Opini

Divina Commedia: Grazie Dantev (700 tahun Dante Aleghieri)

Penulis : Felix Baghi SVD Dosen Filsafat di STFK Ledalero

Ceceran refleksi ini bertujuan mengingat Dante sebagai “nabi harapan dan penyair belaskasih.” Ingatan ini lebih khusus lagi berkenaan dengan perayaan ulang tahun Dante yang ke 700. Julukan nabi harapan penyair belaskasih diberikan oleh Paus Francis baru-baru dalam pesta Maria menerima khabar sukacita.

Tentu julukan ini berkenaan dengan maha karya Dante “Divina Commedia.” Membaca “Divina CommediaDante Alighieri dalam versi bahasa Italia klasik tidaklah gampang. Butuh banyak kesabaran untuk menyelami rahasia dan kekayaan puitis serta metafora yang luar biasa dari Dante Alighieri itu.

Hingga kini, karya klasik versi asli itu masih bertengger di rak buku saya di kamar nomor 25 ini. Namun setelah mendengar komentar Paus Francis pada pesta Khabar Sukacita tentang Dante, saya tergoda dan terganggu untuk menyambung kembali bacaan “Divina Commedia,” sebuah buku usang seharga 3000 lire yang pernah dihadiahi oleh konfrater SVD, Romano Gentili pada tahun 2002.

Baca Juga : Senja di Pantai Hatimu Antologi Puisi Wandro Julio Haman
Baca Juga : Hermeneutika Diri : Sebuah Jalan Yang Panjang

Hal menarik bahwa pada hari ulang tahun Dante yang ke 700, Paus Francis memberi Dante julukan “nabi harapan dan penyair belaskasih.” Memang pada bagian awal “Divina Commedia” tepatnya frasa pertama dari Inferno, Dante mulai dengan pernyataan paling menarik “nel mezzo del cammin di nostra vita …” artinya “di tengah perjalanan hidup kita … ya perjalanan dengan penuh harapan menuju keabadian.

Divina Commedia” adalah “poema sacro” yang menghantar perjalanan semua manusia yang penuh harapan menuju Firdaus keabadian. Perjalanan itu berawal dari “Inferno” yaitu neraka melewati “Purgatorio” sebagai peristiwa penyucian, lalu berujung dan memuncak pada “Paradiso”, Firdaus abadi.

Baca Juga : Eksistensi Generasi Milenial
Baca Juga : Bersyukur Antologi Puisi Frumend Oktavian. M

Perjalanan penuh harapan ini menggambarkan suatu tahapan kerohanian yang berujung pada kemenangan kasih. Karena itu pada bagian akhir dari Paradiso, Dante menutup dengan sepotong puisi indah: “l’amor che move il sole e l’altra stelle” yaitu kasih yang menggerakkan matahari dan bintang-bintang di angkasa. Kasih itu abadi.

Bukan kebetulan, dan boleh jadi, Dante mengerti dengan sangat baik metafisika Aristoteles khususnya dalam buku ke 12 yang berbicara tentang “motore immobile” sebagai akal budi Ilahi yang menggerakkan segala unsur semesta ini.

Baca Juga : Lika-Liku Kentut
Baca Juga : Peran Media dalam Menjaga Persatuan

Menurut Aristoteles, substansi Akal budi Ilahi itu (NOUS) adalah kasih karena memang kesukaanNya adalah dinamisme gerak abadi, baik gerak di dalam dirinya (Causa Sui) maupun penggerak utama yang menggerakkan seluruh unsur semesta (Causa prima). Gerak abadi ini tak pernah berakhir.

Bagi Dante, sama seperti Aristoteles, akal budi Ilahi atau Allah telah meninggalkan kasih, dan kasih itu menggerakkan tata semesta ini hingga keabadian.

Kita sebagai manusia, yang merupakan unsur kecil dari tata semesta ini, semestinya selalu digerakkan oleh kasih untuk saling memperkaya karena sumber dari mana kita datang adalah kasih, dan tujuan ke mana kita pergi adalah juga kasih. Benarlah kata-kata Santo Yohanes bahwa “Deus Charitas Est.” Barang siapa yang tinggal di dalam kasih, ia adalah anak-anak Allah.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button