Opini

Fenomena Pembunuhan, Matinya Hati Nurani dan Penyangkalan Alteritas

Ilustrasi: fajar

Oleh: Ewaldus Heriyono Meo

Telah sekian lama, Imanuel Kant seorang filsuf kondang asal Jerman dalam filsafat etika, menegaskan bahwa etika filosofis tidak hanya membantu manusia untuk menyuluhi kesadaran moral dalam mempertanggungjawabkan persoalan yang sangat sulit tetapi etika juga membantu manusia untuk mencari alasan mengapa suatu perbuatan itu harus dilakukan atau justru tidak boleh dilakukan.

Etika tidak saja menjawab pertanyaan apa yang harus saya lakukan, melainkan juga pertanyaan mengapa harus saya lakukan sesuatu (K. Bertens, 2003:9). Gagasan Kant tentang peran etika kemudian memunculkan suatu pertanyaan berkaitan dengan fenomena pembunuhan yang justru menjadi persoalan utama dalam kehidupan manusia dewasa ini. Apakah etika filosofis Kant ini masih diterapkan dalam kehidupan manusia saat ini?

Jawaban yang pasti atas pertanyaan ini adalah tidak. Ironisnya, dalam kehidupan manusia sekarang masih menemukan beragam prilaku manusia yang tidak dapat diterima oleh akal sehat salah satunya kasus pembunuhan. Pembunuhan adalah suatu tindakan menghilangkan nyawa seseorang. Artinya hak orang lain untuk hidup dirampas begitu total, sehingga si pemilik hak menghilang bersama dengan haknya.

Letak perbedaan antara tindakan pembunuhan dan perbuatan imoral lainnya adalah pada destruktivitasnya total. Pembunuhanlah yang paling besar destruktifnya di antara semua kejahatan lain. Berbeda dengan konteks kejahatan imoral lain seperti pencurian. Yang paling penting pelaku bisa mengantikan barang milik orang lain dengan barang yang sejenis atau dengan uang. Namun dalam konteks pembunuhan, pemulihan kembali atas hak, permohonan maaf dan pemberian ampun tidak pernah mungkin lagi.

Matinya Hati Nurani

Hati nurani sering juga disebut sebagai suara hati atau suara batin dalam Bahasa Latin disebut “concientia”, yang dalam bahasa Indonesia berarti kesadaran. Kesadaran yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengenal diri dan kesanggupan untuk membuat refleksi yang matang sebelum melakukan sesuatu. Tindakan mendengar hati nurani sebetulnya merujuk pada suatu refleksi yang perlu dilakukan oleh manusia atas segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

Refleksi perlu dilakukan agar manusia tidak terjerumus dalam berbagai kejahatan yang dapat membahayakan dirinya sendiri dan sesama. Dalam hal ini, benarlah apa yang dikatakan oleh Sokrates bahwa hidup yang tidak pernah direfleksi tidak layak untuk dijalani. Tindakan pembunuhan terjadi karena manusia tidak merefleksikan kehidupannya.

Peristiwa pembunuhan terjadi karena manusia tidak mau mendengar apa yang dikatakan hati nurani. Hati nurani mengajak manusia untuk melakukan refleksi yang mendalam akan eksistensinya di dunia ini. Hati nurani atau suara hati menyadarkan manusia akan pentingnya refleksi akan setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

Lebih dari itu, hati nurani juga menyadarkan manusia akan pentingnya membuat pertimbangan yang matang dan bijak sebelum melakukan sesuatu.
Lalu pertanyaannya adalah mengapa harus mengikuti hati nurani atau suara hati sebelum melakukan sesuatu?

John Henry Newman pernah mengatakan bahwa suara hati adalah suara Tuhan sendiri. Dan manusia yang tidak mendengarkan suara hati berarti manusia yang tidak menghargai Tuhan sebagai Sang Pencipta. Demikian halnya dengan pelaku pembunuhan. Pelaku pembunuhan secara tidak langsung berarti membunuh Tuhan yang hadir dalam diri manusia melalui hati nurani atau suara hati.

Dan di sini kita dapat melihat betapa naifnya perbuatan pelaku pembunuhan. Kasus pembunuhan bisa dikategorikan dalam satu jenis kejahatan kemanusian terbesar (crimes again humanity) Sebagai suatu bentuk kejahatan dan pelanggaran moral yang paling besar.

Tindakan pembunuhan ini harus dicegah dan diatasi agar tidak terus-menerus terjadi dalam lingkungan masyarakat. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya tindakan pembunuhan itu adalah dengan mendengarkan dan mematuhi hati nurani atau suara hati sekaligus melakukan refleksi yang dalam atas segala aktivitas yang kita lakukan.

Penyangkalan Alteritas

Menurut Levinas penyangkalan alteritas itu terjadi karena ada kontradiksi. Dalam kontradiksi ini di satu pihak si pembunuh menemui korbannya. Secara tidak langsung ia mengakui korban sebagai orang lain dan sebagai sesama manusia. Tetapi di lain pihak, ia menyangkal bahwa dia sebagai orang lain karena itu ia tidak segan-segan mencabut nyawanya.

Kontradiksinya si pembunuh mengakui orang lain sebagai “engaku” tapi serentak juga ditambahkanya “engkau tidak boleh hidup” tidak ada tempat untukmu di dunia ini”.

Orang lain katanya tampak sebagai wajah yang menyapa saya. Jadi, wajah itu yang menghimbau saya, mengatakan apa yang harus saya lakukan, menunjukkan kewajiban saya terhadapnya.

Penampilan “wajah” yang menyuruh saya menghormati dia dan inti dari himbauan wajah itu kepada saya adalah jangan “membunuh”. Sebagai pembunuh saya jatuh dalam kontradiksi, karena saya mengakui korban sebagai orang lain.

Peristiwa pembunuhan adalah jenis kejahatan kemanusian terbesar (crimes agaih humanity) dalam dunia saat ini. Pembunuhan merupakan kejahatan tebesar karena dalam pembunuhan itu hak seseorang untuk hidup diambil dan dihancurkan sehingga tidak bisa dipulihkan kembali.

*Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Biara Rogationist, Maumere.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button