku pungut dari ayat-ayat alkitab yang pernah kubaca
Aku rindu mencicip tubuhmu dan darahmu di bukit Kalvari
di setiap perjamuan abadi di kapel tua kampungku
Aku rindu berjaga bersamamu sampai keempat lilin adven ini di bakar habis
Itu adalah aku yang masih dalam pelukan rindumu
meski dosaku selalu menodai kasut yang kau kenakan.

(Unit Gabriel, 2020)

Baca juga Menawar Tangis Hujan Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Diskusi Sabda pada Waktu Petang

Angin rindu terus menghempas jejak yang bersajak dalam kening
Sejenak nafas tergesa-gesa mengemas kidung-kidung indah
dalam setiap ayat-ayat alkitab mulai dari kitab kejadian hingga wahyu
dan kesucian dari ayat-ayat alkitab adalah suara Tuhan
lewat roh yang mengilhami manusia adalah simfoni sajak yang menarik dan tertarik
senyum-senyum unyu yang bertaburan waktu petang itu
membelai mesrah menenun beribu makna
Ayat-ayat alkitab itu sedang menghapus gerimis serakah dalam dada
sehabis meniduri diri dalam rumpunan kata-kata manis
dan lunaklah waktu petang yang penuh goresan luka kebencian, dendam dan lainnya.

(Unit Gabriel, 2020)

Baca juga Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Malam Penuh Covid-19

Jendela kamarku penuh debuh melekat
Suara bising selama ini di tengah kota meredup di telan suasana
Hanya tangisan burung-burung yang sedang lapar terdengar rayup-rayup
Selama ini merayap entah dari mana sampai mana
Akhirnya hanya merayap di jenedela kamarku di temani desahan nafas dan suara ngorokku
Setiap lembaran buku dipenuhi air liur dan keringat karena tak ada tempat
untuk menyimpan rindu
Rindu seakan ditelan Covid-19
Dibalik semuanya ada puisi yang terus membasahi waktu di setiap lembara buku
entah itu sajak bertuan atau tidak
Selebihnya Covid-19 sedang memeluk malam penuh tragedi sunyi di ujung mimpi.

(Unit Gabriel, 2020)

Baca juga Ranjang Yang Selalu Kubuat Basah Antologi Puisi Indrha. Gamur

Penulis Epi Muda, sekarang tinggal di unit Gabriel. Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button